Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

04/12/18

Nyamar jadi tukang pipa


Meskipun sudah memasuki musim penghujan namun debit air di sumber air di wilayahku masih minim bahkan bisa dibilang semakin parah karena air hanya mengalir lima hari sekali itupun dapat jatah malam, bayangin aja begadang hanya untuk mendapatkan air sampai bela-belain nyuci baju jam 12 malam ngantuk jangan di tanya deh ya. Untuk memudahkan mendapatkan air, bapak inisiatif untuk memasang sanyo untuk penampungan atas, jadi mengisi penampungan atas yang tadinya dari bak kamar mandi bawah sekarang langsung dari pipa saluran agar lebih cepat selesai, 'nadah ga sampai jam 3an bahkan kadang bisa sampai pagi itupun harus nunggu punya tetangga selesai terlebih dulu'. Ini dikarenakan rumahku yang agak ke bawah kalah dengan tetangga yang rumahnya sejajar jalan dan menggunakan sanyo. Ya beginilah nasip orang gunung dari orok air berasa begitu berharga. Jaman dulu ketika musim hujan sampai panci di gunakan untuk menampung air kalau sekarang seh mending sudah ada sumur walaupun sebenarnya airnya ga layak untuk di konsumsi.

Kemaren pulang kerja bapak sudah pasang mesin sanyo dan pagi ink tinggal pasang pipa untuk menyambungkan ke penampungan atas agar ngambil airnya bisa langsung ga lewat bak kamar mandi bawah seperti biasanya. Untuk memasang dipercayakan kepada adik lelakiku, awalnya tak kirain hanya untuk mengawasi saja ada tukang yang mengerjakannya tapi kenyataannya adiku lah yang  mendapatkan kepercayaan dari baginda raja yang titahnya tak bisa di tawar, aku yakin dengan sangat terpaksa mengerjakannya. Pagi-pagi sudah membangunkanku dan adikku untuk menerangkan sketsa di secarik kertas yang digambarnya mau dibuat seperti apa salurannya nanti. Dirasa sudah cukup jelas bapak pergi bekerja dan adik selesai memanjakan hewan peliharaannya langsung beli perlengkapan, entah apa saja yang dibelinya yang aku tau cuma pipa saja yang lain ga tau namanya.

Dikerjakanlah sendiri semuanya tanpa meminta bantuanku. Namun pukul 12 pekerjaan belum selesai ditinggal untuk 'gabur' penyaluran hobbynya. Aku lihat pipa masih kurang belum ada sambungan ke bawah, dan sepertinya tidak sesuai gambar (hanya menggunakan satu kran), dan ternyata sambungan belum di lem semua terlebih bapak meminta untuk dikirim foto dari hasil kerjanya. Entahlah apa maksudnya, seperti tidak tanggung jawab dari tugas yang sudah diberikan. Udah felling ni pasti bermasalah karena tidak ada komentar dari gambar yang aku kirim. Hati udah mulai ga nyaman dag dig dung dengan pikiran ambyar.

Jam setengah 2an bapak pulang untuk melihat hasilnya walaupun sudah aku kirimi gambarnya. Dan baru juga sampai sudah marah-marah ga karuan. Ternyata pekerjaannya salah tidak seperti yang di inginkannya, terlebih pipanya kurang hingga sore belum selesai padahal menurut perhitungan bapak hari ini air mengalir lengkap sudah kan alasan kemarahannya. Walaupun menurut perhitunganku baru besok airnya mengalir, aku seh santai dengan menenangkan hati untuk sabar (untung saja persediaanku sabar menggunung kalau enggak byeeh bisa trageri cari ortu baru dah). Akhirnya bapak mengajakku untuk membeli pipa karena bapak ga bisa bawa kalau sendiri. Selama perjalanan ke toko bangunan bapak ngomel terus ga brenti ampe merah kuping dengernya, mukanya udah ga enak banget aku hanya diem walaupun sejujurnya emosi sudah mulai kepancing tapi di dalam hati terus saja bergumam "sabar... sabaaar... sabaaaar... sambil sesekali narik napas panjang" ga mau bersuara karena jika di jawab bakal lebih panjang dan lebih serem marahnya.

Tak puas dengan hasil kerja adik yang menurut bapak salah, belum selesai sudah di tinggal, dan pipa belum di lem, terlebih ada telpon kerjaan yang datang makanya bapak harus segera balik kerja biar ga pulang malam, entah bagaimana pemikiran dua pria ini yang pasti akulah yang kena dampaknya sampai ingin nangis rasanya serba salah dan disalahkan terus. Sambil pergi kemarahannya masih terus berlanjut, sampai aku mendengar helaan napas darinya, namun sebelumnya bapak sekali lagi memberi arahan padaku tentang rancangan pipa yang di inginkannya, aku tau kekecewaan bapak, lalu aku harus bagaimana....???! Kenapa aku yang disalahkan... Andai aku tahu caranya...
Hal seperti inilah yang ga aku sukai, bapak yang mudah emosi dan pelampiasan kepada semuanya. Seringnya aku yang kepilih mendengarkan ceramah yang menyakitkan.

Oke aku akan coba kerjakan. Bapak pergi bekerja, aku pergi untuk membeli perlengkapan yang dirasa kurang, namun sesaat aku juga harus mendengar kemarahan simbok yang ga terima anak lelaki kesayangannya disalahkan. Mendengar semua ini semakin remuk hatiku, tanpa memberi sanggahan kepada kemarahan simbok akupun pergi membeli lem dan plat yang aku kira namanya knop. Untung penjualnya tau yang aku maksud. Nekat, entah nanti jadinya bagaimana dan kalaupun salah siap menanggung cacimaki bagaimanapun pedasnya aku terima.

Jujur aku bukannya ga bisa pasang pipanya tapi aku belum pernah lompat tembok dan berdiri di atap rumah yang beralas seng. Sebuah perjuangan berat, terlebih harus melompati tembok yang lumayan tinggi, bertumpu pada kursi yang sudah mulai lapuk sehingga goyang-goyang jika di injak dan puncaknya harus hati-hati untuk berpijak karena berada di atas atap seng. Kali ini dalam hati aku benar-benar meminta bantuan pada semuanya termasuk diriku sendiri agar bisa melawan ketakutan dari phobia ketinggian bisa mengerjakan dengan benar dan diarahkan cara mengerjakannya. Aku persiapkan alat-alat agar mudah ngambilnya dan ga perlu bolak-balik lompat tembok yang lumayan menyulitkan dan mulai mengotak atik menyambung dan menggergaji pipa agar sesuai dengan gambar. Perasaan yang tak ingin membuat kecewa, tak ingin membuat marah, ingin melakukan yang terbaik seperti yang di inginkan, sikap seperti inilah yang tak jarang malah membuatku terbebani dan takut.

Ternyata ga mudah menggergaji pipa sampai-sampai beberapa kali jari lecet karena mata gergari yang meleset. Sebelum di lem dipasin dulu, tapi walaupun sudah di ukur mengapa pipa ini terus saja ukurannya ga tepat ketika di pasang?
Dan sedikit bermain nalar agar kran airnya benar menaruhnya. Jadi keingat pelajaran fisika tentang kelistrikan kalau begini. Pasang, copot, bukan sekali aku lakukan untuk ngepasin bahkan harus bongkar pipa yang sudah dipaku karena kurang pas peletakannya. Aku butuh teman saat ini untuk menemaniku itu saja, karena rasa takut berada di atap seng yang kadang meliuk dan berbunyi saat di injak. Otakku terus berbicara agar adik perempuanku cepat pulang. Sedikit kalut takut salah untuk memasangnya. Sudah tak tau lagi berbagai macam pikiran campuraduk di otakku.

Ketika adiku perempuan datang dan menyapa untuk membanyu ada sedikit rasa plong setidaknya ada teman sekarang. Dia ikut bantu, meskipun hanya lihat dan pegangi pipa dari dalam jangankan lompat naik tembok saja ga berani dia, phobianya lebih parah dari aku dia mah. Buatku yang penting ada teman itu sudah banyak membantu buatku. Ketika ku jelaskan gambaran cara kerjanya dan di rasa benar saat dinalar (menurutku) sementara adikku hanya diam entah paham atau tidak deh ya maka aku mulai menyambungkan pipa dengen mengelemnya. Satu persatu pipa mulai terpasang, nah pas mau nyambung pipa yang menjulur di atap menuju ke bawah yang melewati samping rumah ini agak menyulitkan bagiku karena aku harus mencari pijakan yang benar karena seng di bagian tengah tidaklah terlalu tebal dan aku rasa ga bisa untuk di injak karena saat mencari pinggiran sempat sengnya bunyi dan sedikit melengkung saking takutnya langsung terduduk aku. Untuk sampai di ujung demi menyambung aku jalan sambil duduk (ngesot) di bagian pinggir seng udah gitu lem pipa ketinggalan pula bisa bayangin donk gimana ribetnya balik sambil ngesot. Hehehehe takut, bener-bener takut sengnya amblong (mencoba membunuh pikiran liarku). Walaupun ada rasa takut tapi dengan segala upaya akhirnya bisa menyambung knop ke bagian bawah huuuuuft.... perjuangan yang keras.

Semua sudah di lem, tinggal menggergaji pipa yang dari bak kamar mandi bawah ke penampungan atas. Saat aku gergaji airnya keluar iiiiih ini bikin kaget dan takut. Kenapa airnya keluar saat di gergaji pipanya ???! Buru-buru aku lem biar airnya ga keluar, beneran takut salah potong. Mulai berdiskusi bermain nalas dengan adikku, pipa yang aku potong pipa untuk mengisi penampungan harusnya ga ada airnya donk.... berkali-kali meyakinkan jika pipa yang aku gergaji benar tapi terpatahkan dengan air yang muncrat jadi dagdigdug. Mulai bingung ni, berpikir aku mau coba untuk memasang pipa yang nyambung ke penampungan dulu bukan yang dari bak mandi bawah sudah sedikit mantap dan benar bila dinalar, dan untuk lebih meyakinkan kutanya adikku yang masih setia menunggu di dalam, bahkan adiku sempat bilang nanti kalau salah, dimarahi ya bareng-bareng to. Ya mana aku tega lah ya.

Sebelum sempat aku gergaji, adik lelakiku datang. Menanyakan kurangnya apa, lalu aku terangkan yang di inginkan bapak dan kerjaan hanya kurang menyambung ke bagian penampungan saja. Adiku lama mudengnya (maklumin aja deh ya keduanya temenan ama obat jadi ga ngerti beginian makanya pas aku terangin mereka hanya diam. Sedikit bangga menjadi anak IPA), sempat sedikit panjang untuk menerangkan kembali gambar yang dibuat bapak dan kesalahan pengerjaan sebelumnya lanjut dengan kerjaan yang tersisa. Intinya aku yang paham dan adik hanya ngikut yang kuperintahkan. Ternyata memang sengaja tadi di tinggal dan belum di lem karena dia ingin bapak tau yang dimaksud seperti itu atau tidak dan ternyata memang salah. Coba tadi jika sudah di lem apa ga nambah kerjaan bongkar lagi. Sedikit menjelaskan jika tinggal menggergaji saluran dari bak untuk di pararel agar nantinya sanyo yang dari luar bila tidak ngangkat bisa menggunakan sanyo dari bak kamar mandi bawah seperti biasanya. Ternyata air yang keluar itu bukan dari penampungan tapi dari sisa air yang ada di pipa. Aku serahkan kerjaan ke adiku, karena menggergaji pipa mepet tembok dan berhimpitan dengan pipa pembuangan itu lumayan susah.

Sampai bapak pulang kerjaan belum sepenuhnya selesai. Bapak ga komentar apa-apa ketika melihat aku dan adik lelakiku ada di atas atap seng. Karena tinggal maku pipa saja aku tinggal masuk. Sungguh sedikit menyusahkan ketika lompat tembok ketika dari luar karena kursinya goyang-goyang, tidak ada pijakan lain. Selesai sudah kerjaan, tinggal menyambung di bagian bawah dan kerjaan benar-benar selesai. Anggap saja kerja team. Lega rasanya bisa melewati kerjaan ini, walaupun ada beberapa lecet di jari tak mengapa selama hasilnya baik. Oke bapak puas dengan kerjaanya.

Bapak sempat menerangkan cara kerja dari dua peletakan dua kran di pipa. Walaupun sudah tau tetap aku dengarkan penjelasan bapak. Ketika bapak bertanya kenapa pipanya ga disambung lurus dari pipa kran malah di luruskan mengikuti pipa yang dari bawah ya aku bilang saja untuk menyambung bagian ujungnya susah karena harus melewati seng tipis tanpa tumpuan, dan bapak membenarkan bahkan bapak juga ga percaya jika pipa pojok sambungan ke bawah aku yang ngelem karena memang sedikit susah dan ga mungkin perempuan 'petangkrian' sampai sana, dan nyatanya aku yang nyambung kan.... (inilah yang terkadang membuat sedih, selalu di anggap lemah dan tak bisa apa-apa. Selalu menjadi anak kecilnya yang lucu dan penurut).

Walaupun ga melihat hasilnya, namun melihat kita bekerja simbok sedikit bangga. Kata simbok walaupun perempuan tapi bisa pasang pipa itu pintar. Perempuan harus bisa mandiri dan bisa apa saja. Tak ada jawaban dariku karena otakku masih butek tapi, Oke siaaap kalau hanya pemikiran untuk mandiri mah udah biasa. (03/12/18)

::
Untuk menggergaji pipa gampang-gampang susah. Pegang erat pipa di kedua sisi biar ga jalan, caranya satu sisi di injak dengan kaki sisi yang lain di pegang , saat menggergaji berikan sedikit tekanan di bagian ujung gergaji maka akan cepat tergores pipanya. Peletakan gergaji agak miring sedikit tapi jari jangan terlalu dekat biar ga terluka. Mungkin awal akan miirng tapi beberapa kali di coba bisa lurus sempurna. Hehehehe....

06/09/18

Mengurus Surat Tilang

Pagi kira-kira jam 9 berangkat untuk mengambil barang dan pulangnya mau mampir beli cilok. Tempat jualan cilok langganan sebenarnya terbilang berlawanan arah dari tempat pengambilan barang, ya karena sudah beberapa hari pengen maka aku tekatinlah untuk beli sekalian jalan-jalan ngelemesin otot daripada di rumah terus. Tapi aku pikir-pikir jam segini masih kepagian, belum buka maka dari itu aku ubah haluan beli jajan pasar saja deh ya.

Kebiasaan ngikutin mobil di depan kambuh deh, untuk beberapa orang pasti tau kebiasaan ini. Dan ketika di perempatan lampu merah mau belok kanan, berhubung mobilnya langsung belok ikutanlah belok dan akibatnya disuruh minggir tu ama pak pol, jujur ya ga suka ama caranya. Pak pol minta ditunjukin SIM dan STNK, ketika melihat STNK pak polnya bilang
"Mau kemana mbak?" Tanya pak pol sambil menunggu surat-surat yang diminta.
"Pulang pak".
"Rumahnya mana?"
"(Nyebutin tempat)
"Bulan depan ulang tahun ya" aku tau seh maksudnya bulan depan pajak motor.
Aku mah cuek aja tanpa ekspresi, baru deh si pak pol bilang jika tidak ada tanda langsung belok harus ngikuti lampu. Aku ingat-ingat lagi tu tadi di lampu merahnya ada tandanya apa enggak ya...

Ngalamat kena deh, SIM dan STNK dikasihnya ke petugas yang catat tilang. Dengan santainya aku ikuti pak pol dan meninggalkan motor begitu aja di depan gerbang entah itu gudang atau apa dan itu masih fungsi atau tidak juga ga tau. Ada dua petugas pencatat, di buatin surat tu ama petugasnya.
"Nomor teleponnya berapa, untuk bayar di bank" aku sebutin lah nopeku dan di tulis di atas ( dibagian yang berwarna abu-abu)
Ketika menyerahkan surat tilang si bapak tanya yang mau di tahan SIM atau STNK
Surat tilang yang diberikan yang warna biru. Dulu pernah kena dikasihnya yang warna merah (tahun 2015)
"Bedanya apa pak...?" Tanyaku untuk memperjelas bedanya yang di tahan SiM atau STNK
"Sama saja, terserah mba pilih yang ditahan SIM atau STNK" dan akhirnya yang aku berikan SIM.
"Nanti ambil SIM-nya dimana pak?" sambil menunjuk SIM yang ditaruh ke kantong.
"Jika ikut sidang diambil di pengadilan, bisa juga setor di bank, nunggu sms dulu paling 2-3 hari baru bisa dibayar"
"Pengadilannya mana ya pak?"
"Dekat musium ronggo warsito"
Dengan tampang mikir yang menerka-nerka letaknya musium sebelah mana. Sepertinya si bapaknya tau jika ga ngerti makanya dia menjelaskan arahnya.
"Kalau bayar di bank trus ambil dimana"
"Nunggu dapat sms dulu untuk mendapatkan nomer baru bisa dibayar, sms ditunggu 2-3 hari ya. Sekarang bayar di bank juga dikenakan denda minimal"
"Trus ambilnya dimana...???"
"Kalau sudah bayar ambil nya di polsek semarang selatan, bagian kanit lantas"
"Itu mana pak???" Beneran ga ngerti aku mah
"Lamper tengah, tau SMA 11 maju dikit"
Sebenarnya mau tanya letak SMA 11 sebelah mana tapi urung tanya. Karena dalam bayanganku polsek letaknya di jalan majapahit (sepertinya salah)

Si bapak sudah buat lagi tu surat untuk cowok yang juga kena. Dan si cowok ini memilih bayar di bank dan yang di tahan STNK saja. Ternyata motorku sudah di pindahin ke dalam halaman sama si pak pol, entah yang mana. Dan aku masih belum beranjak dari sana, mengamati beberapa orang yang kena dan membaca surat tilangnya. Sambil mengenakan perlengkapan secara perlahan aku masih mengamati pak pol yang membuat surat tilang. Sementara pakpol yang satunya kosong dan dia melihat terus ke arahku, mungkin dia geli kali ya ada orang yang sama sekali ga ngerti arah. Tapi kalau dilihat-lihat sepertinya ga asing dengan wajahnya tapi siapa...? Apakah dia teman sekolah atau jangan-jangan tetangga jauh. Wesben lah, masih gondok kena tilang akhirnya ga jadi beli jajan pasar pilih langsung pulang saja. Ngirit uangnya buat bayar denda.

Dirumah browsing cari artikel tentang pelanggaran tilang pasal 287 (1) namun ga ada penegasan denda minimalnya berapa dan kebanyakan masih mempersoalkan surat tilang warna merah dan biru.

Kena tilang hari rabu, aku hitung berati kira-kira dapat sms kalau ga jumat ya sabtu. Benar tu akhirnya dapat sms hari jumat tapi sudah siang banget, mau ke bank malas diluar panas banget. Senin lah bayar.

Senin, tanggal 3 september berangkatlah untuk membayar. Karena di sms bilangnya bisa bayar di ATM bank lain pikirku berati bisa donk dibayar di ATM BRI kalau ga di ATM BCA. Mulai deh cari ATM BRI tapi ga bisa, oke aku cari lagi ATM BCA dan ternyata ga bisa, ketemu ATM BRI dicoba lagi tetep ga bisa. Ya sudah lah cus ke Bank BRI, mikir mau ke cabang yang mana, akhirnya pilih yang searah saja meskipun tau pasti rame. Masuk sudah di sapa satpam, ditanya keperluan dan aku bilang saja mau bayar tilang pak satpam bilang jika antrian ramai, namun akhirnya aku pilih tetap nunggu sajalah sudah sampai sini. Mendapat nomor 52 sedangkan sekarang masih urutan 30an kalau ga salah inget.

Dan benar saja disana sudah banyak antrian sampai ada yang tidak kebagian tempat duduk. Berdiri di dekat ATM karena ga dapat tempat duduk dan biar ga menghalangi jalan.
"Antriannya panjang banget pak"
"Biasa mba, tanggal segini banyak yang ambil pensiunan"
"Gimana mau ditunggu "
"Iya lah pak sudah sampai sini. Soalnya tadi udah coba bayar lewat atm ga bisa"
"Dicoba lagi saja mba"
"Tadi sudah coba 3x ga bisa, pake atm bca juga ga bisa"
"Nah belum yang ke 4, siapa tau disini bisa, jangan-jangan salah pilih menu"
Iya juga seh ga ada salahnya coba, lagian antrian juga masih panjang. Akhirnya aku coba dan di pandu si bapak satpam dan hasilnya memang ga bisa.

"Kena dimana mbak? Tanpa pak satpam penjaga pintu yang berdiri di dekatku.
"Perempatan (nama tempat) pak"
"Pasti kenanya pagi, kisaran jam segini"
"Iya. Mestilah pak klo siang udah pada bubar"
Nunggu antrian lumayan lama juga. Sebenarnya mau tanya sama pak satpam polsek semarang selatan itu dimana, tapi ga jadi nanti saja tanya tukang parkir.

Dan akhirnya giliranpun tiba. Sampai di teller ditanya keperluan, aku bilang mau bayar briva tilang. Mba teller tanya nomor tilang dan menyuruhku untuk ttd slip. Sambil menunggu mba teller tanya.
"Kena dimana mba?
"Perempatan (nama tempat) mba"
"Pasti ngumpet ya mba"
Rasanya pengen ketawa kenceng ternyata si mba teller hapal, mungkin pernah kena juga kali ya.
Habisnya 60rb, mungkin yang dimaksud denda minimal ini kali ya. Selesai jam 10:13:57

Selesai langsung mau ke polsek ambil SIM. Di luar tanya tukang parkir polsek semarang selatan.
"Mas polsek semarang selatan itu mana ya?" Tanyaku kepada tukang parkir
"Semarang selatan gajahmungkur mba".
Nah mana lagi itu, kok beda dengan yang dibilang pakpol.
"Katanya dekat SMA 11 mas"
"Yang dekat SMA 11 polsek lamper mba"
"Kemaren bilangnya ambil di polsek semarang selatan depan SMA 11 mas"
"Kalau SMA 11 jalan ini lurus saja mentok belok kanan, lurus belok kiri, belok kiri lagi"
"Jalan ini mas" sambil nunjuk jalan di depan
"Iya ini lurus saja, belok kanan, belok kiri kiri lagi"
"Iya, belok kanan, kiri, kiri. Makasih ya mas"
"Iya mba. Beloknya kanan, kiri, kiri".
"Iya".

Mulai mencari sesuai petunjuk arah, akbirnya ketemu juga meskipun sempat salah belok. Tapi kok sepi benarkah ini yang di maksud?! Mau masuk ke dalam akan tetapi di pagar ada tulisan besar tamu parkir di luar. Nah ini juga jadi tanda tanya besar, kenapa tamu malah disuruh parkir di luar?????? Karena ga yakin akhirnya aku berbalik pergi, tapi sepertinya beneran itu tempatnya. Balik lagi ke tempat tadi, memarkirkan motor di luar. Masuk ke dalam ada pak pol yang piket
"Permisi pak, kalau mau ambil SIM dimana ya"
"Gedung samping dekat parkiran"
"Iya, makasih pak"
Bergegas ke gedung sebelah, tapi pintunya tutupan semua. Sebenarnya sebelah mana bangunan yang dimaksud, balik lagi ke pak yang jaga.
"Yang sebelah mana ya pak?"
"Samping parkiran persis"
"Pintunya tutupan"
"Kalau tutup berati pada keluar semua. Coba saja di ketuk"
Lalu balik lagi ke tempat yang di maksud 'kanit lantas' aku ketok berulang-ulang sepi ga ada tanggapan. Balik lagi ke pak penjaga.
"Ada ga..."
"Aku ketuk-ketuk ga ada orang"
"Berati masih keluar semua kalau kosong"
"Memangnya ga ada yang jaga pak?!"
"Tadi ada orang ga, kalau ga ada berarti tugas luar semua"
"Pulangnya jam berapa pak"
"Ga tau pasti sampai jam berapa, biasanya jam 12an sudah pulang"
"Kalau besok ada ga ya"
"Belum tau, tergantung besok ada jadwal keluar atau tidak"
"Kalau keluar jam berapa pak"
"Ya jam segini, kalau tugas luar. Sepertinya hari ini pada keluar semua..... (entah apa yang di bicarakan ga mudeng dia juga memperlihatkan langsung dari polsek entahlah apa ga mudeng. Kepalaku udah mulai pusing dan mulai emosi dengan si bapak ini)
"Kalau besok ada orang ga ya"
"Belum tau besok ada tugas luar atau tidak. Itu rahasia tidak boleh bilang nanti bocor"
Sungguh menguras tenaga bicara dengan ni bapak. Andai saja ketemu orang lain disana milih tanya ama yang lain deh ya. Jujus aku ga peduli besok ada rasia atau tidak yang aku tanya itu besok ada orang jam berapa agar aku bisa ambil SIM ku. Ini malah muter-muter ga karuan.

Aku lihat si bapak kerjanya mantengi komputer cctv ditemani gorengan tahu isi tinggal 1 di cawan kecil.
"Biasanya pagi buka jam berapa pak?"
"Kalau pagi jam 8 sudah ada orang. Biasanya jam 8 apel dulu baru nanti jam 9 kalau ada jadwal baru keluar semua"
"Berati jam 8 ya pak"
"Iya jam 8 pasti sudah ada orang "
"Yaaaah"
"Nanti jam setengah 1 balik kesini lagi saja"
"Besok pagi aja deh. Siang panas"
"Pake mobil kalau ga mau panas"
"Macet"
"Pake helikopter..."
Dan aku tinggalin tu pak pol yang ga ngenakin. Sengaja pintu ga aku tutup sampai pak pol berdiri nutup pintu. Bener-bener dongkol ama ni pak pol. Terlalu berbelit-belit dan masa ya nga ngerti temannya tugas atau tidak, lalu tugasnya itu apa disana.....???????!

Bok ya dari awal ditanya bilang sekarang semua personil tugas luar, jika mau nanti siang sekitar jam 1an balik kesini atau kalau tidak besok pagi jam 8an sudah ada orang. Gitu kaan enak dengernya juga adem, enggak malah berbelit-belit ngalor ngidul ga karuan.

Karena berhubung masih gedek dengan omongan tu bapak maka baru balik lagi hari kamis. Malah kepikiran suruhan orang ambilin, males ketemu lagi. Kalau ga inget ngurus sim mahal n ribet ga bakalan tu sim tak ambil. jam seyengah 9 berangkat langsung ke bagian kanit lantas kebetulan pintunya buka. Di dalam sudah ada beberapa pak pol yang sepertinya bersiap-siap tugas lapangan. Bersamaan denganku ada seorang bapak yang juga kena tilang. Mendengar pembicaraannya dengan petugas yang melayani si bapak kena tilang, waktu mau bayar ke bank oleh tellernya dikatakan jika nomer briva sudah terbayar, secara di cek oleh pak pol belum bayar. Kata si bapak menurut pengalaman teller bank sering juga mengalami problem seperti itu dan dengan teller disarankan untuk ke polsek yang bertugas untuk mendapatkan nomer briva baru. Oleh pak pol petugas disuruh untuk ke pusat agar diberikan nomer baru.

Saat pak petugas melayani si bapak, sempat aku bertanya dengan pak pol yang menyapaku di awal. Kalau yang ini petugasnya pada enak dan ramah.

"Pak mau tanya, kenapa mau bayar dari ATM ga bisa ya pak"
"Ya ga bisa bayarnya ke bank"
"Padahal di sms dikatakan bisa bayar lewat ATM BCA tapi aku coba dari atm bri ga bisa, dari atm bca juga ga bisa"
"Masa ga bisa"
"Beneran ga bisa, sudah aku coba 4 atm ga bisa"
"Berati jaringan di bank kurang mendukung"
"Saat menerima sms kan ada tu keterangan agar membayar h-4 sebelum tanggal sidang. Jika bayarnya pas tanggal h-4 berkas sudah di kirim ke pengadilan belum ya pak"
"Mba sidang tanggal berapa"
"Tanggal 14 sebtember"
"Sekarang tanggal 6 ya"
"Iya"
"Begini, biasanya berkas kita kirim ke pusat seminggu sebelum sidang" si bapak bertanya ke petugasnya berkas mau di kirim kapan, oleh petugasnya dikatakan hari ini mau dikirim semua.
"Berati kalau bayar setelah berkas di kirim ambilnya di kejaksaan ya pak"
"Tinggal sudah di serahkan ke kejaksaan atau belum oleh pusat. Jadi dari sini nanti di setor ke pusat dulu baru ke kejaksaan"
"Wah malah muter-muter" untung saja masih bisa di ambil disini kalau besok sudah muter kemana lagi dah tempatnya.

Giliranku sekarang, diminta bukti tilang dan slip pembayaran.
"Ini sudah di fotokopi mba?"
"Yang mana pak?"
"Keduanya"
"Belum".
"Keduanya di fotokopi dulu baru nanti kesini lagi. Disini keterangannya mba sudah bayar"
"Fotokopinya dimana ya pak"
"Dekat sini. Pintu gerbang belok kanan nanti ada gapura sebrangnya (pak pol menjelaskan tempatnya dengan detail dan mengulangnya tapi aku sama sekali ga ada gambaran, bahkan gerbang mana yang dimaksud juga ga tau deh)
"Iya, tunggu bentar ya pak"
"Iya mba, saya tunggu. Gerbang depan ya bukan gapura besar"
"Iya" padahal sama sekali ga ngerti yang dimaksud yang mana

Berputar mencari tempat fotokopi tapi ga ngerti dimana tempatnya. Pikirku kenapa ga di foto saja paling juga fotocopy buat arsip sendiri bukan untuk pakpol. Muter-muter ga nemu akhirnya ke tempat fotocopyan yang aku tau, tempatnya ya lumayan jauh seh. Tapi ga apalah daripada ga dapat malah muter- muter pakpol nunggu kelamaan ditinggal.
Berkas sudah di fotocopy balik ke kanit lantas bertemu pakpol. Serah terima, dan SIM ku balik.
Sebelum pergi aku tanya dengan pakpol
"Pak mau tanya bedanya surat tilang warna merah dengan yang biru apa?"
"Sama saja mba, sekarang yang digunakan warna biru. Jika warna biru bisa digunakan untuk membayar di bank ataupun ikut sidang. Tapi kalau dikasih merah juga bisa dipakai untuk membayar di bank".
"Sekarang yang dipakai yang biru. Kalaupun di kasih yang merah juga ga ada masalah"
"Sejak kapan pak menggunakan slip biru"
"Oh sudah lama mba, mungkin ada kali setahunan".
"Oh gtu. Makasih ya pak"
"Iya mba sama-sama"
Pulang deh, selesai urusan. (06/09/18)

Poin-poin untuk mengurus tilang.
1. Jangan berdebat lagi antara slip merah atau slip biru karena sama saja dan sekarang yang diberlakukan slip biru.
2. Mau bayar di bank ataupun ikut sidang sama saja. Jumlah denda yang harus di bayar akan diberitahukan lewat sms yang dikirim antara 2-3 hari setelah kena tilang. Sekarang dikenakan denda minimal mau di bayar di bank atau sidang monggo.
3. Bila ada kendala saat pembayaran briva tilang di bank, dalam hal ini pihak teller mengatakan jika denda sudah di batar padahal kita belum merasa membayar maka langsung datang ke polsek dimana SIM/STNK di tahan guna mendapatkan nomor briva yang baru ( biasanya akan di arahkan ke pusat) namun alangkah baiknya bila bertanya terlebih dahulu ya sama petugas di bagian kanit lantas.
4. Usahakan langsung di urus ya setelah mengetahui jumlah dendanya kalau tidak mau muter-muter untuk ngambil SIM atau STNK yang sudah di kirim ke pusat.
5. Berkas slip pembayaran dan surat tilang di fotokopy masing-masing satu lembar saja untuk arsip kita daripada muter" kaya pengalamanku.

17/05/17

Arti Andeng-andeng

Tuhan membentuk kita menjadi seorang pribadi yang berbeda-beda, dengan ciri dan bentuk yang tak sama persis antara satu dengan yang lainnya. Kita adalah makhluk yang memiliki banyak keistimewaan yang Tuhan ciptakan.

Cerita ini aku dapat dari seorang teman yang sudah seperti saudara buatku. Awal kisah saat aku main kerumahnya, ya namanya teman pastinya ngobrol ngalor ngidul ceritanya lalu sampailah ketika ia berkata padaku.
"Mba andeng-andengnya (tahi lalat) di muka banyak ya". Aku yang mendengar itu hanya tersenyum, karena tidak hanya kali ini mendengar kalimat seperti itu.
"Hehehehe....."  Ga ada kata yang bisa aku katakan untuk membalas mbaku yang satu ini.
"Sama mba, saya juga banyak, berati kita sama ya mba"
"Iya mba, punyaku banyak banget". Balasku sambil melihat dengan seksama andeng-andeng yang ada di wajah seorang wanita cantik di depanku. Ya walaupun ga sebanyak punyaku seh kayanya.

"Dulu waktu masih sekolah, pas naik bus ada seorang kakek bilang sama aku. Ndok andeng-andengmu akeh ya, berati koe orangnya sabar"
"Maksudnya sabar gimana mba....??? Tanyaku, karena aku bukan tipe orang yang sabar dalam beberapa hal seh.
"Kata kakek itu andeng-andeng yang tumbuh di muka itu menandakan orang itu sabar dalam menjalani setiap ujian yang Allah kasih. Allah banyak memberikan ujian untuknya."
"Oooow, begitu to. Padahal andeng-andeng yang ada di wajahku banyak banget mba, kayanya ada deh 13 an"
"Itu berarti mba sabar".
"Mba juga donk, kan kita sama"
"Iya mba. dan anehnya andeng-andeng itu akan bertambah jumlahnya."
"Iya benar. Itu kenapa mba bisa begitu....???"
"Ya artinya itu seperti pertanda bahwa mba sudah bisa melewati satu ujian dari Allah."
"Oooow, gtu. Andeng-andengku banyak ik mba. Ga hanya di muka di lengan juga ada, bahkan di jadi pun ada".  Ceritaku sambil memperlihatkan andeng-andeng yang ada di jari kelingking kananku.
"Enggak mba. Yang dimaksud hanya andeng-andeng yang ada di muka saja".
"Tak kirain di tempat lain juga termasuk"
"Enggak mba. Kalau andeng-andeng mba banyak yang ada di muka itu tandanya mba orangnya sabar. Itu tanda dari Allah mba."
"Iya mba. Mba juga sama sabar dan baik banget".

Entah kepana percakapan ini sering terngiang di pikiranku, dan rasanya gatal ingin membuat coretan tentang ini. Ya mungkim ga sama persis kalimatnya dengan obrolan aslinya, namun inilah kalimat yang aku ingat ketika obrolan itu sedang berlangsung.

Terlepas dari semua itu, entah ini benar atau hanya mitos, Allah menciptakan segala sesuatu pasti ada maksud, fungsi, dan tujuannya masing-masing. Baik yang sudah kita tau ataukah yang masih tersembunyi dari semua yang telah kita muliki (terjadi). Terus belajar bersyukur dengan segala yang sudah kita dapat juga miliki. (17/05/17)


06/08/15

Tempat Menyepi yang Aman

Secara tak terduga ataupun direncana sebelumnya, di bulan februari awal aku datang ke kelenteng Sam po kong setelah sekian lama tak datang kesini. Aneh juga jika dipikir-pikir awal cerita pergi ke kelenteng sam po kong hanya ingin main, seperti ada desakan untuk ke tempat ini dan setelah beberapa kali gagal akhirnya hari itu sampai juga datang kesana, sendirian pastinya.


Bulan februari tahun ini sepertinya menjadi bulan terberatku, rasa kehilangan, cemburu, uring-uringan sekaligus galau juga dilema menjadi satu. Datang kesana untuk mencari ketenangan, ga tau juga kenapa memilih kelenteng sampokong yang aku pikir hanya di tempat ini yang tiket masuknya murah dan aman dibanding aku kongko di pinggir jalan atau tempat lain yang belum tentu nyaman. Ketika kaki melangkah masuk kedalam area kelenteng rasanya adem.

Di sana aku hanya duduk di bangku merah yang ada di bawah pohon sambil mendengarkan musik mp3 dan mencoba menjabarkan pekat dalam otak dalam barisan aksara. Meskipun banyak orang yang mondar mandir namun tak pernah sekalipun aku terusik dengan kehadiran mereka. Sepertinya aku sudah punya dunia sendiri hingga tak mempedulikan mereka. Sekedar duduk-duduk dibangku panjang warna merah itu sudah cukup membuat pikiranku yang kalut perlahan mengendur... mengendur hingga yang aku rasakan teduh dan nyaman. Aku menyukai tenpat ini.

Entah sudah berapa kali aku datang ke tempat ini di tahun ini, bahkaa tak jarang tiap hari bisa aku datang ke tempat ini ketika pikiran lagi kacau dan ada waktu luang. Di tempat ini benar-benar aku mendapatkan ketenangan sepenuhnya, selama aku berada dalam dilema akut yang aku sendiri pun tak mengerti jalan pikiran dan apa yang menjadi permasalahan hingga membuat aku kacau. Ketika bersih-bersih tas tanpa disengaja mendapatkan lembaran karcis yang tersimpan di salah saku kecil, memang ada beberapa karcis yang masih tersimpan dan banyak juga yang sudah terbuang.

Seperti candu, terbiasa menyepi di tempat ini ketika sedang puyeng, menenangkan diri atau bisa dibilang ngademin pikiran. Bersantai, mencari inspirasi lalu corat coret menuangkan apa yang menjadi pikiran dalam sebuah tulisan. Air mineral dan jajan, biasanya seh beng-beng namun seiring waktu jajan yang aku bawa berfariasi.

Kali ini pulang kerja mumpung masuk pagi, sebelum pulang menyepi dahulu di kelenteng sampokong. Berhubung pengen cilok, mampirlah ke penjual cilok dan meluncur ke kelenteng sampokong.  Duduk di bangku baris pertama, mengeluarkan bekal, bolpoin dan kertas meneruskan coretan di kantor yang belum selesai, sambil menikmati cilok, air mineral dan tak lupa aerphone di telinga. Oh ya ada juga biskuit yang aku bawa dari rumah. Kebiasaan buruk menyetok makanan dirumah yang tak jarang aku gunakan untuk bekal untuk dimakan di kantor, di sela-sela pekerjaan.

Dan tadi siang menjelang sore aku kesana lagi, kali ini bekal beda lagi yaitu onde-onde mungil yang aku beli ketika mampir di toko buku sebelum ke kelenteng sampokong. Coretan, jajan, dan mp3 lengkap bukan..., tapi sayangnya kali ini aku gagal menyepi. Bukan karena tempatnya ramai ( memang hari ini lebih rame dari hari biasanya pas aku kesana) namun otakku masih jalan-jalan ke banyak tempat, entah rumah siapa saja yang di datanginya sampai-sampai membuat kepalaku nyut-nyutan. Aku tak mampu menerjemahkan pikiranku dalam bait kalimat, kata yang sudah terteta rapi, alur yang sudah tersusan semuanya berantakan terombang-ambing oleh angin yang datang.
Baru kali ini sampokong tak memberiku kenyamanan pikiran.

Sedari awal hanya ngemil sambil dengerin mp3, tak ada coretan yang bisa aku buat. Tak sampai menunggu senja menyingsing kembali keperaduan, mendung yang membuat jingga enggan menunjukkan kecantikannya senja terbuai hangat peluk awan yang berwarna abu-abu. Rasa-rasanya ada orang yang mendekat dan berdiri di belakangku..., ini terjadi beberapa kali. Sedikit horror ya, hiiiiii.... malas aaah, kalau sudah begini pilih kabur dah, pulang adalah pilihan terakhir dan aku pun beranjak meninggalkan bangku merah namun ingat jangan pergi meninggalkan sampah, buang sampah pada tempatnya. Bukannya takut tapi rasanya belum siap dengan hal-hal seperti ini, ya aku tau jika sosok yang mendekatiku itu baik beliau menyapa sekedar berbincang denganku, hanya ingin menemani saja tak mengganggu, akan tetapi manggil-manggil seperti waktu itu sampai dibuat bingung hilang konsentrasiku. Makanya milih pulang saja lagian juga sudah sore, kebetulan tadi belum pamitan jika pulang kerja mampir 'menyepi' di kelenteng sampokong.

Sudah beberapa kali aku mengalami hal seperti ini, pada hal di awal-awal kesini ga ada firasat ataupun yang tampak aneh, cuma akhir-akhir ini saja aku di bayang-bayangi oleh sosok yang suka muncul di belakangku. Aku menangkap sosok seorang pria dewasa yang gagah dan tampan, kadang manggil-manggil tapi kemunculannya yang tiba-tiba sering membuat kaget. Pernah dalam perjalanan pulang aku bertanya dengan diriku sendiri siapa sosok yang sering mengagetkanku dari belakang ketika berada di kelenteng sampokong dan dalam pikiran seperti ada yang bilang jika ia sosok yang ada di dalam patung yang ada disana tapi entah beliaunya sendiri atau penjaganya juga kurang tau. Ada gambaran yang terlihat nyata di otakku. Andai bisa berkonunikasi mungkin akan aku tanyakan siapa ia sebenarnya, tapi seram ga yaa....

Orangnya terlihat baik, berwibawa, kulitnya putih dalam ukuran cowok, sering tersenyum tanpa berkata apa-apa, baik, dan melihatnya teduh adem rasanya tapi ya sedikit merinding juga mungkin karena belum terbiasa namun apakah benar ia sosok yang ada dalam patung yang ada disana... 



★Ell

05/08/15

Sendal Tali Pink

Bila mau tidur jangan lupa berdoa. Sebuah himbauan yang tentunya sejak kita masih kecil sudah diajarkan oleh orang tua dengan tujuan agar ketika tidur tidak bermimpi yang aneh-aneh.

Sepertinya aku tadi enggak berdoa sebelum tidur lagi setelah sholat subuh. Aku mimpi sedang pergi bareng-barang dengan teman kantor ga tau tujuan ke mana namun waktu itu aku satu mobil dengan Prima, Esti, bu Rena dan satu orang pria yang berperan sebagai sopir. Naik mobil bagus warna hitam dan di tengah perjalanan mobil kita berhenti, naluri sebagai seorang cewek yang suka selfi kami pun turun dan dan berfoto-foto hingga mobil yang kita tumpangi meninggalkan tanpa menunggu kami berlari mengejar namun yang mampu kembali ke mobil hanya bu Rena sedangkan yang lain kempis-kempis kecapek-an hingga akhirnya menyerah, menunggu mobil rombongan yang lain lewat tapi ga sabar nunggu hingga kita memutuskan untuk naik becak. Tidak ada kehawatiran malah kami menikmati perjalanan diatas becak yang kita naiki bertiga.

Melewati jalan perkampungan yang sempit kami masih sempat berfoto-foto. Prima yang ingin berfoto bersama namun ga mau mengambil hp nya sepertinya memang ga ingin menggunakan hpnya dan memintaku untuk meminjamkan hpku padahal hp kita sama namun tetap saja dia ga mau menggunakan hpnya, begitu juga aku yang ga ingin hpku digunakan orang lain hingga memberi usul untuk menggunakan hpnya Esti. Tapi tetap saja berujung hp ku yang aku kasih ke Prima dan mulai berfoto bersama. Baru satu jepretan mata kita sudah di suguhkan oleh pemandangan di samping kanan dimana anak-anak lagi bermain. Begitu bahagia, lalu aku ingin mengambil foto anak-anak yang lagi bermain di jalan dan beberap anak yang ada di teras rumah. Namun hp ku kan di bawa Prima sedangkan di minta tidak boleh dia yang akan mengambil gambar anak-anak itu namun rasa tidak puas dengan hasil fotonya selam ini lah yang akhirnya dengan tanpa ijin mengambil hp prima yang ada di tas ransel. Ga sulit nyarinya karena tas itu tepat berada disampingku aku mengambil hp namun ketika tangan baru masuk ke tas tiba-tiba kantong luar pembungkus tas robek berantakan sepertinya sudah lama banget hingga jika tersenggol sedikit akan hancur. Mungkin ini alasan ga mau menggunakan hpnya, takut plastik luarnya hancur.

Hp pink. Sedikit heran juga antara ingin mengembalikan tapi ingin memotret momen indah yang jarang di jumpai. Tanpa sepengetahuan Prima aku mengambil foto pemandangan di sekitar beserta tingkah polah anak-anak kecil yang menggemaskan. Prima masih asik mengambil gambar dengan arahan Esti. Aku hanya mengambil beberapa gambar lalu menaruh hp pink itu kembali ke tas.
Esti : "Anak-anaknya ngegemesin"
Prima : "Iya lucu-lucu"
Esti : "Itu yang sebelah sana cepet foto in, aku suka dengan anak kecil"
.........
Pembicaraan mereka seperti dialog yang tak bisa berhenti sambil sibuk foto sana sini. Setelah mengambil beberap foto aku pun menaruh kembali hp pink itu ke tas tapi melihat plastik pembungkus yang sudah lapuk kini berantakan hingga isi di dalamnya terlihat semua aku pun menegur dan memberitahu ke pemilik tas namun bukan terkejut atau mengumpulkan isinya malah cuek saja membiarkan semuanya berantakan. Esti yang melihat pun ikut berkomentar sambil memunguti melihat temannya itu disanalah jiwa Prima tergerak dan ikut mengambil barang-barang yang berantakan di luar untuk di pindahkan ke saku yang lain.

Pak berhenti tiba-tiba menyuruh tukang becaknya berhenti dan kami bertiga turun dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot. Di angkot aku duduk tepat di depan pintu menyuruh pria yang tadinya di depan pintu untuk masuk. Bergelantungan seperti seperti kernet angkutan umum. Kadang berdiri berpegang pinggiran atap bagian dalam angkot lalu duduk di bawah, disana aku merasa senang. Sementara yang lain ada di dalam masih bisa bercanda dan melanjutkaa salfi dan aku sudah ga peduli dengan yang mereka lakukan. Hingga di tengah perjalanan aku melihat tepian pantai, dari kejauhan melihat birunya air laut dengan karang terjal juga suara ombak yang menjanjikan kedamaian.

Akhirnya kami ketemu dengan mobil rombongan yang kami tumpangi lagi berhenti untuk menunggu rombongan yang lain. Kami pun kembali ikut mobil rombongan karena sedikit seram juga melihat jalan yang harus di lewati. Seperti di puncak rolkoster dimana turunan curam sudah menanti di depan mata, iya kalau rem angkot bagus kalau remnya blong usai cerita. Pantai bukan tujuan perjalanan hanya kebetulan lewat. Mobil kembali melayu di jalan turunan yang sangat curam, kita menanti di pinggir pantai. Dan ketika sudah sampai di pantai si sopir turun menuju warung yang ada di pinggir pantai untuk mencari kopi sementara yang lain masih tetap di mobil sambil makan perbekalan yang dibawa.

Tiba-tiba aku membuka pintu dan meeghambur ke luar, menuju tepian pantai di sela-sela lapak para pedagang. Mencari-cari sesuatu hingga mata terpana dengan birunya air laut dan lamunan pun pudar dengan sapaan penjual yang menawarkan dagangannya "cari apa mbak..." melihat sekeliling lapak penjual namun ga ketemu yang aku cari "enggak bu, ini mau buang sampat. Tempat sampahnya dimana ya?!." jawabku menanggapi tawaran dari si ibu penjual. "Itu disebelah sana" jawab si ibu penjual sambil menunjuk ke arah pinggir tanah lapang. Melihat yang di maksud si ibu aku pun berlari untuk membuaag sampah yang dari tadi aku pegang. Dari sana aku melihat tempat sampah di dekat mobil kami yang kami tumpangi. Gila disana yang lebih dekat ada kenapa ga melihat rutukku kepada diri sendiri.

Aku melihat teman-teman yang lain pada turun dari mobil berjalan menuju ke warung. Memandangi kemana mereka pergi yang arahnya ke warung-warung sekitar sana, aku tak mengikuti mereka dan tiba-tiba tersadar jika tadi aku turun dari mobil dengan telanjang kaki tidak memakai alas kaki. Entah dari awal aku ga mengenakan alas kaki atau memang tertinggal ketika turun dari mobil untuk buang sampah. Banyak juga penjual sofenir dan langkahku menuju ke salah satu toko penjual asesoris.
"Mba sendal ada ga" tanyaku kepada penjual yang ada di depanku.
"Sebelah sana silahkan pilih, murah saja. Banyak model yang bisa dipilih silahkan mba yang mana..." kata penjual
Aku melihat beberapa cewek yang sedang memilih-milih barang, "model seperti apa yang dicarinya dari tadi milih ga selesai-selesai" rutukku dalam hati melihat tingkah cewek yang ada di depanku. Melihat mereka sedang memilih sendal membuatku pusing.

Mataku tertuju pada sandal warna abu-abu yang agak mengkilat dengan hak yang lumayan tinggi. Aku ga suka modelnya tapi aku ingin beli yang ini.
"Mba yang ini berapa" tanyaku
"Dua puluh lima mba" jawab penjualnya
"Mahal bener. Ini awet ga..."
"Barang disini kualitas bagus, saya jamin"
"Lima belas saja ya"
"Wah belum dapet mba"
"Pasnya berapa..." tanyaku sambil meneliti sendal yang aku incar itu
"Dua puluh. Itu juga sudah murah mba"
Belum juga membayar aku melihat ada garis di sendal sebelah kiri di bagian kiri pas di sambungan talinya.
"Ada yang lain ga, ini sudah seperti ini. Tar kalau putus gimana"
"Dijamin, nanti kalau putus saya ganti" penjual itu meyakinkanku
Dan aku pun membayar dan memakainya. Baru juga telapak kaki, masuk tali sudah putus. Sesuai perjanjian aku minta di ganti tapi sudah ga ada stok yang aku suka. Lalu si embak penjual itu menawarkaa sendal tali-tali tanpa hak dan lebih ringan tapi bagus.

Aku pun mengikutinya mengaabil sandal yang di maksud. Bagus dengan tali serempang, ringan tapi ada yang ga aku suka yaitu warnanya pink. Namun berhubung tidak ada lagi sendal yang aku suka maka terpaksa menerima. Tapi ada satu masalah lagi aku ga bisa cara memakainya.
"Mbak ini cara pakainya gimana....???"
Si mbaknya mengajari terlebih dulu menjembreng sendal yang talinya elastis dan memasukkan kakiku dan mengaitkkan tali yang terjuntai di belakang ke arah depan hingga membentuk selempang.
"Cara mengaitkanny gimana mba?" Tanyaku lagi
"Tinggal dimasukkan saja mba"
"Kaya gini"
"Begitu boleh kaya gini juga bisa. Ya suka-suka saja mba yang buat nyaman gimana". Mba nya menjelaskan panjang lebar sambil mengajari cara mengaitkan.

Melihat teman-teman yang menuju ke satu warung yang cukup besar dan ada yang berteriak jika disuruh kumpul aku pun pergi dengan tergesa-gesa sambil membawa sendal yang kaitannya terlepas hingga menuju kesana dengan telanjang kaki dan sendal aku tenteng di tangan kiri. Di bangku bawah pohon depan warung aku mencoba memakai sendal yang belum berhasil cara mengaitkannya tapi kali ini aku berhasil mendapatkan cara agar kaitannya tidak mudah terlepas lagi. Lalu aku pun berjalan menuju rombongan yang lain tapi baru dua langkah kaki ku terhenti ketika melihat seseorang yang sudah lama tak berjumpa. Melihatku ia berjalan mendekat ke arahku sementara aku hanya terdiam terpaku. "Benarkah yang aku lihat" masih ga percaya dengan yang aku lihat.
"Ada apa kamu berdiri disitu..." seseorang pria dengan wajah ceria penuh semangat, tubuh tegap potongan rambut cepak namun sekarang agak putihan dan sedikit gendut.
Dan seketika itu tangisku pun pecah, aku merindukanya, aku pun berlari menghambur untuk memeluknya. Tangisku semakin kencang sudah tak peduli dengan orang-orang di sekitar sana. Pria itu memelukku sambil tertawa kecil. Dalam dekapan hangat beliau menenangkanku dalam tangis. Aku pun terbangun dengan tangis dan air mata membasahi pipiku. Masih terisak melihat kamar sudah terang dengan matahari yang masuk menerobos kaca jendela.

Seketika kenangan lama memenuhi pikiranku. Bagaimana begitu perhatiannya beliau kepadaku, yang selalu memperhatikanku, mendukung keputusanku dan juga mengajarkanku untuk berani. Masih ingat bagaimana kami berdua menelusuri ruangan gelap dan menerka-nerka setiap ruangan yang belum sepenuhnya jadi. Almarhum pak Nardi, semoga senyumnya sebagai tanda bahwa beliau sudah tenang dan bahagia disisiNya. Ketika mengurai mimpi ini pun air mata masih berjatuhan. Bapak ku yang baik tenanglah di surga aku percaya engkau selalu menjaga dan melindungi anakmu yang nakal namun yang sangat kau sayang ini. Terima kasih karena engkau bukan hanya rekan kerja namun juga orang tuaku. (30/06)


Coretan yang lalu

23/12/14

Hujan dan Flu

Sepertinya hujan kali ini dalam rangka menyambut hari natal yang tinggal 2 hari lagi dirayakan oleh sodara-sodaraku yang beragama nasrani.

Setelah beberapa bulan bisa bertahan di pergantian musim akhirnya drop juga. Sebenarnya bukan hal baru buatku bila datang musim penghujan lalu demam dan bersin-bersin serta influensa melanda ini dikarenakan adanya alergi terhadap udara dingin yang bakal membuat flu melanda. Mungkin ini menjadi satu alasanku saja sebenarnya karena meskipun sudah tau begitu namun masih saja tidak bisa menjaga tubuhku sendiri agar sistem imunku tidak cepat drop.

Dari kemaren hidung sudah mulai gatal, ini pertanda flu akan datang, dan benar saja dari kemaren malam bikin heboh seisi rumah karena suara bersinku yang terus menerus konser tanpa henti baik siang maupun malam. Salahku juga seh sebenarnya sudah tau daya tahan tubuh lagi turun, berangkat kerja pagi hanya menggunakan cardigan bukan jaket seperti biasanya, itu juga tidak dikancingkan ngalamat sampe kantor kedinginan harusnya kan pakai jaket tebal yang bisa menutupi badan sampai leher ini malah pakai kain tipis. Selain itu ditambah makan telat dan sore hari mandinya juga kemalaman, mandi ideal kan sebelum jam 5 ini jam 6 sore baru mandi keasikan corat coret takut kata-kata yang terkumpul tersapu air dan berantakan tak beraturan lagi.

Sudah tau badan mulai ga enak dan hidung berubah jadi mata air yang tak pernah surut melernya tidak langsung minum obat, huuuuft... Satu hal yang tidak aku sukai terlalu ribet karena harus merendam obat dan harus menimbang tingkat kepahitan dengan indra pengecapku.

Hari ini sama seperti kemaren pergi kerja tidak memakai jaket hanya mengenakan cardigan dan itu membuat perut menjadi kembung, namun sudah diolesi minyak kayu putih juga di bagian telapak kaki biar hangat namun tetap saja dingin. Suara sudah mulai sengau, bersin-bersin plus meler masih tetap berlanjut, segelas teh hangat yang aku seduh pun tak mampu menjaga agar tubuhku tetap hangat, entah ini badanku yang lagi error atau memang udara di ruangan memang dingin dari pendingin ruangan yang kebetulan habis selesai di perbaiki beberapa waktu lalu ditambah udara di luar agak sedikit mendung. Cardigan seharian tak lepas di badan untuk menghangatkan tubuhku meskipun tak sepenuhnya hangat tapi lumayanlah sedikit tertolong.

Dan ini tadi pulang kerja sudah tau hujan, beberapa teman juga sudah memperingatkan jika diluar hujan tapi melihat hujan yang hanya rintik-rintik kecil pikirku kalau cuma hujan seperti ini sampai rumah juga baju kagak bakal basah kuyup, akhirnya nekat menerobos hukan tanpa menggunakan mantel yang selalu tersimpan rapi di bagasi. Hanya mengganti sepatu dengan sendal yang selalu aku bawa. Ternyata hujannya tak merata ada yang rintik-rintik beberapa kilo di depan hujan lebat, trus kering, lalu ujan lagi. Aaah hujannya dilema ni.

Di tengah perjalanan ternyata hujan lebat tapi juga masih sama ga merata tingkat intensifitasnya namun beberapa kilo sebelum sampai rumah hujan semakin lebat, nah kalau sudah begini ikut-ikutan dilema antara mau memakai mantel tapi tinggal bentar sampai rumah tidak pakai bisa basah kutup, akhirnya perdebatan dimenangkan si nekat dan sampai di rumah dengan basah kuyup yang berujung demam dan meler.

Mandi biar tidak pusing setelah kena air hujan lalu di hangatkan dengan segelas teh panas namun kepala mulai pusing, intensitas bersin meninggkat "menyerah" obat flu yang beberapa waktu lalu aku beli di minimarket menjadi sejata (beli namun tidak dimimun hanya buat berjaga-jaga saja). Sejak di kantor sudah di suruh minum obat biar tidak tambah parah, aku sendiri pun punya pikiran seperti itu tapi takut ngantuk makanya obat flu yang selalu aku bawa tidak aku minum. Baru setelah di rumah obat flu itu aku konsumsi, pahiiiiiiit...
Saatnya hibernasi Save the energy. Byeeee....(23/12) 

10/12/14

Punggung yang Sejak Lama Kunanti

Pagi-pagi dari kamar sebelah terdengar keceriaan lagu JKT 48, tumben bener ade perempuanku memutar lagu itu. Sepertinya lagu ini sudah lama tidak terdengar di rumah ini, sambil bermalas-malasan memandangi langit yang sedikit mendung dari jendela yang sudah dari subuh aku buka untuk mempersilahkan udara pagi masuk ke kamar. Apa-apaan ini pagi-pagi sudah berisik, sambil mengingat hari tapi setahuku ini bukan hari sabtu yang sudah menjadi rutinitas pagi-pagi akan terdengar suara berisik dari teman-teman kuliah ade yang selalu menginap di rumah tapi ini rabu bukan sabtu, tidak seperti biasanya yang hingga siang tak terdengar satu suarapun kecuali dialog dari drama korea yang selalu menjadi menu pagi di layar televisi maupun lepi miliknya.

Beranjak dari tempat tidur adalah hal yang harus di lakukan jika tidak ingin berlama-lama merasakan dinginnya malam yang belum seluruhnya menguap terkikis kehangatan matahari pagi. Ketika melewati kamar ade aku melihat seragam putih merah tergantung rapi di pintu dan samar-samar aku mendengar suaranya, benarkah itu suaranya..., ragu. Antara iya dan tidak, apakah aku berhalusinasi karena beberapa hari ini memilirkan bocah kecilku. Tidak. Aku tidak mimpi, ini benar dia yang beberapa hari lalu aku pandangi dari balik jendela tempo hari.

Rasanya lega melihat Putra ada di rumah ini lagi, melihatnya tiduran sambil membawa hp yang berisi lagu-lagu penyanyi favoritnya JKT48, sambil sesekali  menggerakkan tangan dan mengikuti lirik yang sudah pasti dia hafal dengan benar. Ingin mendekapnya namun ada sesuatu yang mendorongku untuk tidak melakukan hal itu lalu aku langkahkan kakiku ke bawah untuk beres-beres rumah berlanjut dengan menikmati segelas teh hangat sambil nonton film drama korea yang kini sudah menjadi agenda rutin jika tidak mendapat jawdal kerja pagi.

Segelas susu, sepiring mangga yang sudah di kupas dan juga cemilan sudah ibu persiapkan untuk Putra, bahkan sudah ditawari ingin sarapan sama apa bayangkan sebegitu pedulinya orang rumah kepadanya. Tak lama Putra pun turun dan main di bawah bersamaku, Aku tak percaya bila ini anak kecil yang dulu selalu ada di rumah ini, yang kemana-mana selalu ikut, selalu di cari bapak ketika seharian tak melihatnya dan selalu tertarik dengan hal yang berbau horror. Bukan sebuah kebetulan sebenarnya karena Putra di titipkan di rumah karena ibunya ada urusan yang takutnya akan memakan waktu lama sehingga tidak bisa jika membawa Putra lagian juga harus sekolah. Putra berubah tidak seceria dulu, aku kehilangan sosoknya yang selalu ceria, kecerewetan dengan segala pertanyaan keingin tahuannya dan pipi buletnya itu kini sudah tidak ada.

Anak kecil ini sekarang menjadi pendiam, tak banyak gerak dan tak terdengar tawa hingga teriakannya seperti dulu. Mas Pupu ku sudah berubah, bahkan dia juga seperti asing di rumah ini, beberapa kali kami sempat saling berpandangan seakan masing-masing saling mencari tau apa yang sedang ada dalam pikiran lawan namun berakhir dengan diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dan juga tak ada yang bisa aku lihat dari dirinya begitu tertutup dan dalam. Tak sanggup memandang mata sayu itu, binar mata yang dulu sering aku lihat hilang entah kemana perginya.

Segala macam makanan yang di tawarkan di tolaknya bahkan susu yang sudah di buatkan pun tak disentuhnya lagi, iba melihatnya seperti ini. Dia perasa seperti halnya aku jadi ketika kami hanya berdua tak ada perbincangan yang terjadi bahkan obrolan yang aku mulaipun tak ada tanggapan darinya. Aku ingin mas Pupu yang seperti dulu, anak yang ceria, pintar, aktif, kritis dan keceriaannya itu kini seakan tak pernah ada, mata binar sekarang terlihat sendu menyimpan sesuatu entah apa. Andai aku bisa melihat apa yang menjadi pikirannya sekarang, anak kecil yang kuat dimana harus dewasa sebelum waktunya dan mengerti tanggung jawab yang menantinya. Mas Pupu beli es krim lagi yoo..., mainanmu masih banyak tertinggal disini, foto juga video kelucuanmu juga masih tersimpan rapi.

Keadaan membuat segalanya berubah, tak peduli siapa orangnya tak pernah ada yang bisa melewati perputaran waktu dan segala proses kehidupan yang selalu berjalan seiring denting yang selalu berirama.

03/12/14

Peduli

Berangkat pagi di kala musim hujan mulai datang itu perlu perjuangan tersendiri, beda acara kalau bangun langsung berangkat kagak pake mandi itu cuma butuh secuil kemalasan yang terbuang (memang dasarnya malas mandi pagi jadinya cari alasan). Sebelum jam 6 harus sudah sampai kantor bila tak mau kena potong. Jangankan sarapan untuk membuat segelas teh panas pun tak sempat, sebenarnya bukannya tak sempat namun karena bangunnya mepet dan ga mau ribet makanya milih buat di kantor saja meskipun rasanya sudah tak senikmat seduhan teh di rumah.

Minggu ini aku kalah cepat dengan pak Kawit, bapak yang satu ini kedisiplinanya masih terjaga walaupun sudah pensiun dari TNI. Baru datang sudah ditawari makan, sekalian saja daripada nanti kesusahan minta tolong buat beli makan, terlebih kalau hujan datang. Walaupun begitu ketika makan juga harus nunggu sampai kerjaan selesai.

Kali ini menu sarapan sama seperti kemaren nasi gudeg, ga di rumah juga di kantor menu utama gudeg. Sedikit perubahan jika minggu-minggu lalu menu pagi pecel sekarang gudeg. Tapi yang sekarang lupa request nasi separuh. Inilah bukti kebaikan orang-orang di sekelilingku, kalau ga nawarin beli makan ya sering ngasih sesuatu bahkan kalau ga keliatan juga di tanyain kaya satpam dan beberapa pekerja gedung lainnya aku sudah balik ke semarang sejak dua tahun lalu tapi kadang masih ditanya "lama ga keliatan kemana...?!" Ya mungkin mereka baru ada kesempatan tanya sekarang kali. Jika papasan selalu saling menyapa, ini sebenarnya cuma untuk menghormati mereka namun malah menjadi kebiasaan setiap keremu selalu saja ada interaksi yang terjadi meskipun banyak yang ga aku kenal namanya.

Pagi ini ga hanya bisa nitip beli sarapan tapi juga mendapat segelas teh hangat sebelum aku minta, jarang-karang OB membuatkan teh kalau ga di suruh, tapi selama aku masuk pagi sering dapat tuh, bahkan kalau masuk middle ataupun sore kalau yang jaga pak Yus juga mendapat segelas air putih meskipun akhirnya ga aku minum karena sampai sekarang belum bisa minum air putih pakai gelas kaca, ga enak juga sudah susah-susah bawain tapi enggak di terima, kalau yang lain sudah hapal kalau aku selalu bawa botol air minum sendiri kalau kerja.

Selain mendapat segelas teh hangat aku juga mendapat oleh-oleh beruba dodol yang bahan dasarnya bukan dari kelapa namun dari waluh. Sayur yang biasa dibuat kolak. Manis namun juga rasa waluhnya tetep terjaga, semakin kreatif saja ya kuniler di negeri ini, dulu ubi yang dibuat berbagai macam jajan sekarang gantian waluh.

Tidak sampai disitu, siangnya kita makan pizza. Kalo yang ini bukan mendapat rejeki dari orang namun kita sendiri yang iuran untuk membeli pizza. Ini gara-gara dengar hari jumat besok ada yang mau ke pizza hut, mengingat bos-bos pada pergi sehingga bisa bebas kemana pun suka. Dan karena sudah lama tidak makan-makan masa ya makan cuma gorengan terus sekali-kali naik tingkat lah. Lagian juga sekarang sudah ga ada yang di palak makanya hasil kesadaran sendiri iuran untuk beli pizza. Ok, lain waktu kita pesta lagi teman kalau ada rejeki ya. Janji

Inilah untungnya punya teman-teman yang bisa gantian. Karena tidak mudah mendapatkan teman yang bisa saling toleransi antara satu dengan yang lainnya di tempat kerja, seringnya malah saling sikut, seling menjatuhkan dan saling cari muka di depan bos. Kalau yang ini sudah seperti sodara sendiri, bahkan kalau dipikir-pikir waktu kita lebih banyak dihabiskan bersama di kantor ketimbang dengan keluarga, sodara ataupun teman di tempat lain. Bayangkan jika kebersamaan dari awal kerja hingga sekarang, dari "babat alas" kantor berdiri hingga pindah nama sampai juga pindah kepemilikan masih saja sama-sama. Sudah 10 tahun kita bekerja bersama, bosan ga bosan juga seh sebenarnya jadi sedikit banyak sudah tau sifat masing-masing bahkan kadang saling berbagi cerita, berbagi keluh kesah bersama yang berujung dengan kata SABAR..., dinikmati saja, ga usah terlalu dipikir malah bikin pusing. (3/12)

24/11/14

Penyesalan

Sore itu ketika menuju ATM pulang kerja untuk mengambil uang, ya iyalah ke ATM tujuannya mengambil uang masa iya beli nasi kucing. Di depan tangga pintu masuk perbelanjaan yang ada di samping kantor aku melihat sosok kakek dengan bakul dan plastik sebagai penutup dagangannya. Kakek penjual kacang rebus dan tape ketan, duduk di salah satu anak tangga dengan harapan ada pengunjung yang menengok dan membeli dagangannya. Keluar dari ATM ada pikiran untuk mampir dan membeli beberapa tape ketan dagangan kakek biar cepat habis dan bisa pulang mengingat hari sudah mulai gelap.

Tape ketannya enak, udah gitu murah pula, dulu aku pernah membeli ketika habis dari belanja, sebenarnya hanya jalan-jalan menghilangkan bosan dan melemaskan kaki. Waktu itu hanya beli tape ketan saja, tapi juga mau beli kacang rebusnya tapi pikirku buat apa hari sudah malam kalau dibawa pulang siapa yang mau makan, secara aku sampai rumah juga sudah larut malam kalau menunggu pagi iya kalau masih enak dimakan, kalau basi gimana...? Pikiran itulah yang membuatku sedikit menjadi ganjalan meskipun ada rasa iba, tak tega melihat kakek yang sudah berumur jam segini ( baca sudah larut malam) tapi masih ada di luar rumah menjajakan dagangan. Tak tega saja melihatnya, dalam pikiranku langsung membayangkan andai ini kakekku, walaupun sebenarnya aku sudah tidak punya kakek tapi tetap saja rasa iba menguasaiku atau membayangkan bapak di masa tuanya, enggak... Jangan sampai, biar bapak menjalani masa tuanya banyak bermain dengan cucu-cucunya saja.

Rasa takut dan ga tega bahkan untuk menghampirinya saja ada rasa ketar-ketir, dag dig dug jantungku, aku merasakan detaknya lebih cepat. Kalau dulu aku menyesal mengapa tidak membeli kacang rebus yang tinggal sedikit malah membeli tape ketannya saja. Sebenarnya kan bisa memborong kacang dan membeli beberapa tape ketannya. Ini pemikiran pas pulang ketika melihat satpam di pos. Bodohnya... Tadi bisa beli kacang kalau berpikir di rumah tidak ada yang makan bisa sikasih bapak satpam buat teman minum kopi. Seperti halnya hari ini pas di parkiran terbesit pikiran kenapa anggaran yang buat beli manik-manik buat beli kacang dan tape ketan saja biar kakek yang jual bisa cepat pulang dan beristirahat di rumah. Ingin balik tapi rasa takut membuatku berpikir "besok lagi saja kalau ketemu"

Dari kecil aku memang takut melihat orang-orang yang sudah tua tapi masih berkeliling menjajakan dagangannya. "Ternyuh" ya itu tadi membayangkan kalau ia kakekku bahkan dulu lebih suka menyingkir ketimbang melihatnya dan untuk membeli saja tak berani, padahal orang-orang seperti merekalah yang patut di teladani dengan usia yang sudah tak muda lagi masih bekerja yang mungkin memang mereka menjadi tulang punggung keluarga atau di masa tuanya ia tidak mau menyusahkan anak-anaknya hingga memilih menggunakan sisa-sisa tenaga untuk mencari uang dengan berjualan, hidup bukan hanya meminta-minta mengharap belas kasihan orang-orang yang lewat atau ditemuinya.

Di hari tuanya yang seharusnya digunakan untuk menikmati hidup, bersantai, bermain dengan cucu-cucu malah memilih bekerja untuk mendapatkan uang. Bahkan tak jarang mereka di usia senya yang masih bekerja ini mereka lakukan karena tak tega bila suatu ketika cucu-cucunya meminta uang untuk jajan namun ia tak dapat memberikannya. Tapi apakah anak-anak mereka tak ada yang melarang untuk berjualan dengan menjajakan dagangannya, menempuh perjalanan berkilo-kilo dengan mengandalkan sisa tenaga di waktu muda. Kalaupun ingin punya kegiatan alangkah baiknya yang tak melakukan aktifitas perjalanan jauh, mungkin membuka kios, atau berjualan di rumah sehingga si kakek tak begitu capek dan bila rasa capek melanda bisa langsung istirahat.

Dari orang-orang seperti merekalah kita seharusnya malu, di usia senja mereka masih melakukan kegiatan yang bisa dibilang berat. Tak mau berpangku tangan ataupun meminta-minta hanya berharap belas kasihan dari orang lain. Namun ia gigih dan tetap bertahan baik itu dari cuaca panas, hujan dengan harapan dagangannya habis dan pulang membawa hasil penjualan. Usaha dari kerja keras, mereka tidak ingin dikasihani ataupun diberi, jadi bila anda kasihan melihat orang-orang tua yang masih jualan cobalah untuk membeli dagangan mereka agar dagangannya cepat habis dan ia bisa pulang untuk beristirahat. (18/11)


Coretan lama yang belum sempat tayang

19/11/14

Raket Nyamuk ~ Luka

Rutinitas pagi jika berangkat kerja agak siang, bersih-bersih rumah lalu menikmati segelas teh hangat sambil melihat film kartun di televisi sebelum drama korea yang di tunggu tayang. Karena sekarang sudah memasuki musim penghujan meskipun bisa di bilang telat hingga membuat nyamuk-nyamuk mulai mencari mangsa di pagi hari. Ya mungkin karena awal-awal hujan kali ya sehingga nyamuk-nyamuk itu meluapkan kegembiraan dengan mencari mangsa di pagi hari.

Duduk manis (menurut fersiku ya) di depan tv, berhubung kipas angin ga dinyalakan sehingga membuat nyamuk mulai mengintai. Pikirnya karena badan bulatku adalah mangsa terlezat buat sarapan kali ya hingga beberapa nyamuk mulai mengincar menunggu ku terlena baru mencuri darah segar milikku. Mata tajamku (cieeeee...) mulai mengincar nyamuk yang perlahan mendekat, kagak tau apa kalau tanganku sigap, sekali tepuk nyamuk gepeng di jari lentikku (lebay pooool) padahal jari-jarinya bantet kaya lengkuas (hahahahaaa...).

Mengambil raket nyamuk adalah solusi terhebat yang pernah aku dapat. Sekarang berarti acaranya menikmati segelas teh hangat nonton kartun sambil mencari nyamuk. Satu per satu nyamuk mati terpanggang dalam jeruji yang dialiri listrik. Nyamuknya juga pintar sukanya mepet-mepet ke kaki membuat sedikit susah untuk menangkapnya. Pleteeeek.. Pleteeeek... Pleteeeeek... Nyamuk mulai pada mati di tanganku, tapi ooow ooow... Ada satu kejadian yang bisa menjadi pelajaran dan mengubah pemikiranku, apakah itu...

Ketika ingin menangkap nyamuk dengan raket nyamuk yang sudah aku persiapkan, tanpa sengaja jari kelingking kakiku kena. Aku ga tau bagaimana kejadiannya karena terlalu cepat. Aku ga merasakan sakit hanya kaya tersenggol gitu saja seh tapi ketika aku lihat jari kakiku kulitnya terlihat putih. Aku mikirnya paling kulit ariku terkelupas, ya maklum saja kulitku tergolong tipis bisa dibilang kulit kentang jadi tersenggol benda yang keras dikit langsung lecet atau luka. Pas aku pegang juga ga sakit, juga ga aku temukan kelupasan kulitnya, mungkin putih karena melepuh kulitnya pikirku seh begitu namun dipegang ga ada tanda-tanda melepuh juga. Karena ga sakit sudah ga aku pikir lagi kan, mulai konsen dengan televisi yang menayangkan darama korea.

Namun ketika kembali mengincar nyamuk yang datang lagi, aku melihat ada darah keluar dari luka dari senggolan raket nyamuk agak banyak darah yang keluar. Spontan ingin mencari kapas dan betadin, namun yang dicari kagak ada yang ketemu menuju ke kamar ibu hanya menemukan kapas dan revanol, ya sudah pakai itu saja. Aduuuh susah juga buka tutupnya butuh sedikit tenaga dan keahlian khusus, huuuft... berhubung revanol tinggal dikit sehingga harus hati-hati dalam meuangkan ke kapas agar tidak tumpah dan tidak membasahi semua bagian kapas, meskipun kapas yang digunakan hanya kecil. Ketika ingin meletakkan kapas di atas luka tadi aiiiih... Darahnya sudah menetes di lantai, seperti ketika terkena sayatan pisau yang darahnya keluar tanpa bisa menunggu. Aku buat jalan pikirku mencari tempat yang agak terangan dibanding kamar ibu yang sedikit gelap tapi darahnya malah kemana-mana, langsung tempel bagian luka dengan kapas yang sudah dilumuri revanol dan membersihkan darah yang bercecer di lantai sebelum kering. Enggak sakit di tempel revanol, ya mungkin karena lukanya juga tidak dalam kali ya, eeh ga tau dalam atau enggak lukanya karena yang terlihat hanya putih saja.

Aku ga menyangka kalau raket nyamuk bisa membuat luka hingga mengeluarkan darah yang banyak. Pikirku raket nyamuk itu ga bahaya, kalaupun dialiri listrik tapi paling juga kecil. Ya memang benar pas kena tidak merasakan apa-apa tidak separah ketika tersetrum kabel (pengalaman dari kecil sering tersetrum ketika menyalakan televisi, tersetrum ketika benerin atau tanpa sengaja menyenggol antena televisi dan ketika mencoba benerin kabel dari peralatan rumah tangga yang rusak meskipun terkadang ga berhasil malah tambah rusak) rasanya sedikit pegal dan kesemutan di bagian yang tersengat tapi ini enggak ada rasanya, tiba-tiba saja jari putih gitu saja.

Padahal di awal-awal jaman pertama kali punya raket nyamuk (sepertinya sekarang sudah tiga kali ganti) itu anggapanku ga menyakitkan dan ga bahaya tapi ternyata bisa membuat luka juga, hehehhehe.... Jadi hati-hati ya dalam penggunaannya jangan di buat main-main dan jangan coba-coba iseng. Gunakan sesuai fungsi dan kegunaan. (05/11)

04/09/14

Kembali Bengkak

Sudah 4 hari ini kaki kalau malam terasa nyut-nyutan. Sejak terkilir di Puncak Suroloyo dua minggu yang lalu pergelangan kakiku jadi sering terkilir dengan tiba-tiba. Luka belum juga sembuh, bengkak belum juga hilang namun sudah berkali-kali terkilir lagi di tempat yang sama (kaki kanan) ya memang sih lebih baik di kaki kanan, apa jadinya coba kalau gantian kaki kiri yang kena bisa ngesot kali jalannya, sekarang saja jalan masih agak terpincang-pincang dan kalau menaiki anak tangga masih bertumpu pada satu kaki. 


Sebenarnya luka sudah mendingan tapi hari senin kemarin sempat keseleo dan itu rasanya lumayan dibanding yang sebelum-sebelumnya (bukan terkilir yang pertama kali ya) bunyinya juga tak senyaring yang pertama dan karena itu pula lah beberapa malam ini terasa sakit. Terasa sedikit perih di bagian dalam dan nyeri di bagian betis hingga lutut, apakah mungkin ada robekan kembali di jaringan atau pembuluh darah yang belum sepenuhnya menutup.



Susah cari tukang pijit disini, ada seh tapi sudah terlalu sibuk dan sepertinya aku sudah kena black list deh olehnya :(

Ya maklumlah kalau tukang urutnya sudah terkenal, panggilan kemana-mana apalagi yang mengundang orang-orang gedongan, sadar diri lah kalau yang satu ini :) sedangkan tukang urut yang satunya di hubungi enggak bisa-bisa. Ibu yang sering melihatku jalan agak terpincang-pincang terutama saat menaiki tangga meskipun sudah aku tutup-tutupi karena memang susah untuk jalan cepat seperti biasanya, aku melihat ada khawatir dalam tatapannya namun bagaimana lagi bila mencari tunang urutpun susah.



Ketika aku bilang kalau ada teman yang mengusulkan untuk diperiksakan ke dokter sekalian di rontgen biar ga salah penanganan, ibu langsung saja membenarkan malah di suruh hari itu juga suruh berangkat, huuuft salah omong sepertinya sudah tau aku paling malas kalau berurusan dengan dokter, rumah sakit dan obat malah di iya kan.


"Ga usah pijit ya nok. Cepat sembuh, jangan sakit-sakit lagi. Sehat terus ya ell " sepenggal permohonan dari ibu. Aamiin aku sehat terus ibu.
bengkak senin (01/08)
Enggak cuma bagian yang sisi kanan yang aku tempel koyo untuk mengurangi rasa nyut-nyutannya namun sisi kirinya juga sedikit membengkak.
bengkak selasa (02/08)
Posisi masih di kantor saat itu rasa nyut-nyutan bener-bener mantep hingga menjalar sampai ke lutut. Mungkin karena terlalu banyak duduk kali ya.

bengkak kamis (04/08)
Kalau yang ini narsisnya baru saja, meskipun enggak begitu nyut-nyutan namun perih di bagian dalamnya masih terasa. Mata kaki sudah kaya bola tenis, sisi kiri juga belum kimpes dan urat juga masih kelihatan.

Untung saja teman-teman ga ada yang sadar kalau jalanku sedikit terpincang-pincang kecuali mba wid yang tadi menanyakan namun aku masih bisa berkelit enggak ada apa-apa, syukurlah huuuuft....

::
Harusnya kalau bengkak di kompres dengan air dingin atau es batu bukan malah di tempeli koyo. Kesalahan yang tak boleh di ulang

03/09/14

Tiga Patahan, kreeeeek...

Siang, ketika sedang menikmati pemandangan di puncak suroloyo yang sudah lama aku ingin, pemandangan lumayan lah terlihat gunung slamet, gunung merapi, gunung sindoro dan gunung sumbing berdiri dengan gagahnya menembus awan. Disana kita bisa menikmati pemandangan dari 3 gardu pandang yang berbeda.

Ketika ingin beralih ke gardu pandang yang lainnya, menuruni anak tangga sambil memegang kamera sesekali mengabadikan gambar yang aku rasa bagus tapi kreeeek, aduuuh..., bukan suara ranting kering yang tak sengaja aku injak tapi kakiku terkilir ketika menuruni anak tangga. Rasanya sejuta bener deh, suaranya begitu keras dan merdu hingga kini masih terngiang di telingaku bisik cintamu loooh malah dangdutan, beneran sakitnya sampai ke ubun-ubun lha langsung pusing, terasa kesemutan dan untuk melangkah pun teramat perih mengiris hati, menghujam jantung dan menyayat kalbu hingga ku tak berdaya, halaah mulai kumat puitis kacangannya (akibat galau terlalu lama).

Balik lagi

Beneran sakit, kakiku untuk sekedar menuruni anak tangga pun rasanya nyeri dan kesemutan. Mengingat kakiku yang sakit untuk melanjutkan perjalanan ke gardu lain sepertinya tak mungkin lalu aku berhenti di persimpangan jalan antara jalan yang membawa aku naik dan jalan menuju ke puncak selanjutnya. Entah sudah berapa orang yang datang dan pergi tapi aku masih duduk disana sambil mengurut-urut pergelangan kakiku dengan minyak kayu putih yang senantiasa menemaniku kemanapun aku pergi. Lama mengurut tapi masih saja sakit, bahkan terlihat mulai sedikit bengkak, ya Tuhan bagaimana ini semoga besok sembuh. Tiga kali bunyi kreeek ketika kaki keseleo dengan bunyinya yang nyaring dan rasanya yang aduhai membuat kepala jadi sedikit pusing dan sedikit merinding.

Sepertinya ada urat yang keluar jalur, menumpuk antara satu dan lainnya ini aku lihat ketika aku urut pelan-pelan ada beberapa bagian yang terlihat sedikit terasa bergeronjal  seperti polisi tidur yang ada di tengah jalan, ngurutnya bukan pas yang sakit, boro-boro di urut di pegang saja sakit banget. Oh ya ketika aku coba goyang-goyang dengan asumsi agar urat-uratnya tidak kaku eeh malah bunyi lagi kreeeeek sakiiit... hingga saking sakitnya air matapun sampai keluar sendiri tanpa dikomando dan itu juga tak mampu mengurangi rasa sakitnya, kalau ga ingat di tempat umum sudah mewek deh dari tadi, maaaaas... Ketika situasi seperti ini yang aku panggil bukan ibu tapi dia, ga tau kenapa dalam hati teriaknya begitu. Apa mungkin karena dari awal penjelajahan hingga hari ke dua ini masih berharap dia ikut serta kali ya :(

Karena bukan tukang urut susah juga memisahkan dan mengembalikan urat-urat ke tempat semula. Sekian lama memijit lumayan lah bisa sedikit di gerakkan, dan aku pun memilih untuk tidak meneruskan ke gardu pandang selanjutnya. Cukup kan melihat pemandangan dengan latar belakang gunung dan perbukitan kali ini, mungkin disambung lain kali meskipun aku tak yakin juga ada penjelajahan selanjutnya, feelingku berkata ini penjelajahan terakhir di kota gudeg ini, walaupun masih banyak tempat yang belum aku datangi.

Ketika di BBM sama adik sepupu yang menanyakan keberadaanku yang memang dia tidak bisa ikut karena ada tes di Solo, karena adik sepupuku sudah pernah kesini ia pun hanya bilang "selamat berfoto bersama awan" jujur aku tak begitu menyukai tempat ini, sudah terlalu komersil dan ga alami lagi (menurut penilaianku pribadi). Untuk mengurangi nyeri serta bengkak, ketika sampai di parkiran aku coba membeli koyo (tanya-tanya ke warung aja siapa tau beruntung) kebetulan kali ini ada meskipun tinggal koyo cabe tak apalah siapa tau cocok. Dengan koyo inilah kaki kananku masih bisa mengontrol rem mengingat jalan berliku, berbatu dan beberapa kali nyasar.

Memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan sempat mampir ke apotek untuk membeli salep buat otot terkilir dan meredakan nyeri. Dengan terpaksa perjalanan berakhir tanpa mencari daerah jajahan baru yang dekat-dekat sekalipun karena aku merasakan kaki kananku mulai berdenyut sedikit sakit ketika di gerakkan, benar saja ketika aku lihat bengkaknya semakin gede ditambah rasa panas koyo yang sedikit menyakiti kulit kaki yang tertempel ketika terkena matahari meskipun aku sudah memakai kaos kaki. Beberapa kali selama perjalanan ke kos ku pandangi telapak kaki dan menggerak-gerakkannya namun semakin sakit dan bertambah gede aja ya sampai-sampai sepatuku pun jadi terasa sempit. Tenang-tenang sebentar lagi sampai kos hatiku coba menenangkan. Mau ke dokter tapi takut kalau malah di perban-perban trus di beri obat gede-gede dan banyak aiiiih, noooo.....

Akhirnya sampai kos juga, setelah tadi mampir sebentar untuk membeli sarapan, aiiiih jam 3 sore baru sarapan ... Baru buka pintu dan naro tas eh kaki ketekuk lagi di tempat yang sama, dan ketika berbalik untuk menggantung jaket sekali lagi ketekuk, lalu ketika di kamar mandi terulang lagi (rasanya pingin nangis sejadi-jadinya) aduuuuh sungguh muantap sakitnya ada kali hingga level 10, sakitnya sampai ke ubun-ubun. Makan tak enak di urut juga sakit sedangakan salep yang aku beli sepertinya tidak ada rasanya katanya mbak yang jaga di apotek tadi bisa meredakan nyeri juga tapi tetep aja sakit. Pengen pulaaaaang...

Bengkak semakin bertambah gede, ada kali sebesar bola tenis. Oh ya tadi di jalan pas lihat mata kaki mulai bengkak buru-buru berharap agar kaki tidak ikut bengkak seperti dulu pas jatuh dari motor yang bengkaknya hampir sampai 1 bulan lebih sudah mirip kaki gajah gedenya. Menghilangkan segalapikiran buruk, ga boleh berpikir macam-macam meskipun sempat berpikir apakah cidera ini ulah dari pikiranku ketika di pom bensin melihat satpam yang tangannya di perban (sepertinya cidera) hmmmm....bisa jadi juga begitu. Teman bilang suruh ngompres pake es batu, buru-buru beli es batu di warung dekat kos sekalian beli counterpain (salep untuk pegal-pegal) untuk mengurut-urut.

Bolang tahun lalu juga di daerah Kulon Progo aku terkilir gara-gara terpeleset ketika di Goa Kiskendo dan petualangan sekarang terkilir lagi, dua kali cidera yang memiliki dua persamaan yaitu memakai celana yang sama dan rasa sakitnya sama namun ini sedikit lebih seh sebenarnya. Dan ketika coretan ini aku tulis di pad memo pun kakiku masih di atas es batu dengan rasa sakit, nyeri dan ngilu dengan satu harapan mata kaki yang gede bisa pulih dan sakitnya hilang. Anehnya es yang dingin pun seakan tak terasa padahal di daerah sini juga permasuk daerah yang sedikit dingin.

Tadi ketika akan ke minimarket beli counterpain pas mau menyeberang karena minimarketnya berada di seberang jalan hampir saja ketabrak motor dari arah belakang yang jalannya ngebut, padahal aku udah nyalain lampu sein dan udah ambil arah tengah. Sekali lagi kakiku yang sakit mau tak mau jadi tumpuan, nah tau sendiri kan gimana rasanya. Masih mau bilang aku rapopo kalau jalan saja udah terpincang-pincang lebih tepatnya di seret. Ell ga boleh manja, ga boleh demam, ga boleh sakit, ga boleh lembek ya...

Sempat tadi mau cerita sama bapak kalau kaki sakit pas bapak sms nanyain pulang kapan tapi takut, takut dimarahi, takut bapak hawatir. Adakah yang sudi memberikan pelukan saat ini padaku.


17 agustus 2014