20/01/13

Cermat Konsumsi Singkong


Singkong biasa disebut juga ubi kayu atau ketela pohon, ini adalah salah satu makanan pokok rakyat Indonesia dan sekarang singkong sudah naik kelas hasil olahan singkong sudah beragam. Singkong memang akrab di lidah kita, mulai di rebus di goreng plus bumbu mentega diolah jadi combro dan misro, semua sama enaknya. Kalau suka yang manis masih ada getuk. Getuk kini juga diolah dengan memiliki berbagai rasa seperti rasa gula merah, moccacino, vanilla, sampai rasa keju, enak dan murah. Gak heran kalau singkong jadi makanan rakyat dan digemari banyak orang.

Sekian banyak olahan singkong kripik singkong memang jadi favorit. Meski singkong sudah akrab banget di lidah kita, singkong bukan tanaman asli Indonesia, umbi akar yang bernama latin manihot utilissima ini pertama kali dikenal di Amerika Selatan di kembangkan di Brasil dan Paraguay pada masa pra-sejarah lalu di abad ke-16 saat penjajahan Portugis tanaman berdaun lebar ini pun ikut hijrah ke Indonesia. Biarpun sering di cap sebagai makanan kampung tapi karbohidrat singkong jagoan untuk menghasilkan energi. Bahkan umbi gurih ini sering dipilih jadi alternatif makanan pengganti nasi dan untuk orang yang lagi diet.

Dibandingkan nasi indeks glikemik singkong lebih rendah, jadi sah-sah saja kok konsumsi singkong sebagai pengganti nasi tapi ingat ya tetap harus di imbangi dengan sayuran dan daging. Soalnya singkong miskin protein. Singkong juga punya manfaat untuk memperlancar pencernaan, berkat kandungan insoluble fiber atau serat yang tidak larut dalam air. Proses buang air besar jadi lancar jaya, bahkan mampu menyerap dan membuang toksin (racun) dalam usus. Jadi selain mengandung karbohidrat sebagai sumber energi, singkong juga lebih tinggi kandungan seratnya dibandingkan dengan beras. Jadi singkong bisa kita manfaatkan untuk sumber serat bagi tubuh kita. Serat sendiri punya manfaat untuk penurun kolesterol dan untuk kelancaran BAB kita. Gak ada salahnya kan makan singkong sebagai pengganti nasi.

Tapi hati-hati ya kalau membeli olahan singkong katanya seh beredar olahan singkong yang di bubuhi pewarna kimia berbahaya. Singkong memang tanaman serbaguna dari daun, umbi sampai batang tanaman ini bermanfaat. Singkong alias cassava ini kaya akan antioksidan bisa jadi anti kangker. Meskipun begitu gak ada yang tahu kalau ada racun di dalam singkong yaitu sianida. Di dalam singkong, terutama Varietas Sao Pedro Patro, baik pada umbi maupun daunnya mengandung glikosida cayanogenik. Zat ini dapat menghasilkan asam sianida (HCN) atau senyawa biru yang bersifat sangat toksik (beracun). Umbi dan daun singkong yang mengandung racun biasanya ditandai dengan rasa pahit dan baunya langu.

Bagian yang dimakan dari tumbuhan singkong atau cassava ialah umbi akarnya dan daunnya. Baik daun maupun umbinya, mengandung suatu glikosida cynogenik, artinya suatu ikatan organik yang dapat  menghasilkan racun biru atau HCN (cyanida) yang bersifat toksik. Zat glikosida ini diberi nama Linamarin. Penyebab keracunan singkong adalah asam cyanida yang terkandung di dalamnya. Bergantung pada jenis singkong kadar asam cyanida berbeda-beda. Namun tidak semua orang yang makan singkong menderita keracunan. Hal ini sisebabkan selain kadar asam cyanida yang terdapat dalam singkong itu sendiri, juga dahulu di dalam air dalam jangka waktu tertentu, kadar asam cyanida (HCN) dalam singkong akan berkurang oleh karena HCN akan larut dalam air.

Sianida ternya berbahaya kalau tertelan manusia soalnya sianida bereaksi mengikat O2 atau oksigen dalam darah ujung-ujungnya memicu keracunan dengan gejala pusing, mual, dan sesak nafas. Jangan panik dulu ya sebab sianida yang berbahaya itu cuma ada di jenis singkong karet, soalnya ditanamnya bertahun-tahun sebelum di panen. Gampang kok mengenali singkong yang mengandung asam sianida, sedikit warna biru. Meski sudah di olah sianida masih tetap terdeteksi soalnya rasanyan pahit banget. Selain sianida masih ada singkong yang harus di waspadai, kabarnya banyak olahan singkong yang diberi bahan tekstil. Masih ingat kan bahaya rhodamine b jika sampai tertelan tubuh manusia, jika terakumulasi zat warna tekstil ini bisa mengganggu ginjal dan lifer bahkan bisa memicu kangker.

Makanya daripada beli cemilan warna-warni mendingan buat sendiri di rumah, tapi hati-hati ya mengolahnya,  sebaiknya singkong jangan dimakan mentah, kadang-kadang anak-anak suka mengkonsumsi singkong mentah sebaiknya di hindari karena mungkin masih ada kandungan sianida yang agak tinggi. Untuk menguranginya sebaiknya dilakukan pengolahan, mulai dengan pencucian pada awal, kemudian direbus atau dikukus mungkin kalau direbus kandungan sianidanya akan banyak hilangnya. Melalui pengolahan seperti itu kandungan sianidanya sudah banyak berkurang. Cermati sebelum mengkonsumsi akan lebih bijak, karena mencegah lebih baik daripada terjadi hal-hal yang merugikan diri kita sendiri.










1 komentar: