Tampilkan postingan dengan label curahan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curahan hati. Tampilkan semua postingan

30/10/18

Gelap


Dari jam 18.00 mati lampu. Ini mati lampu yang terlama selama aku di desa. Mati lampu posisi di rumah jelas aman tinggal tidur sambil dengerin radio sudah pas. Tapi beda cerita jika posisi masih di jalan. Sudah kanan kiri sawah, ga ada teman selama di perjalanan bahkan kendaraan yang dari arah sebaliknyapun hanya sesekali lewat.

Penglihatan sudah mulai berkurang, apa lagi disaat gelap seperti ini. Ada sedikit rasa takut terlebih, baru kali ini berkendara disaat gelap dengan kondisi jalan yang sepi. Perasaan ketar-ketir takut nanti salah jalan dan bisa lebih jauh dari rumah membuat nyaliku ciut, lalu aku kurangi kecepatan agar bisa lebih jelas melihat jalan dan sekitar, tapi karena sendirian melihat kanan kiri sawah dan pepohonan malah jadi takut. Sangat gelap dan ga ada siapa-siapa sampai sholawatan biar hati tenang, ketika ada kendaraan yang lewat rasanya sedikit lega tapi jika ga ada yang lewat mulai ada rasa takut, takut nyasar dan lihat jalan tidak begitu jelas.

Tidak menguasai medan terlebih jalan gelap dengan kanan kiri sawah yang luas dan tidak ada barengan kendaraan yang searah denganku, kalaupun ada berada jauh di belakang sengaja memelankan agar kendaran belakang mengejar eeh malah belok atau simpangan kendaraan yang berpapasan dari arah yang berlawanan itu melegakan walau sebentar. Adanya hanya degdegan dan buru ingin cepat sampai rumah, tanpa adegan nyasar ataupun salah jalan. Dan perasaan lega datang ketika sudah masuk gapura dekat rumah, ceees adem rasanya.

Aku tidak takut gelap, hanya saja tidak begitu suka dan ga nyaman dengan gelap karena di dalam gelap seperti melihat banyak yang berseliweran. Wuuus... wuuuuuus... wuuuuuuuus....., ternyata nyamuk cari mangsa.(29/10/18)

29/09/18

Ruang di Zana Nyaman

Sore, karena punya tujuan mencari adaptor untuk pompa asi yang hilang karena kecerobohanku yang tidak teliti. Ternyata tidak mudah mencarinya, atau mungkin saja aku yang tidak tau tempat yang bisa untuk mendapatkannya. Berbekal informasi dari teman agar mencarinya citraland (CL) - matahari, ya mungkin karena dia seringnya main ke mall makanya menyarankan untuk mencari disana dan dia juga membelinya di sana.

Melawan rasa nyaman memilih tetap tinggal di kamar walaupun terlihat sumpek dan terlihat memprihatinkan, akhirnya aku tekatkan untuk beranjak pergi. Menerobos udara di luar yang sangat-sangat panas hingga membuat kepalaku sedikit pusing dan mata berair kuberjalan ke pusat keramaian. Sendiri, langkah kaki menyusuri setiap lantai, berpapasan dengan banyak orang tak aku pedulukan mereka karena memang bukan mereka tujuanku.

Kususuri setiap lintasan, kudatangi setiap toko yang kuanggap bisa membantuku namun tak ada yang punya barang yang aku maksud. Setiap lantai, setiap sudut, setiap lorong terus kususuri seorang diri sampai-sampai aku ga ngerti dimana aku ini sekarang berdiri, hanya mengandalkan ingatan yang sangat minim tentang seriap sudut mall dan langkah kaki semoga tak pernah lelah melangkah. Entah bagaimana penampilanku waktu itu sama sekali tak peduli, begitu banyak orang tak seorangpun yang aku kenal, sesekali bertanya kepada pemulik toko itulah sesaat pemecah kebisuan.

Sepertinya aku tak sanggup lebih lama lagi ditempat ini. Aku rindu dengan duniaku, mulailah aku cari teman di dalam tas bututku. Sebuah handsfree aku pasang di telinga dengan lagu yang terpasang di hp, meredam apa yang ku dengar ini membuatku sedikit tenang. Walaupun lagu yang kudengar tak bisa mengalahkan musik yang ada di sana, tak bisa mengalahkan keriuhan suara-suara di sekitarku bahkan sampai tak bisa menebak judul lagu yang sedang ku dengar. Tak pedulu, sama sekali tak peduli dengan musik yang kudengar tak terdengar samasekali karena bukan list laguku yang ingin kudengar, bahkan menggunakan handsfree tanpa suara pun sering kulakukan baik ketika sendiri ataupun di tempat umum.

Terdengar egois, mungkin memang aku orang yang paling egois di dunia ini biarkan apa penilaian mereka kepadaku. Jujur tidak setiap toko aku datangi untuk bertanya apakah mereka punya barang yang aku maksud, aku hanya mendatangi toko yang aku anggap ingin kudatangi padahal bisa saja salah satu toko yang ga aku datangi malah menjualnya. Ya, bisa saja seperti itu dan aku tau itu tapi tetap aku lakukan. Karena aku tak cukup pandai untuk berinteraksi dengan banyak orang. Hanya merekalah yang aku anggap 'nyaman' saat pertama kali lihat yang aku datangi.
"Ada apa dengan mereka sampai tak membuatmu nyaman?" Entahlah, aku pikir mereka baik dan memang baik, namun entah kenapa tak jarang aku menangkap body language yang membuatku tak nyaman. Otakku seperti sensor yang memberikan tanda dari sifat, sebenarnya tak baik bagitu mudah menilai orang bahkan sebelum berinteraksi samasekali.

Seperti membentengi diri. Tak membolehkan siapapun mendekat, bahkan suara-suara sekalipun menolaknya. Meskipun berada di keramaian namun aku tetap berada di dalam duniaku sendiri yang sama sekali tak terusik dengan keadaan sekitar. Dan sepertinya sekali lagi harus kuterobos keramaian itu seorang diri.

Terkadang untuk mendapatkan sesuatu membutihkan perjuangan keras, itupun juga bisa saja tak mendapatkan hasil. Sesulit apapun, sekeras apapun kita tetap harus melakukannya, walaupun itu tak kita sukai sekalipun. (29/09/18)


31/08/18

Tak lagi sama



Dan kini tempat yang dulu selalu bisa memberikan ketenangan bagi jiwa lelah ini, kini bukan lagi menjadi tempat yang sama. Perlahan semuanya telah berubah hanya untuk kepingan rupiah. Kenyamanan sudah tergusur dengan riuhnya ambisi kepopuleran dari orang-orang yang membutuhkan pengakuan di dunia. Entah kemana lagi aku harus mencari tempat yang bisa memberikan ketenangan batin selain ketika berada disampingmu???

Kesederhanaan yang dulu hadir kini sudah tak ada lagi.
Kebaikan dan keramahan yang dulu selalu menyapaku ketika kembali kini sudah tak ada lagi.
Bangku merahpun sudah tak ada lagi, yang ada sekarang bangku mungil warna-warni yang mengajarkan kesendirian dan keegoisan.

Ini bukan lagi 'rumahku' yang dulu.
Ini bukan lagi tempat yang selalu membawaku untuk kembali dan kembali.
Ini bukan lagi tempat yang memberikan batas ketenangan dari riuhnya suara yang hadir.
Ini bukan lagi 'rumah' yang menuntunku untuk bertemu dalam pencarian dan mengenal jatidiriku.

Kini ku kembali namun hanya bisa memandang dari kejauhan.
Kini ku datang dan berbaur dengan kebisingan dari aneka suara yang memusingkanku.
Kini ku datang entah untuk siapa?
Tak ada lagi sapa ataupun sua untukku darinya.

Aku datang dan menjadi bagian dari mereka.
Aku hanya meminta sedikit ruang agar bisa mengagumi beliau meskipun dari kejauhan.
Aku yang tak lagi mengenali 'rumahku' kini.
Apakah aku yang salah tempat, salah jalan, atau memang mereka yang sudah mengubahnya.
Menggusur fungsi, mengaburkan apa yang ada untuk tetap bisa bertahan dan menjadi besar. (31/08/18)

06/08/15

semu yang terlihat nyata

A ; kamu yakin sayang dengan pria itu
B ; (terdiam sesaat) entah lah... aku juga ga tau apa aku benar-benar menyukainya
A ; bagaimana seh kamu, sudah jalan bareng, sering menghabiskan waktu bersama, kalau bbm an sampai berjam-jam tapi belum paham juga dengan perasaan sendiri
B ; ya memang gitu kenyataannya, gimana donk....??!
A ; kamu tu memang aneh. Kalau aku perhatikan kamu sebenarnya tidak mencintainya, yang kau rasakan hanya perasaan sesaat ketika kau sendirian dan menemukan seseorang di tengah keterasingan.
B ; maksudnya....
A ; begini. Dikala kamu tersadar setelah beberapa waktu sibuk dengan duniamu sendiri dan menyadari sudah tidak ada orang di sampingmu lantas dalam sepi kau mencari-cari seseorang dan kebetulan dia melintas di depanmu. Mungkin saja dia tersesat ketika mencari rumahnya atau hanya sekedar jalan-jalan lalu ketika dia menyapa dalam hati masing-masing mulai timbul ketertarikan. Entah ini siapa yang mulai dan selebihnya kalian mulai dekat dan dekat.
Ketika dia sadar bahwa ia harus segera pulang, kau mulai gelisah ingin menahannya namun juga kasihan bila ia kemalaman di jalan.
B ; mungkin juga seperti itu. Jika dia hanya bertamu lalu apa aku punya hak untuk menahannya pergi...
A ; nah itu yang membuat aku salut. Kamu ga pernah memaksakan orang lain untuk menurutimu. Bahkan kau lebih memilih untuk memendam semuanya sendiri walaupun dengan resiko akan sakit.
A ; bisakah kau sekali-kali tegas, katakan tidak bila nantinya akan menyakiti dan menyusahkanmu. Jangan semua yang datang kau persilahkan masuk, jangan yang mengiba kau kasihani bahkan suka rela menawarkan diri membantu meskipun ia tak membutuhkan pertolongan. Sudah tau dimanfaatkan tapi masih saja baik.
B ; (tersenyum dan menghela napas panjang) lalu apa kesimpulannya. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya....???
A ; kamu sudah tau apa yang harus kamu perbuat. Bahkan aku yakin kamu sudah tau sebelum mereka melakukan itu dan akibat yang ditimbulkannya padamu, jadi belajarlah untuk mengelak. katakan 'tidak' bila itu memang tak baik.
Dan satu lagi aku yakin bahwa kamu ga sungguh-sungguh menyayanginya, kamu hanya butuh teman yang bisa mengeksplor apa yang kamu ingin lakukan.
B ; iya kamu benar. Kenapa aku tak pernah bisa menyembunyikan apa pun darimu. Apa pun yang aku lakukan, yang menjadi inginku bahkan kau tau apa yang aku rasakan.
A ; sampai kapan pun kamu ga akan bisa menyembunyikan apa pun dariku. Karen aku adalah detak dari semua pemikiranmu (hati kecilku) (22/06)

18/06/15

Harus Bagaimana...?!

Inikah sebenarnya yang dirasakannya 'malu kepada tetangga-tetangga karena aku'
Aku juga sebenarnya tidak ingin seperti ini namun apakah daya skenario yang ditulis Tuhan sudah seperti ini, apakah aku harus berontak atau kah banding kepada Tuhan....???
Apa hak ku hingga berani menjatuhkan ketidak adilan atas kuasaNya sementata nafasku saja Dia yang memiliki.


Rasa yang tak biasa

04/05/15

Kisah Untuk Cerita Masadepan

Kosong. Apa sebenarnya yang terjadi, ketika diri ini mulai bisa menerima Semua yang terjadi tiba-tiba saja hati ini merasa sakit. Apakah ini pertanda bahwa aku belum benar-benar iklas melepasmu dengan segala kenangan yang berada di dalamnya... ? Bagaimana cara melepaskan diri dari belenggu masa lalu yang seharusnya sudah aku tinghalkan sejak lama.

Sebenarnya aku sudah paham benar jika ini akan menyakiti diriku sendiri tapi tolong bantu aku, hai tuan tunjukkan padaku bagaimana caranya kau dengan mudahnya melupakanku, mengubur segala kenangan itu. Harusnya kau bawa juga semua kenangan itu pergi bersamamu. Aku tak ingin mengusikmu, bila pun kau telah bahagia aku turut senang. Namun apakah kau tak pernah sedikitpun mengingatku...?! Aaaah tentu saja tidak ya, apalah aku bagimu hanya seorang perempuan manja yang tak bisa apa-apa dan hanya bisa menyusahkanmu saja, MAAF... 

Mungkin benar kata orang jika kau mengenalnya dengan menjadi sosok yang sempurna, sebenarnya kau tak benar-benar mengenalnya. Namun buatku tuan adalah sosok sempurna dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena selama denganmu tak pernah kurasakan sedikit pun kecewa ataupun sedih, kau selalu hadirkan keceriaan, damai dan nyaman itu untukku.

Berharap itu sakit. Karena tak semua yang kita inginkan bisa berjalan seperti yang kita harapkan dan menjadi nyata. Matikan semua harapan tentangmu yang sudah tak pernah mengharapkanku. Biarkan waktu yang mengobati luka, biarkan waktu yang menyimpan segala kenangan berharga saat ini hingga suatu saat kenangan itu hanya menjadi sepenggal cerita yang membuatmu tertawa dan berlihat "konyol" bila mengingatnya.

Penggalan kisah untuk cerita dimasa yang akan datang. Proses pendewasaan yang tak mudah untuk menjadikanmu pribadi yang berkarakter seuruhnya.

Bagaimana Ini...

Hari sudah beranjak pagi, matahari pun sudah membias dari kaca jendela. Pagi yang cerah dan penuh semangat namun tak begitu dengan diriku. Tak ada yang istimewa selain kata malas dan suasana hati yang lagi ga karuan. Menggalau lagi ya...??! Bukan menggalau namun perasaan yang aneh mulai datang memenuhi setiap rongga di dalam pikiranku.

Apa yang kau rasa....?????

Entahlah. Yang aku rasa hanya kosong dan hambar, padahal aku belum sempat mikir apa-apa di pagi ini. Boro-boro mikir nyawa juga belum sepenuhnya ngumpul semua, masih ingin bermalas-malasan meskipun jam sudah menyuruhku untuk segera bangun. Aaah siapakah pagi-pagi begini sudah mengirimkan gangguan sinyalnya padaku. Kamu... Dia... Ia.... Kalian... Atau siapa nih..., jangan begitu donk. Biarkan aku menikmati pagiku yang sebetulnya tidak begitu bagus dengan memperpanjang waktu tidurku, siapa tau bisa melanjutkan mimpiku dan tahu persis mimpiku semalam biar ga samar seperti sekarang ini.

Beginilah aku, kepekaan perasaan yang lebih dari biasanya sekarang sering membuatku pusing sendiri bagaimana tidak jika emosi mereka (orang-orang yang aku kenal dan berinteraksi denganku) yang tidak sedikit menerobos masuk dan bercampur dengan isi kepalaku yang lain. Pusing ya...?! Kalau itu jangan di tanya, kadang malah membuat kepalaku nyut-nyutan serasa ingin pecah saking kalutnya. Sedangkan jika ketahuan darimana datangnya sinyalnya itu yang di tanya boro-boro mau cerita di tanya saja bilangnya ga ada apa-apa. Pusing kan... Banget.

Bagaimana cara mengontrol emosi yang baik itu sebenarnya, mengapa sampai sekarang masih belum bisa aku lakukan. Bagaimana menjadi penggembala bagi semua kerumitan dan sinyal yang nyasar ke pikiranku, agar tak berulah untuk bisa duduk manis. Bagaimana untuk membendung semua yang mencoba masuk agar tak berjubel begini. Bagaimana... Bagaimana... Bagaimana....

Dan semoga kejadian seperti tempo hari, perasaan yang mengalir dari jabat tangan hanya sebuah kebetulan dan itu hanya halusinasi ga benar adanya. Boleh ga seh aku berharap begitu... Hehehehe. 

Jika menurut Ari itu kelebihan baru, harus di syukuri lah iya kalau aku sudah bisa ngontrol emosi ga ada masalah ini aku saja masih kelimpungan suruh bersyukur, coba saja kamu rasakan kalo ga pecah deh rasanya. Oh ya ingat malah suatu ketika ketika aku menanyakan, tepatnya bercerita tentang apa yang aku rasakan si masnya malah bilang kalau aku benar punya kelebihan turunan dari si mbah, nah kan apa ga tambah ngeri tu.

Akhir-akhir ini kepekaanku dengan makhluk di lain dunia juga sedikit dipertanyakan, sering mencium bau tertentu, melihat seperti ada orang ataupun sekelebat bayangan yang ga terlihat. Aduuuuuh apa to ini malah begini jadinya. Mengingat mimpi saja belum bisa malah nambah-nambah yang lain.

Ajari aku cuek dan 'dablek' donk.....

14/02/15

To Yongsa

Tanggal 14 februari, tahukah hari apa....??? Mungkin sebagian akan menjawab valentine atau hari kasih sayang, beberapa orang akan menjawab hari sabtu karena aku tak merayakan atau tak mengenal valentine namun jika itu di tanya padaku akan aku jawab 

HAPPY B'DAY YONGSA... 

Semalam teng jam 12 malam ingin rasanya mengirimkan ucapan itu padamu namun aku takut. Berkali-kali aku merangkai ucapan dalam barisan abjad akan tetapi selalu tak pernah terkirim.Untuk itu hari ini aku buat coretan untukmu, kado berisi doa dengan segala kebaikan ada di dalamnya menjadi kidung malam yang aku lantunkan untukmu.

Wahai cerminku rasanya sudah lama kita tak saling menyapa, ga diskusi, ga ngeyel-ngeyel bareng ya entah kapan saat-saat itu bisa terulang lagi. Sepertinya kita sudah disibukkan dengan dunia kita sendiri-sendiri. Kangen juga dengar marahnya yongsa, pertanyaan-pertanyaan yang begitu ajaib yang kadang harus mencampurkan logika dan wajib bertanya kepada eyang google itu juga terkadang tak bisa aku jawab. Diskusi berbobot, jujur sampai detik ini belum ada yang bisa menggantikanmu dalam debat dan spontanitas berpikir. Kamu hebat #dua jempol untukmu 

Yang selalu aku ingat perbincangan tentang "raja dan panglima" yang saling melengkapi dan berjalan beriringan. Seperti halnya aku yang suka menggunakan hati dan kamu yang menggunakan logika. Miss u yongsa.... #siram aer


08/02/15

Ketika Diam Menjadi Misteri

Sungguh indah cara Allah membuat skenario untukku. Menempaku, mengajariku perlahan bagaimana cara bersyukur, mengontrol emosi dan bagaimana menjaga hatiku hingga ketika saatnya kecewa itu datang tak begitu terhanyut dalam kecewa

Mungkin bisa dibilang beruntung bisa memiliki perasaan peka dibanding orang kebanyakan. Dan karena ini pula kini semua pertanyaan yang hampir setahunan ini hanya berputar di otakku terjawab. Terima kasih buat mba (N) yang sudah menjadi penerjemah dari semua keganjilan yang tak aku temukan jawabnya.

Alasan mengapa tuan pergi menghilang begitu saja... Hai tuan ingatkah sebelum menghilang berkali-kali aku bertanya ada apa karena waktu itu aku merasakan kegelisahan, kebingungan dan kesedihan dalam diri tuan namun tak ada jawab malah menghilang tanpa jejak.

Sudah mencari tahu tentangnya namun tak ada respon, "syukurlah dia menghilang...., tutup buku ajah tentang dia" itulah saran yang diberikan mba (N) setelah menjelaskan apa yang di lihatnya. Aku sudah iklas dia pergi dari beberapa bulan setelah dia menghilang namun pertanyaan-pertanyaan itulah yang menyeretku dalam ingatannya, ditambah jebakan nyaman selama bersamanya, inilah yang membuatku tarik ulur dan perdebatan dalam diriku.

Memang selama ini tanpa disadari ada keganjilan dari perilaku dan juga cerita yang dilontarkannya. Apa pun itu syukurlah semuanya sudah terbuka, dan yang paling membuat kelegaan bukan perilaku ataupun kekecewaan terhadapku.
"Mungkin saat itu dia lagi ada masalah, dan sepertinya dengan perempuan..."
Ketika aku tanya, tak ada penjelasan. ''Waallahu a'lam ga jelas mba..." itulah jawaban yang diberikan mba (N), mungkin juga ga etis menguak kejelekan orang. Kalau sudah nyangkut cewek angkat tangan deh kagak mau penasaran lagi.

Jujur aku penasaran tapi sudahlah mungkin ini yang terbaik untuk semuanya. Bagaimanapun aku berterima kasih buat segala yang telah terjadi karena banyak hal yang bisa aku pelajari dan menempaku menjadi lebih dewasa dan lebih baik.

Tak ada dendam, marah ataupun sakit hati karena dimataku Tuan tetaplah sosok yang sempurna. Terima kasih untuk semuanya, semoga bahagia selalu menyertai Tuan. Maaf bila aku tau segalanya dari orang lain karena entah mengapa setelah mendengar penjelasan dari mba (N) hampir semua pertanyaan yang selama ini bermunculan di otakku langsung menghilang.

06/01/15

Tak Berdaya Melawan Flu

Akhirnya tumbang juga setelah beberapa kali terkena guyuran hujan (meskipun memakai mantel, mengabaikan sarapan pagi (sebenarnya tidak hanya sarapan tapi juga makan siang) hanya karena urusan yang sebenarnya antara penting dan enggak seh sebenarnya. Mendapat shift malam ya tau sendiri kan udara malam kejamnya seperti apa terhadap badan, apa lagi beberapa hari yang lalu begitu tak bersahabat denganku meskipun sudah memakai jaket tetap saja buatku dinginnya bisa sampai menusuk ke dalam kulit.

Puncaknya hari jumat yang lalu berangkat kerja hidung sudah seperti anak sungai di musim penghujan dan bersin-bersin tak pernah memberi jeda untuk istirahat alhasil hidung sudah kaya badut (merah merona) kebetulan saat itu ada teman yang cuti jadi mau tak mau harus berangkat meskipun disana hanya memberikan kegaduhan dengan suara berisik dari bersinku (untung saja kantir sepi). Berangkat mampir ke minimarket membeli obat warung pikirnya cari obat yang tak membuat ngantuk dan hasilnya memang tak ngantuk namun bersin pun juga tak sedikitpun memberi jeda. Sampai di rumah badan mulai terasa dingin mencari obat yang biasa aku minum namun tak ada yang tersisa terpaksa minum obat yang lain. Menunggu obatnya bereaksi masih sibuk dengan ingus dan suara bersin. Tak berapa lama berselang akunpun terbuai dalam tidur akibat reaksi obat yang aku minum. Sepertinya meskipun aku terlelap namun pikiranku bergerilya entah kemana saja perginya, ada satu hal yang masih aku ingat dengan jelas tentang penggalan mimpiku entah itu ada artinya ataukah tidak karena aku bukanlah ahli dalam tafsir mimpi. Semoga semuanya baik-baik dan tak ada hal yang terjadi.

Sepertinya aku bangun terlalu pagi karena setelah terbangun di tengah malam aku sudah tak bisa lagi melanjutkan tidurku dengan pulas. Bangun tidur badan rasanya super lemas bahkan untuk sekedar bangun ke kamar mandipun tak sanggup. Badanku.... ada apa dengannya sebekumnya aku belum pernah merasakan hal semacam ini, pikirku mungkin ini pengaruh dari obat yang aku minum semalam reaksinya masih tersisa di pagi ini. Aku coba tidur kembali mungkin dengan tidur begini badanku sedikit enak. Kali ini bangun siang bahkan sampai melewatkan acara televisi yang selama ini menjadi konsumsiku setiap pagi (bukan drama Korea melainkan petualangan menjelajah negeriku tercinta).

Badanku masih sangat lemas, seperti orang linglung mengingat hari yang benar-benar aku tak tahu. Lama aku berpikir sekarang hari apa hingga aku mendengar suara percakapan di lantai bawah. Aku ingat sekarang hari sabtu dan nanti malam ada pengajian di rumah ini. Inisiatif ingin membantu ibu namun badan buat bangun susahnya bukan main, mencoba mencari suara-suara gaduh yang ada di bawah ya untunglah hari ini ade perempuanku libur jadi tak begitu perlu memaksakan  diri untuk ikut membantu. Ga tau mau ngapain untuk bergerak saja badan sakitnya bukan kepalang, sebenarnya capek juga berbaring di tempat tidur bosan bosan dan bosan.

Seharian hanya tidur hingga benar-benar aku melewatkan malam panjang ini hanya berbaring di tempat tidur. Tak tau hari, situasi di luar bahkan jam pun aku tak tahu dan hari itu juga aku sama sekali tak menyentuh hp, ga juga melihat tayangan televisi ataupun mendengarkan lagu seperti kebiasaanku, yang ada hanya tidur tidur dan tidur bingung sendiri dengan tubuhku yang tiba-tiba drop total. Hingga aku melewatkan matahari, melewatkan senja juga malam yang aku yakin juga tak ada bintang yang nenghiasi lekatnya malam.

Keesokan hari badan sudah agak mendingan, sudah bisa di gerakkan namun jalan sempoyongan dan kepala masih terasa berat. Pagi ibu ke kamar membawa segelas teh hangat dan cemilan ini agar ada makanan yang masuk ke perut, karen beberapa minggu sebelumnya nafsu makanku mulai kagak beraturan padahal lagi musim pancaroba dimana virus, kuman dan bakteri lagi aktif mencari mangsa. Meski hanya menghabiskan waktu di kamar, bermain game di hp bersama Putra. Bapak menyuruh periksa namun aku menolak karena pastinya obat yang didapat bakal sekarung deh, suruh tes tensi siapa tau pengaruh dari darah rendah yang sering aku akami. Anjuran bapak tak aku jalankan, ketika tak sengaja melihat ke cermin alangkah terkejutnya karen ada lingkaran hitam di mataku, kalau biasanya lingkaran hitam ada di kelopak mata tapi ini lain, mengelilingi mataku jadi seperti memakai kacamata gitu deh.

Hingga kini pun sakit masih betah nempel bersamaku. Aku gagal. Aku kira sekarang sudah tak mudah terserang flu namun nyatanya masih hingga sekarang. Sehat sehat sehaaaaat....

30/11/14

Ada Apa Dengan Tubuhku

Beberapa bulan ini aku sering merasakan detak kencang dari jantungku yang melebihi biasanya. Tepatnya setelah demam ketika selesai kakiku yang bengkak dipijat, entah sudah berapa kali aku mengalami dag dig dug yang ga karu-karuan seperti ini. Rasanya melebihi ketika kencan pertama setelah jadian atau berpapasan dengan orang yang kita sukai.

Napas menjadi berat, detak jantung lebih cepat dan kencang, itu membuat pernafasan ga stabil udara yang masuk seperti tertahan dan hanya separuh dari kapasitas seharusnya yang bisa aku hirup. Mirip seperti orang kena asma tapi ini masih bisa napas normal ya.

Ada apa gerangan, semoga ini pertanda baik. Aku juga pernah mengalami hal seperti ini beberapa tahun yang lalu, bahkan itu lebih parah dari yang sekarang. Rasanya aah seperti mau mati saja napas sudah seperti orang lari ribuan kilo ga nemuin air, ditambah jantungnya berdetak kencang dan tak beraturan. Mungkin jika di kartunnya jantung sudah detak detuk bikin bergetar seluruh tubuh kali ya.

Napas sesak, deg deg-an dan badan menjadi lemas. Benar-benar lemas tak bertenaga dan sudah tak ada minat untuk melakukan kegiatan apa pun bahkan untuk melangkah juga sudah malas sepeti tak ada tebaga yang tersisa. Bahkan ketika memejamkan mata sepertinya aku bisa merasakan degup jantungku sendiri. "Perbanyak istifar" sepertinya itulah satu-satunya cara yang bisa aku lakukan. Ada apa dengan tubuhku...  Selalu ada rahasia dibalik semua yang terjadi (30/11)

20/11/14

For U ...

Hai Tuan bagaimana kabarmu disana, masihkah Tuan menyempatkan mampir sekedar melihat coretanku diantara kesibukan setumpuk file dan tugas lain yang harus segera Tuan selesaikan. Mungkin Tuan akan bertanya-tanya, "mengapa sekarang otakku tak seproduktif dulu..., dimana coretan-coretan yang mengatas namakan hati yang banyak bertebaran disini seperti biasanya... Mungkin juga Tuan akan berpikir jika aku perlahan sudah melupakan Tuan" benarkah sepintas terbesit pertanyaan seperti itu dalam benak tuan.

Hmmmm... Bisa jadi pikiran tuan itu benar jika melihat isi coretan di blog krisanputihku karena sudah jarang bahkan bisa dibilang minus bercerita tentang Tuan, tapi bukankah di coretan sebelum-sebelumnya sudah aku sebut jika sudah mendapat tempat baru untuk menerjemahkan rasa dari sekeping hati, ya di bias hujan disana tak henti merangkai abjad dengan coretan hanya berkisar tentang Tuan... Tuan.... dan tuan.... Yang lain bagai iklan, numpang lewat.

Tuan apakah pesan-pesan singkatku sudah diterima dan dibaca..., bila benar pasti tuan mengerti dan bisa merasakan apa yang saat ini terjadi. Ketika ada pesan masuk di hp-ku selalu berharap itu dari tuan, tapi setelah aku buka hanya kecewa karena pesan itu bukan dari tuan. Pesan singkatmu selalu aku tunggu, kehadiran Tuan selalu kunanti.

Tuan... Tuan... Tuaaaaaaaaaaaaaaaaaan... Aku ingin cerita. Berharap mendapat sapaan khas darimu, masihkah bisa aku dapatkan hal seperti itu... Bisakah Tuan berikan satu pelukan hangat saat ini aku lelah tak tau kemana langkahku mesti melangkah. Selalu ingat apa pun tentang Tuan dan itu membuatku bertambah KANGEN sekangen-kangennya.

Ini sudah pertengahan november dan sebentar lagi awal desember tiba, apakah tuan akan datang seperti sebelumnya. Menyapa dan membuat kenangan tapi kali ini menetaplah aku mohon. Janji ga akan cerewet asal tuan menyelesaikan hukuman, ingatkah burung kertas dan vcd koleksi drama korea yang tuan janjikan, ingatkah janji itu ketika malam tiba waktu masih di kota Jogja.

Jika tuan tidak ingat tak apa, akan aku ingatkan semuanya meskipun aku yakin ingatan tuan lebih tajam dariku paling juga tuan hanya pura-pura lupa, permainan psikologi seperti biasanya. Tuaaaaaaaaaaaaaaaan, miss u so.... (21/11)


Siang menunggu alaram berbunyi persiapan kerja

19/10/14

Kangen Mas Pupu




Sekarang aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, aku mendekatpun dia malah beranjak pergi ataupun sembunyi bahkan terkadang lebih memilih untuk pura-pura tak melihat meskipun kita sudah bertatapan meskipun kucoba yang lebih dulu mengawali menyapa dan senyum kepadanya namun dia memilih untuk diam dan mengalihkan pandangannya.

Dia sudah besar sekarang, sudah bisa menentukan sikap maunya apa dan bagaimana. Ya dia sudah pergi dan sepertinya tak mau lagi mengenal kami di sini, dan kami menghargai keputusannya karena meskipun di paksa dia tak akan mau kemari lagi. Sejak puasa kemaren Putra sudah tak mau lagi main ke rumah bahkan selalu menjauh dan mengelak untuk tidak berpapasan dengan kami. Entah ada apa gerangan yang membuatnya berubah begitu dengan cepat, mungkin ada kata-kata diantara kami yang menyinggung perasaannya yang sensitif. Dia memang masih kecil namun pemikirannya jauh lebih dewasa dari umurnya.

Keluargaku mengenalnya ketika dia masih bayi, waktu itu keluarganya yang menjadi tetangga baru yang kebetulan tinggal di depan rumahku, kesibukan ibunya yang mesti mengurusi tukang-tukang yang mengerjakan rumahnya inilah yang sering membuat ibu membawanya ke rumah, kebetulan juga setelah Dila yang juga masih anak tetangga sudah besar dan orang tuanya pindah tidak ada lagi anak kecil yang menyita perhatian dan bisa dipinjam untuk diajak main ke rumah.

Sejak kecil Putra sudah terbiasa di rumah bahkan tak jarang ia tak mau pulang, memilih untuk tidur di rumahku bahkan untuk bisa tidur disini ia sering beralasan menunggu Ayahnya pulang jualan (ayahnya kalau pagi jadi dosen sedangkan sore memantau anak buahnya yang berjualan sepatu) itu juga kalau sudah tidur dan di bopong pulang selalu pakai acara nangis. Kami mengasihinya seperti keluarga sendiri, pakaian, susu, jajan bahkan hingga mainan banyak di rumah. Sampai-sampai sering ada tamu yang salah sangka jika dia cucu di rumah ini. Kalau weekend selalu diajak jalan-jalan meskipun hanya ke toko buku, putar-putar kota ataupun hanya membeli cemilan bahkan belanja bulanan ia sudah menyukainya bahkan menikmatinya dan dia tidak pernah rewel minta ini itu.

Aku ingat jika dia sudah di janjiin untuk pergi pas harinya tiba bakalan di tagih dan tak menerima alasan apapun, aku sering berdalih belum bayaran dan seperti orang dewasa Putra akan bilang "nanti Putra beli pake uang Putra yang diberi pak dhe, uangku kan banyak nanti tak belike jajan wes" hahahahaha.... menggemaskan. Kalau enggak dia akan bilang "hutang Li bayarnya nanti kalau Ti sudah gajian". banyak celotehnya yang tak disangka-sangka, bahkan jika diantara kami ada yang sakit Putra begitu perhatian bertanya ini itu sampai tau lho kebiasaan dan kesukaan kita semua.

Yang aku ingat ketika sudah bergulat dengannya dia tak pernah aku perlakukan seperti anak kecil, gak mau mengalah dan menjatuhkannya ataupun saling tindih adalah hal biasa, sering jika sore tiba berburu sanres bareng aku menggunakan kamera poket dia menggunakan kamera hp dan lup untuk memperjelas (ini dia belajar dariku setelah melihat hasilnya) selalu menyukai acara misteri, antusias bercerita yang dia dengar ataupun dia alami, bertanya hal yang dia lihat adalah sudah menjadi kebiasaan hingga mendapatkan jawaban yang diterima nalar dan ngeyelnya itu lho (bukan aku yang nularin ya) selalu ada saja jawaban untuk ngeless. Kadang bikin jengkel tapi seringnya bikin kangen. Kini hanya tinggal kenangan-kenangan yang bisa aku ingat lewat barang-barangnya yang masih ada disini, foto maupun video tentang keceriaannya yang menghidupkan rumah ini. Miss you mas pupu, Jadilah anak yang pandai, melindungi ibu dan kakak perempuanmu dan sekolah  hingga tinggi biar kaya ayah ya hingga S3 jadi kebanggaan keluarga. Kami menyayangimu dari jauh.


Artikel yang lain:

28/09/14

Perubahan

" Ga mau aku ingin jadi orang jahat saja, sudah bosan baik sama orang"
" Eeh, mba ga boleh begitu, kita mesti baik kepada semua orang"
" Enggak aah mba. Yang lain juga jahat, sekarang jadi orang jahat saja "
" Ini orang, enggak boleh begitu. Meskipun orang lain jahat tapi mba kudu tetap baik sama mereka "
" ........ "

Sepenggal percakapan yang aku ingat di suatu sore beberapa minggu yang lalu. Sadar bila berbuat jahat itu tidak baik namun karena satu kekecewaan ditambah aku yang belum bisa menerima kenyataan dengan suatu ujian dari Tuhan yang datang yang menurutku berat sehingga membuatku kehilangan arah dan berontak kepada diri sendiri. Meskipun sudah tau dan sekali lagi mendapat 'wejangan' dari suatu obrolan yang tanpa sengaja itu namun akan tetap sama, tidak mau lagi baik-baik kepada siapa pun. Jadi memutuskan menjadi orang jahat masih berlanjut.

Jujur ternyata berbuat jahat itu capek. Tiap hari harus beradu argumen dengan hatinurani, harus memberikan alasan dengan apa yang aku perbuat kepada otak malah terkadang masalah sudah selesai namun masih saja kepikiran. Bukan perkara mudah untuk berontak kepada diri sendiri dan imbasnya kalut, dilema, galau dan beberapa teman sejawatnya bukannya berangsur membaik malah semakin terpuruk, jauh terperangkap ke dalam black hole, permasalahan yang seharusnya mudah malah dirasa semakin kusut dan bercampur menjadi satu sampai kepala rasanya ingin pecah. Capek, selam ini aku benar-benar menutup mata dengan keadaan di luarsana, memenjarakan pikiranku di dalam ruang pengap dan gelap. Aku benar-benar sendiri tanpa siapapun, bahkan oleh seseorang yang mengerti keadaanku saat itu bukan sebuah pelukan ataupun kata penyemangat yang aku dapat malah penolakan dan yang paling menyakitkan kalimat yang terlontar seakan menganggapku picik.

Namun setelah menyendiri itu juga tidak seketika, ada beberapa kejadian baik yang aku alami, rasakan, maupun yang aku lihat langsung perlahan mengubahku. Berbicara dengan diri sendiri ketika malam tiba, berlama-lama berada di bawah shower, itu semua membuat pikiranku terbuka. Aku mencoba mengkoreksi apa yang selama ini salah dan dari renungan itu aku sadari ternyata banyak yang salah. Aku yang tak bisa menerima kenyataan yang terjadi, melupakan iklas yang tertutup egoku, dan mulai tak terarah sampai tak mengenal dengan diriku sendiri.

Perlahan aku bangkit kembali pada jalur yang sudah seharusnya. Aku harus bisa sendiri, ini hidupku dan hanya diriku sendirilah yang bisa menolong, orang lain hanya sekedar membantu itu juga kalau ada. Mengandalkan dirisendiri lebih baik agar lebih menghargai proses sebelum mendapatkan hasil akhir. 

21/09/14

persetan dengan semuanya

Andai menenggak racun di perbolehkan, mungkin aku akan memilih cara singkat itu. Aku bosan dengan semua kepura-puraan, aku lelah dengan segala yang sudah terjadi. Jalan yang tak pernah aku lihat ujungnya semua yang terlihat dekat kini semakin aku mendekat perlahan mulai terlihat jauh dan seperti halusinasi, sudah mencoba bertahan dengan luka, kesendirian dan dengan kepura-puraan tapi ku tak mampu. Aku benci diriku sendiri yang tak pernah bisa aku pahami. Mengapaaaaaa....?????! Manusia itu menyeramkan, terlebih diriku ini menyeramkan dan menyedihkan.

Tolong dorong aku ke dalam jurang sekalian biar tak merasakan sakit. Andai tak memikirkan orang-orang di sekelilingku mungkin aku akan memilih pergi, pergi ke tempat dimana kaki akan berhenti melangkah, dimana tak ada seorangpun yang mengenalku. Masihkah ada guna hidup ini bila yang lain saja sudah menyangsikan termasuk diriku sendiri.

Ampuni aku TUHAN bukan inginku mempertanyakan segala rencanaMu untukku namun bisakah Engkau berikan aku pegangan, jangan biarkan hati ini menjadi batu. Apakah selamanya aku akan seperti ini? Apakah ada ending bahagia seperti di senetron dan yang lainnya.
Terlampau besarkah kesalahanku, hingga terjadi seperti ini. Tolong bantu aku, pertemukan aku dengan mereka yang terluka oleh ulahku, biarkan aku bisa meminta maaf menebus semua salahku meskipun aku tak yakin akan di maafkan.

Aku bosan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama, mengapa mereka tak bosan menanyakan hal yang sama, muak dan membosankan. Apakah aku harus menceritakan semuanya baru kalian akan menutup mulut rapat-rapat lalu setelah tau apakah kalian akan berubah mengasihaniku, memasang muka iba, begitukah..., aaaaah LUPAKAN omongkosong itu bisa dipastikan ujung kalimat akan berakhir dengan kata SABAR. Klise...

Sungguh aku lelah, aku tak tau apa lagi yang bisa aku perjuangkan, apa lagi harapan-harapan baru yang bisa aku pupuk bila semuanya sudah hambar tak berbentuk tak ada daya untuk apa pun.


Aku... Aku hanyalah robot hidup sekarang.(21/9)

14/09/14

Harapku

Membayangkanmu telah berdua dan sedang memeluk erat perempuanmu dengan begitu mesra tiba-tiba saja emosi menyeruak, dada ini berdetak dengan kencangnya, sedikit sesak dan menyakitkan. Apa yang harus aku lakukan...

Siapa aku untukmu, kita oh tidak aku dan kamu tidak ada apa-apa, tidak ada ikatan emosional yang terjadi diantara kita, ya sepertinya begitu jadi apa hak ku mengambil secuil kehidupanmu untukku. Mimpi.

Apakah selama ini cinta yang hadir hanya ada padaku tak secuilkah panah asmara yang di arahkan kepadamu tak menggores tubuhmu. Apakah aku hanya ge-er dengan kata sayang yang pernah terucap dari mulutmu sendiri padahal itu hanya sekedar gurauan disela-sela obrolan. Mungkin...

Lalu jika sudah begini apa yang bisa aku perbuat..., merelakanmu aku tak bisa apalagi untuk melupakanmu, sementara itu mendapatkanmu juga sepertinya sudah hilang cara dan usahaku tak ada yang bisa menarik perhatianmu untuk melirikku. Apakah sebenarnya tak ada cinta untukku sejak awal sedangkan cinta ini sudah melekat erat dalam diriku.

Tolong katakan padaku bagaimana aku semestinya bersikap. Dalam diam rinduku semakin bertumbuh, cintaku tak pernah pupus apalagi rapuh tak lepas harapku berharap kau datang disini, bersamaku menapak bersama saling mengaitkan genggaman penuh cinta kembali memulai mewujudkan mimpi-mimpi kita yang tertunda.

05/09/14

Inginku (Menunggu)

"Sampaikapan kamu begini, waktumu akan terbuang sia-sia. Iya kalau dia kembali, kalau dia disana sudah punya anak istri bagaimana..."

Aku tak pernah bisa bercerita tentang apa yang terjadi pada diriku secara gamblang dan terperinci pada siapa pun kecuali padanya, mungkin karena ini juga teman yang sedikit banyak tau tentangku dan mengetahui keadaanku yang seperti ini tak henti-hentinya mencoba membuka mata dan pikiranku memperlihatkan kenyataan, seakan berkata "ini harus diakhiri, hidupmu masih panjang, masih banyak impian-impianmu yang belum terwujud" aku tau itu dan sepenuhnya sadar bahwa hidupku harus terus berjalan dan sudah seharusnya melompat ke zona lain yang lebih menantang.

Mungkin buat sebagian orang ini mudah saja tinggal menutup lembaran lama dan memulai menulis kisah-kisah baru yang sangat teramat manis melebihi permen lolipop kesukaan anak kecil. Tapi apakah kau tau kejadian yang sebenarnya..., aku dulu juga berpikiran praktis sepertimu tapi kini pikiran-pikiran itu perlahan memudar, karena tak bisa segala hal hanya dilihat dari satu sisi cobalah memposisikan di tempat yang seharusnya.

Silahkan saja kau menilaiku seperti apa, aku tak marah bahkan jika dalam hal ini mau menyebutku bodoh pun aku terima. Tapi tolong hargai juga keputusanku, aku bukan diam termangu tak berbuat apa-apa, asal kau tau hingga detik ini aku masih bertarung dengan diriku sendiri. Meskipun keyakinanku mengatakan jika dia masih sama seperti dulu, namun kalau pun dia ingkar biarkan saja, aku tak akan menyalahkan ataupun menghakiminya mungkin itu memang yang terbaik bagi dirinya. Aku tak marah, aku hanya ingin membebaskan diri mengontrol perasaanku secara perlahan karena aku sudah jatuh terlalu dalam jadi tak bisa serta merta langsung berlari, aku tak bisa. Biarkan aku melewati fase penyembuhan dengan sendirinya biar tak ada bekas goresan yang berarti itu saja.

Bisa mengenalnya saja sudah menjadi satu anugrah terindah buatku, jadi apa juga yang mesti aku tuntut apa yang mesti aku sesali. Ga ada, semuanya baik-baik dan dia hingga detik ini juga masih seperti malaikat yang tak ada kekurangan sekecil apa pun dimataku meskipun berkali-kali aku coba mencari hingga kedalam hal terkecil sekalipun tapi aku tak temukan yang bisa menjadi alasan membencinya. Bila dia memang sudah bahagia dengan yang lain, mungkin memang sudah seharusnya begitu. Namun bila dia benar-benar pemilik tulang rusuk ini suatu saat jika waktunya tepat juga akan datang. Aku percaya itu. (24 agt)

03/09/14

Daftar yang Dibuat Hati

Baru kali ini aku menceritakan list dari keinginan-keinginan yang begitu banyak pada orang lain dan orang yang ga beruntung itu adalah Citra. Feeling yang mendesak mesti di selesaikan di tahun ini, entah ada apa gerangan hatiku berkata demikian. Aku harus melakukan ini, melakukan itu, kesana kemari dari daftar yang sepertinya sudah terjadwal dengan rapinya di susun oleh hatiku demi satu alasan "ini yang terakhir".

Ketika aku bercerita berkali-kali Citra bertanya "Are u okay?? ..., enggak lagi sakit kan ? ..." Mungkin terlalu aneh bila di dengar oleh orang nornal namun aku berkata sebenarnya, aku sehat ga ada yg cidera ataupun habis kebentur tembok yang bikin otakku berputar-putar hingga berpikir demikian, semuanya murni dari hatiku.

Aku tau semua orang memiliki list dalam hidupnya yang ingin di wujudkannya, tapi selama ini ga ada list yang begitu sangat aku inginkan hanya saja ingin belajar rajut dan merangkai manik-manik untuk di ajarkan kembali ke ibu-ibu yang ada di kampungku dan itu juga perlahan terkikis oleh rasa malas tapi yang ini beda, segala keinginan yang berasal dari hati tak bisa di enyahkan bahkan serasa sesegera mungkin untuk dilaksanakan.

Terlalu banyak keinginan dengan embel-embel ini terakhir. Berkali-kali Citra mengulang pertanyaan apa sebenarnya yang hatiku katakan tapi jawabnya tetap sama, bahkan sepertinya tak lama lagi aku akan melakukan perjalanan jauh, ke sebuah tempat yang tak pernah aku bayangkan bahkan terbesit sedikitpun di pikiranku. "Apa aku mau mati, apakah ajalku sudah di depan mata ... " Entahlah siapa juga yang tau umur seseorang, kalau memang hanya sampai disini aku iklas, hanya berharap semoga ada seseorang yang mau mendengarkan cerita-cerita bapak dengan suara khasnya yang meninggi, ada yang selalu bermanja-manja dengan ibu bila di rumah dan semoga rumah masih terlihat rame dengan teriakan seperti dikala aku ada di rumah.

Bukan, aku bukan pergi ke surga ataupun ke neraka tapi ini seperti satu tempat di ujung sana, sebuah kota yang jauh dari tempatku sekarang. Aku pernah melihatnya dan beberapa kali membayangkan meskipun yang terlihat hanya sebuah rumah mungil, rumah yang penuh cinta dan syarat dengan kebahagiaan, rumah yang dipenuhi dengan senyuman dan kehangatan. Rumah yang membuatku nyaman. Itu rumah siapa, apakah rumahku..., rumahmu...., atau...???

19 agtustus 2014

09/08/14

pergi untuk kembali

Berikan aku sedikit waktu sendiri untuk lebih memahami rasa. Jangan anggap kepergianku sebuah pelarian karena ini hanya sementara, ini juga bukan caraku menghindar. Aku bukan seorang pengecut yang begitu saja melenggang pergi ketika sudah tak menemukan setitik harapan dari asa yang tersisa. Bukan.

Suatu saat aku akan kembali, disini ke tempat dimana aku biasa bermain dengan hayalan dari realita kehidupan. Di bawah pohon yang mulai meranggas inilah aku akan kembali menghabiskan waktu berlama-lama duduk memandang ke sudut jalan yang berkelok mencari sosok diantara orang-orang yang beralulalang yang tak jarang mengaburkan pandanganku.

Sementara ini tak ada lagi yang bisa aku ceritakan, barisan aksara yang terkumpul seakan terbang tersapu angin yang tiba-tiba datang tanpa sempat buatku menaruhnya kedalam tobles kaca. Aku ingin bercerita tentang bintang yang selalu menemaniku setiap malam datang, tentang hujan yang menyuarakan kerinduan, dan tentang romansa senja jingga, tentang air laut serta tentang awan abu-abu yang berhias pelangi.

Aku pergi bukan untuk menetap, melainkan hanya untuk melukis setiap memory dari setiap jejak yang tertinggal. Bukankah di coretan sebelumnya aku sudah bercerita tentang gudang yang baru saja aku bersihkan, di tempat itulah sementara waktu aku akan tinggal. Menterjemahkan setiap rasa dari seseorang dan untuk seseorang. Tolong jangan anggap ini sebuah penghianatan karena edelweis bukan tempat yang tepat untuk meletakkan tobles-tobles kaca yang berisi kepingan hati.

Jangan hawatir sesekali akan datang menjenguk bukankah ada jalan pintas yang sudah aku buat menuju edelweis, jadi jangan cemburu kepada bias hujan begitu juga dengan perahu waktu karena masing-masing memiliki peran sendiri-sendiri.


Tunggu aku kembali
Memulai cerita tentang hidup dan kehidupan

Lilin-lilin Kecil


Hingga bulan juli berakhir namun satu lilin belum juga berhasil di tanyalakan. Ingin hati memberikan setitik cahaya agar bisa menerangi jalan untuk kembali namun sampai menginjak bulan Agustus cahaya yang aku janjikan satu pun tak ada.

Maaf...
Satu persatu hari aku lewati hingga kini bulan pun sudah berganti namun keberanian itu tak kunjung datang. Hanya memegang sebatang korek api kemudian nyalakan lilinnya..., mudah kan. Iya itu sangat mudah, bahkan anak kecil pun bisa melakukannya tapi maaf aku belum punya keberanian. Sepertinya aku terakhir kali memegang sebatang korek api yang masih menyala itu waktu lulus SMU. Bukan aku lupa caranya tapi..., sudahlah gak usah di bahas.

Tadinya aku ingin membuat kejutan. Ragu antara ingin membuat setoples bintang atau 1000 burung kertas. Tapi akhirnya aku pilih burung kertas namun perhitunganku meleset, sepertinya aku tak bisa menghadirkan 1000 burung kertas tepat waktu. Tapi setoples bintang dan 1000 burung kertas akan hadir disini, suatu hari nanti :)

Buat yang ultah di bulan Juli selamat hari jadi ya. Semoga doa-doaku pada detik pertama menginjak tanggal itu di dengar Tuhan. Aamiin

Maaf hanya bisa memberikan lilin-lilin kecil, meskipun aku yakin kau tau setitik cahaya yang abadi ada di dalam hatimu.


NB:
Ayo bermain ketelitian sebentar. Di coretan sebelumnya aku pernah menyebut adanya satu gudang nah di antara tulisan baik yang di atas ataupun disini ada satu link yang menghubungkan ke tempat yang aku maksud. "dia ada di tengah tapi menjadi akhir atau pemberhentian" hayoo apa jawabnya dan silahkan cari jika ingin tau seperti apa gedung itu (◦ˆ⌣ˆ◦)

Memory juli