06/08/15

Tempat Menyepi yang Aman

Secara tak terduga ataupun direncana sebelumnya, di bulan februari awal aku datang ke kelenteng Sam po kong setelah sekian lama tak datang kesini. Aneh juga jika dipikir-pikir awal cerita pergi ke kelenteng sam po kong hanya ingin main, seperti ada desakan untuk ke tempat ini dan setelah beberapa kali gagal akhirnya hari itu sampai juga datang kesana, sendirian pastinya.


Bulan februari tahun ini sepertinya menjadi bulan terberatku, rasa kehilangan, cemburu, uring-uringan sekaligus galau juga dilema menjadi satu. Datang kesana untuk mencari ketenangan, ga tau juga kenapa memilih kelenteng sampokong yang aku pikir hanya di tempat ini yang tiket masuknya murah dan aman dibanding aku kongko di pinggir jalan atau tempat lain yang belum tentu nyaman. Ketika kaki melangkah masuk kedalam area kelenteng rasanya adem.

Di sana aku hanya duduk di bangku merah yang ada di bawah pohon sambil mendengarkan musik mp3 dan mencoba menjabarkan pekat dalam otak dalam barisan aksara. Meskipun banyak orang yang mondar mandir namun tak pernah sekalipun aku terusik dengan kehadiran mereka. Sepertinya aku sudah punya dunia sendiri hingga tak mempedulikan mereka. Sekedar duduk-duduk dibangku panjang warna merah itu sudah cukup membuat pikiranku yang kalut perlahan mengendur... mengendur hingga yang aku rasakan teduh dan nyaman. Aku menyukai tenpat ini.

Entah sudah berapa kali aku datang ke tempat ini di tahun ini, bahkaa tak jarang tiap hari bisa aku datang ke tempat ini ketika pikiran lagi kacau dan ada waktu luang. Di tempat ini benar-benar aku mendapatkan ketenangan sepenuhnya, selama aku berada dalam dilema akut yang aku sendiri pun tak mengerti jalan pikiran dan apa yang menjadi permasalahan hingga membuat aku kacau. Ketika bersih-bersih tas tanpa disengaja mendapatkan lembaran karcis yang tersimpan di salah saku kecil, memang ada beberapa karcis yang masih tersimpan dan banyak juga yang sudah terbuang.

Seperti candu, terbiasa menyepi di tempat ini ketika sedang puyeng, menenangkan diri atau bisa dibilang ngademin pikiran. Bersantai, mencari inspirasi lalu corat coret menuangkan apa yang menjadi pikiran dalam sebuah tulisan. Air mineral dan jajan, biasanya seh beng-beng namun seiring waktu jajan yang aku bawa berfariasi.

Kali ini pulang kerja mumpung masuk pagi, sebelum pulang menyepi dahulu di kelenteng sampokong. Berhubung pengen cilok, mampirlah ke penjual cilok dan meluncur ke kelenteng sampokong.  Duduk di bangku baris pertama, mengeluarkan bekal, bolpoin dan kertas meneruskan coretan di kantor yang belum selesai, sambil menikmati cilok, air mineral dan tak lupa aerphone di telinga. Oh ya ada juga biskuit yang aku bawa dari rumah. Kebiasaan buruk menyetok makanan dirumah yang tak jarang aku gunakan untuk bekal untuk dimakan di kantor, di sela-sela pekerjaan.

Dan tadi siang menjelang sore aku kesana lagi, kali ini bekal beda lagi yaitu onde-onde mungil yang aku beli ketika mampir di toko buku sebelum ke kelenteng sampokong. Coretan, jajan, dan mp3 lengkap bukan..., tapi sayangnya kali ini aku gagal menyepi. Bukan karena tempatnya ramai ( memang hari ini lebih rame dari hari biasanya pas aku kesana) namun otakku masih jalan-jalan ke banyak tempat, entah rumah siapa saja yang di datanginya sampai-sampai membuat kepalaku nyut-nyutan. Aku tak mampu menerjemahkan pikiranku dalam bait kalimat, kata yang sudah terteta rapi, alur yang sudah tersusan semuanya berantakan terombang-ambing oleh angin yang datang.
Baru kali ini sampokong tak memberiku kenyamanan pikiran.

Sedari awal hanya ngemil sambil dengerin mp3, tak ada coretan yang bisa aku buat. Tak sampai menunggu senja menyingsing kembali keperaduan, mendung yang membuat jingga enggan menunjukkan kecantikannya senja terbuai hangat peluk awan yang berwarna abu-abu. Rasa-rasanya ada orang yang mendekat dan berdiri di belakangku..., ini terjadi beberapa kali. Sedikit horror ya, hiiiiii.... malas aaah, kalau sudah begini pilih kabur dah, pulang adalah pilihan terakhir dan aku pun beranjak meninggalkan bangku merah namun ingat jangan pergi meninggalkan sampah, buang sampah pada tempatnya. Bukannya takut tapi rasanya belum siap dengan hal-hal seperti ini, ya aku tau jika sosok yang mendekatiku itu baik beliau menyapa sekedar berbincang denganku, hanya ingin menemani saja tak mengganggu, akan tetapi manggil-manggil seperti waktu itu sampai dibuat bingung hilang konsentrasiku. Makanya milih pulang saja lagian juga sudah sore, kebetulan tadi belum pamitan jika pulang kerja mampir 'menyepi' di kelenteng sampokong.

Sudah beberapa kali aku mengalami hal seperti ini, pada hal di awal-awal kesini ga ada firasat ataupun yang tampak aneh, cuma akhir-akhir ini saja aku di bayang-bayangi oleh sosok yang suka muncul di belakangku. Aku menangkap sosok seorang pria dewasa yang gagah dan tampan, kadang manggil-manggil tapi kemunculannya yang tiba-tiba sering membuat kaget. Pernah dalam perjalanan pulang aku bertanya dengan diriku sendiri siapa sosok yang sering mengagetkanku dari belakang ketika berada di kelenteng sampokong dan dalam pikiran seperti ada yang bilang jika ia sosok yang ada di dalam patung yang ada disana tapi entah beliaunya sendiri atau penjaganya juga kurang tau. Ada gambaran yang terlihat nyata di otakku. Andai bisa berkonunikasi mungkin akan aku tanyakan siapa ia sebenarnya, tapi seram ga yaa....

Orangnya terlihat baik, berwibawa, kulitnya putih dalam ukuran cowok, sering tersenyum tanpa berkata apa-apa, baik, dan melihatnya teduh adem rasanya tapi ya sedikit merinding juga mungkin karena belum terbiasa namun apakah benar ia sosok yang ada dalam patung yang ada disana... 



★Ell

05/08/15

Sendal Tali Pink

Bila mau tidur jangan lupa berdoa. Sebuah himbauan yang tentunya sejak kita masih kecil sudah diajarkan oleh orang tua dengan tujuan agar ketika tidur tidak bermimpi yang aneh-aneh.

Sepertinya aku tadi enggak berdoa sebelum tidur lagi setelah sholat subuh. Aku mimpi sedang pergi bareng-barang dengan teman kantor ga tau tujuan ke mana namun waktu itu aku satu mobil dengan Prima, Esti, bu Rena dan satu orang pria yang berperan sebagai sopir. Naik mobil bagus warna hitam dan di tengah perjalanan mobil kita berhenti, naluri sebagai seorang cewek yang suka selfi kami pun turun dan dan berfoto-foto hingga mobil yang kita tumpangi meninggalkan tanpa menunggu kami berlari mengejar namun yang mampu kembali ke mobil hanya bu Rena sedangkan yang lain kempis-kempis kecapek-an hingga akhirnya menyerah, menunggu mobil rombongan yang lain lewat tapi ga sabar nunggu hingga kita memutuskan untuk naik becak. Tidak ada kehawatiran malah kami menikmati perjalanan diatas becak yang kita naiki bertiga.

Melewati jalan perkampungan yang sempit kami masih sempat berfoto-foto. Prima yang ingin berfoto bersama namun ga mau mengambil hp nya sepertinya memang ga ingin menggunakan hpnya dan memintaku untuk meminjamkan hpku padahal hp kita sama namun tetap saja dia ga mau menggunakan hpnya, begitu juga aku yang ga ingin hpku digunakan orang lain hingga memberi usul untuk menggunakan hpnya Esti. Tapi tetap saja berujung hp ku yang aku kasih ke Prima dan mulai berfoto bersama. Baru satu jepretan mata kita sudah di suguhkan oleh pemandangan di samping kanan dimana anak-anak lagi bermain. Begitu bahagia, lalu aku ingin mengambil foto anak-anak yang lagi bermain di jalan dan beberap anak yang ada di teras rumah. Namun hp ku kan di bawa Prima sedangkan di minta tidak boleh dia yang akan mengambil gambar anak-anak itu namun rasa tidak puas dengan hasil fotonya selam ini lah yang akhirnya dengan tanpa ijin mengambil hp prima yang ada di tas ransel. Ga sulit nyarinya karena tas itu tepat berada disampingku aku mengambil hp namun ketika tangan baru masuk ke tas tiba-tiba kantong luar pembungkus tas robek berantakan sepertinya sudah lama banget hingga jika tersenggol sedikit akan hancur. Mungkin ini alasan ga mau menggunakan hpnya, takut plastik luarnya hancur.

Hp pink. Sedikit heran juga antara ingin mengembalikan tapi ingin memotret momen indah yang jarang di jumpai. Tanpa sepengetahuan Prima aku mengambil foto pemandangan di sekitar beserta tingkah polah anak-anak kecil yang menggemaskan. Prima masih asik mengambil gambar dengan arahan Esti. Aku hanya mengambil beberapa gambar lalu menaruh hp pink itu kembali ke tas.
Esti : "Anak-anaknya ngegemesin"
Prima : "Iya lucu-lucu"
Esti : "Itu yang sebelah sana cepet foto in, aku suka dengan anak kecil"
.........
Pembicaraan mereka seperti dialog yang tak bisa berhenti sambil sibuk foto sana sini. Setelah mengambil beberap foto aku pun menaruh kembali hp pink itu ke tas tapi melihat plastik pembungkus yang sudah lapuk kini berantakan hingga isi di dalamnya terlihat semua aku pun menegur dan memberitahu ke pemilik tas namun bukan terkejut atau mengumpulkan isinya malah cuek saja membiarkan semuanya berantakan. Esti yang melihat pun ikut berkomentar sambil memunguti melihat temannya itu disanalah jiwa Prima tergerak dan ikut mengambil barang-barang yang berantakan di luar untuk di pindahkan ke saku yang lain.

Pak berhenti tiba-tiba menyuruh tukang becaknya berhenti dan kami bertiga turun dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot. Di angkot aku duduk tepat di depan pintu menyuruh pria yang tadinya di depan pintu untuk masuk. Bergelantungan seperti seperti kernet angkutan umum. Kadang berdiri berpegang pinggiran atap bagian dalam angkot lalu duduk di bawah, disana aku merasa senang. Sementara yang lain ada di dalam masih bisa bercanda dan melanjutkaa salfi dan aku sudah ga peduli dengan yang mereka lakukan. Hingga di tengah perjalanan aku melihat tepian pantai, dari kejauhan melihat birunya air laut dengan karang terjal juga suara ombak yang menjanjikan kedamaian.

Akhirnya kami ketemu dengan mobil rombongan yang kami tumpangi lagi berhenti untuk menunggu rombongan yang lain. Kami pun kembali ikut mobil rombongan karena sedikit seram juga melihat jalan yang harus di lewati. Seperti di puncak rolkoster dimana turunan curam sudah menanti di depan mata, iya kalau rem angkot bagus kalau remnya blong usai cerita. Pantai bukan tujuan perjalanan hanya kebetulan lewat. Mobil kembali melayu di jalan turunan yang sangat curam, kita menanti di pinggir pantai. Dan ketika sudah sampai di pantai si sopir turun menuju warung yang ada di pinggir pantai untuk mencari kopi sementara yang lain masih tetap di mobil sambil makan perbekalan yang dibawa.

Tiba-tiba aku membuka pintu dan meeghambur ke luar, menuju tepian pantai di sela-sela lapak para pedagang. Mencari-cari sesuatu hingga mata terpana dengan birunya air laut dan lamunan pun pudar dengan sapaan penjual yang menawarkan dagangannya "cari apa mbak..." melihat sekeliling lapak penjual namun ga ketemu yang aku cari "enggak bu, ini mau buang sampat. Tempat sampahnya dimana ya?!." jawabku menanggapi tawaran dari si ibu penjual. "Itu disebelah sana" jawab si ibu penjual sambil menunjuk ke arah pinggir tanah lapang. Melihat yang di maksud si ibu aku pun berlari untuk membuaag sampah yang dari tadi aku pegang. Dari sana aku melihat tempat sampah di dekat mobil kami yang kami tumpangi. Gila disana yang lebih dekat ada kenapa ga melihat rutukku kepada diri sendiri.

Aku melihat teman-teman yang lain pada turun dari mobil berjalan menuju ke warung. Memandangi kemana mereka pergi yang arahnya ke warung-warung sekitar sana, aku tak mengikuti mereka dan tiba-tiba tersadar jika tadi aku turun dari mobil dengan telanjang kaki tidak memakai alas kaki. Entah dari awal aku ga mengenakan alas kaki atau memang tertinggal ketika turun dari mobil untuk buang sampah. Banyak juga penjual sofenir dan langkahku menuju ke salah satu toko penjual asesoris.
"Mba sendal ada ga" tanyaku kepada penjual yang ada di depanku.
"Sebelah sana silahkan pilih, murah saja. Banyak model yang bisa dipilih silahkan mba yang mana..." kata penjual
Aku melihat beberapa cewek yang sedang memilih-milih barang, "model seperti apa yang dicarinya dari tadi milih ga selesai-selesai" rutukku dalam hati melihat tingkah cewek yang ada di depanku. Melihat mereka sedang memilih sendal membuatku pusing.

Mataku tertuju pada sandal warna abu-abu yang agak mengkilat dengan hak yang lumayan tinggi. Aku ga suka modelnya tapi aku ingin beli yang ini.
"Mba yang ini berapa" tanyaku
"Dua puluh lima mba" jawab penjualnya
"Mahal bener. Ini awet ga..."
"Barang disini kualitas bagus, saya jamin"
"Lima belas saja ya"
"Wah belum dapet mba"
"Pasnya berapa..." tanyaku sambil meneliti sendal yang aku incar itu
"Dua puluh. Itu juga sudah murah mba"
Belum juga membayar aku melihat ada garis di sendal sebelah kiri di bagian kiri pas di sambungan talinya.
"Ada yang lain ga, ini sudah seperti ini. Tar kalau putus gimana"
"Dijamin, nanti kalau putus saya ganti" penjual itu meyakinkanku
Dan aku pun membayar dan memakainya. Baru juga telapak kaki, masuk tali sudah putus. Sesuai perjanjian aku minta di ganti tapi sudah ga ada stok yang aku suka. Lalu si embak penjual itu menawarkaa sendal tali-tali tanpa hak dan lebih ringan tapi bagus.

Aku pun mengikutinya mengaabil sandal yang di maksud. Bagus dengan tali serempang, ringan tapi ada yang ga aku suka yaitu warnanya pink. Namun berhubung tidak ada lagi sendal yang aku suka maka terpaksa menerima. Tapi ada satu masalah lagi aku ga bisa cara memakainya.
"Mbak ini cara pakainya gimana....???"
Si mbaknya mengajari terlebih dulu menjembreng sendal yang talinya elastis dan memasukkan kakiku dan mengaitkkan tali yang terjuntai di belakang ke arah depan hingga membentuk selempang.
"Cara mengaitkanny gimana mba?" Tanyaku lagi
"Tinggal dimasukkan saja mba"
"Kaya gini"
"Begitu boleh kaya gini juga bisa. Ya suka-suka saja mba yang buat nyaman gimana". Mba nya menjelaskan panjang lebar sambil mengajari cara mengaitkan.

Melihat teman-teman yang menuju ke satu warung yang cukup besar dan ada yang berteriak jika disuruh kumpul aku pun pergi dengan tergesa-gesa sambil membawa sendal yang kaitannya terlepas hingga menuju kesana dengan telanjang kaki dan sendal aku tenteng di tangan kiri. Di bangku bawah pohon depan warung aku mencoba memakai sendal yang belum berhasil cara mengaitkannya tapi kali ini aku berhasil mendapatkan cara agar kaitannya tidak mudah terlepas lagi. Lalu aku pun berjalan menuju rombongan yang lain tapi baru dua langkah kaki ku terhenti ketika melihat seseorang yang sudah lama tak berjumpa. Melihatku ia berjalan mendekat ke arahku sementara aku hanya terdiam terpaku. "Benarkah yang aku lihat" masih ga percaya dengan yang aku lihat.
"Ada apa kamu berdiri disitu..." seseorang pria dengan wajah ceria penuh semangat, tubuh tegap potongan rambut cepak namun sekarang agak putihan dan sedikit gendut.
Dan seketika itu tangisku pun pecah, aku merindukanya, aku pun berlari menghambur untuk memeluknya. Tangisku semakin kencang sudah tak peduli dengan orang-orang di sekitar sana. Pria itu memelukku sambil tertawa kecil. Dalam dekapan hangat beliau menenangkanku dalam tangis. Aku pun terbangun dengan tangis dan air mata membasahi pipiku. Masih terisak melihat kamar sudah terang dengan matahari yang masuk menerobos kaca jendela.

Seketika kenangan lama memenuhi pikiranku. Bagaimana begitu perhatiannya beliau kepadaku, yang selalu memperhatikanku, mendukung keputusanku dan juga mengajarkanku untuk berani. Masih ingat bagaimana kami berdua menelusuri ruangan gelap dan menerka-nerka setiap ruangan yang belum sepenuhnya jadi. Almarhum pak Nardi, semoga senyumnya sebagai tanda bahwa beliau sudah tenang dan bahagia disisiNya. Ketika mengurai mimpi ini pun air mata masih berjatuhan. Bapak ku yang baik tenanglah di surga aku percaya engkau selalu menjaga dan melindungi anakmu yang nakal namun yang sangat kau sayang ini. Terima kasih karena engkau bukan hanya rekan kerja namun juga orang tuaku. (30/06)


Coretan yang lalu

08/07/15

Virus Batu Akik

Demam batu akik yang melanda seantero nusantara sepertinya itu juga yang sekarang menjangkiti bapak. Sejak mudik beberapa waktu lalu sebelum ramadan kini aku sering melihat bapak lagi menggosok batu akik.

Awal mula waktu mudik, kakak sepupuku yang di Palembang waktu itu juga pulang. Dia memang penggila akik, bahkan istrinya pun suka mengeluh karena waktu week end sering di tinggal untuk mencari batu akik di sungai sampai badannya sedikit terlihat kurus dan juga tak seputih dulu, kalah putih dengan kakaknya padahal diantara cucu si mbah kakak ku yang satu itulah kulitnya terputih diantara yang lain, dulu aku menjadi urutan ke dua tapi sekarang merosot juga. Tak main-main sampai di rumah bu dhe pun yang berjualan alat tulis sekarang juga jual akik dari yang masih kepingan batu, sudah terasah bahkan yang sudah jadi juga ada. Dan ketika disana ya para pria mengerubuti batu akik, telaten kakak menjelaskan tentang batu akik dari asal terbentuknya, cara melihat asli enggaknya sampai cara membuatnya mengkilap agar indah di pakai.

Adik lelakiku yang ga tau sama sekali dengan batu akik karena memang ga pernah mainan akik saja sampai di buat bingung saking banyaknya dan semua terlihat bagus. Dari datang kerjanya senteri akik berulang-ulang tak ketinggalan bapak, om, juga kedua kakakku tapi kakakku yang satu seh cuma ikut-ikutan ngerubuti saja tidak sampai terinveksi virus batu akik. Sepertinya baik bapak juga adik lelakiku membawa satu cincin, ya memang kami di suruhnya pilih yang disuka.

Selepas beberapa minggu setelah hari itu, pulang kerja aku melihat bapak lagi asik gosok batu akik dengan batang pring disanalah aku merasa kalah. Ternyata bapak kena virus akik juga, bahkan bapak sudah punya beberapa batu yang sudah jadi. Dan beberapa hari yang lalu ketika pulang kerja ya kira-kira jam 22:20 di depan rumah terparkir motor pikirku mungkin pak RT lagi main ke rumah tapi di teras aku melihat beberapa orang bapak-bapak lagi jongkok dan ngelihati ke arah bawah. "Apa yang mereka lakukan...." Tapi mendengar sekilas pembicaraan mereka dan di otak ketika ada pertanyaan itu langsung terjutu pada akik. Dan benar saja ketika bangun sahur tanpa sengaja kaki ku menendang baskom ibu terisi rendaman batu akik, banyak.... ternyata bapak minta kiriman dari kakakku yang di palembang ini aku lihat dari resi pengiriman yang tergeletak di meja kerja bapak. Aaaaaaah mas An kau menularkan virus batu akikmu pada ayahku. Hikh hikh hikh.... ga di kantor ga di rumah selalu melihat batu warna wari seperti permen fox. (08/07)

07/07/15

Mereka yang Peduli

Beruntungnya berada diantara mereka yang peduli

:: Miss You
Suara telpon berdering, dan ketika aku angkat terdengar suara wanita yang sepertinya begitu bahagia. Seperti seorang kekasih yang sudah tak lama jumpa, seperti pacar yang diajak berkencan terdengar begitu sumringah. "Jangan kamu baca pikiranku..." satu kalimat menggelitik, padahal ga ada niatan sedikitpun untuk menyelami pikirannya namun ucapan itu sepertinya membuatku tersadar hingga merespon dan mendapat pembenaran. "Ga melihatpun aku tau bagaimana suasana hatimu saat ini" Yang pasti ada kelegaan dan kegembiraan yang tak bisa terucap. Miss you... entah berapa kali kata itu terucap dan itu bukan basa basi, namun sebuah ungkapan dari hati yang sangat tulus.

:: Non
"Non..." Sapaan yang datang setelah beberapa kali tak terindahkan kini mendapat jawab. Ada kehawatiran dan keinginan untuk bisa ngobrol dan bercengkrama seperti dulu. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menunggu semuanya kembali seperti semula, memberikan waktu untukku sendiri. Membutuhkan keberanian untuk menyapaku kali ini, ya mungkin takut mengganggu hingga selama ini memutuskan untuk membiarkanku sampai aku yang akan mengabarkan bahwa aku sudah kembali. Namun hingga batas waktu aku masih tak bergeming, masih menikmati penyepianku.

:: Ngalah
" Ben ga ngilang terus..." ketika membaca balasan dari obrolan di bbm seperti tersentak. Mendadak merasa bersalah. Ingin aku mengobrol seperti dulu namun rasa malas seperti memenjara pikiranku, masih ingin menyendiri di duniaku tak ingin di ganggu siapa pun dan tak ingin banyak berinteraksi dengan siapa pun, hanya ingin menyendiri dan menyepi. Mencari kedamaian dan lebih mengenal diri sendiri. Pada awalnya mungkin ia kaget dengan perubahan sikapku yang tiba-tiba enggak untuk ngobrol berlama-lama namun setelah aku perjelas akhirnya kau memahami juga sekelumit kebiasaan anehku.

:: Jangan terlalu lama pergi, cepatlah kembali

:: Ada banyak sapaan yang belum aku baca dan aku balas.


Tak pernah aku duga sebelumnya ternyata ada banyak orang yang menghawatirkanku, bukan kata-kata clise ataupun pemanis bibir saja yang mereka ucapkan namun sebuah ungkapan dari hati yang terlihat begitu tulus. Aku terlalu sibuk dengan diriku hingga melupakan orang-orang yang ada di sekitarku namun bolehkan aku melanjutkan proses ini hingga akhir... berikan aku waktu sedikit lebih lama lagi dan ketika semunya sudah berjalan seperti yang seharusnya maka aku akan kembali, kembali menjadi diriku seperti yang kalian kenal. (07/07)

02/07/15

bukan korban iklan


Bukan korban iklan melainkan korban web. Ketika googling tanpa sengaja menemukan artikel yang membahas produk yang satu ini yang di mix dengan beberapa makanan lain dengan penyajian yang cukup menggoda hingga sepulang kerja menyempatkan diri mampir ke mini market untuk membeli cemilan yang satu ini.

Glasstine, produk dari monde yang sudah memiliki banyak produk yang dikenal dan disukai oleh masyarakat luas. Biskuit karamel "Glasstine" merupakan produk baru yang di lempar ke pasaran beberapa bulan yang lalu.

Dan menurutku rasanya ya lumayan lah, ringan cocok untuk cemilan minum teh atau kopi ketika bersantai menikmati senja atau pada saat malam hari sambil melihat bintang di langit. Seperti produk monde lain yang identik dengan susu namun ini ada sedikit perbedaan yaitu adanya karamel di atasnya. Mungkin perlu kreatifitas untuk penyajian kali ya agar rasanya nendang, okah dah kapan-kapan di mix dengan jajan yang lain. (02/07)