18/12/19

Coba sapa hujan



Bulan ini sudah beberapa kali turun bujan yang termasuk deras. Sore ini juga hujan turun cukup lebat dan lama. Melihat langit abu-abu dan hujan yang menutup sebagian pandangan rasanya ingin lompat keluar dan hujan-hujanan walaupun sebenarnya air hujan sekarang tidaklah cukul baik untuk tubuh mengingat begitu banyak pencemaran yang terjadi di alam.

Gereged, mengingat bagaimana dulu saat mencintai hujan hingga berharap hujan cepat turun ketika melihat langit sudah tak biru lagi lalu beberapa tahun belakangan sedikit menghindari hujan yang terlihat menyeramkan yang datang tanpa kenal kompromi datang bersamaan dengan petir dan angin kencang. Dan sekarang entah bagaimana lagi aku mendiskripsikan hujan di otakku, yang terpintas hanyalah kenangan masalalu ketika bersama abu menerobos hujan bahkan terkadang dengan sengaja menunggu hujan datang hanya untuk merasakan jaruhnya air membasuhi tubuh walau sedikit menyakitkan ketika terkena kulit langsung, tapi itu sungguh menyenangkan. Tak jarang menerobos banjir yang memang kota ini sangatlah terkenal dengan banjirnya walaupun hujan sebentar tapi di beberapa tempat sudah disulapnya menjadi kolam renang dadakan.

Hujan..., hujan yang selalu bisa membius lalu membawaku kemasa lalu. Memandang hujan dari balik jendela, ada hayalan yang hadir begitu saja untuk bisa menikmati hujan bersamamu, di dekat jendela dengan secangkir teh hangat menikmati hujan dan berbagi cerita dan canda, hmmmm... sepertinya itu menyenangkan dan itu adalah salah satu mimpi yang sudah tertulis di catatan bintangku.

Semakin menerobos melihat lurus ke depan di tengah hujan nan jauh disana yang aku lihat hanyalah kosong dan hampa. Apakah benar hujan sekarang seekstrim itu sampai tak dapat mengenali dan terlihat suram. Tak dapat menikmati hujan secara khusus, yang aku inginkan adalah berada di bukit jauh disana. Aku inginkan kebebasan bercengkrama dengan alam (ajak aku bolang donk). Mereka memanggil walaupun ku tak ada keberanian untuk datang mendekatinya. Aku yang sudah tak punya tenaga kecuali hanya kenangan tentang hujan. Hujan yang tak lagi berpihak padaku. Hujan yang kini tak mengenal musim, seperti hatiku yang tak pernah lelah menjerit dalam kebisuan.(17/12/19)

::
Kangen bedhal, sapa ilalang n langit biru.

12/12/19

Tunjukan Jari Kelingking

Tidak ada yang bisa dipercaya di dunia ini, bahkan aku pun tak mempercayai diriku sendiri. Termasuk cinta yang katanya TULUS.

Namun sepintas tipis aku mempercayai bila aku HIDUP. Dan hingga jangka waktu tertentu akan kembali MATI.

Misteri apa yang sebenarnya berputar di dalamnya....???!
Bahkan kini waktupun semakin mempercepat perputarannya, tak sesantai dulu. Rahasia di antara hitam dan putih (abu-abu) kini semakin jelas terlihat bahkan menggeser hingga punya ruang yang semakin luas.

***

Dan aku punya sarang laba-laba di otakku.
Terlalu keruh dan mengerak, mungkin saja sudah menjadi vosil tapi tak bisa dimanfaatkan hanya menjadi bantalan tidur yang keras dan membuat sakit kepala. (12/12/19)

28/11/19

Tirai yang tersibak

Jangan paksa aku untuk menghakimi apa yang telah terjadi. Itu tidaklah pantas. Tapi apakah memang ini yang dikatakan yang terbaik... dimana pengorbanan sama sekali tak dianggap, bahkan semua luka itu pun seperti tak pernah ada hanya karena semuanya bukan kamu yang memintanya.

Kepala batu....
Apakah kamu akan memohon walaupun membutuhkan bantuannya...?! Aku rasa tidak.
Sampai kapanpun kamu tak akan pernah sadar, konyolnya dia tak pernah tega sedetikpun meninggalkanmu.
Ironis, arah yang berlawanan tanpa tanda baca dan titik temu.
Kamu menganggap dirimulah yang harus di prioritaskan, yang terbaik, dan memposisikan selalu di atas. Ingatlah kamu bukanlah siapa-siapa, bahkan tak memiliki apapun selain kesombongan dan angkuh yang tak pernah kamu sadari. Jangan menganggap penting dirimu yang sebenarnya tak berguna, itu menjijikkan. Selama ini orang lain melihatmu, semata-mata hanya karenanya. Dialah yang selama ini berada di belakangmu, yang menjadi tameng pelampiasan keburukanmu yang rela rendah dimatamu, walaupun sebenarnya selalu mempedulikan dan memberikan yang terbaik padamu tanpa kau sadari.

Jangan memandang hina padanya, karena sebenarnya kamulah yang menderita dan menyedihkan. Coba saja 'berdiri' sendiri jika bisa, aku mau lihat apakah masih akan mendapatkan tiket yang sama seperti sekarang..., itu mustahil. Aku berani pastikan dan yakinkan hal itu karena aku bisa melihat bagaimana dia berkorban sekuat tenaga untukmu, menjadikanmu sempurna dan mencoba sebaik mungkun untuk memberi apa yang menjadi ingin juga ambisimu.

Benar-benar tak tau diri.
Matilah saja jika benar kau masih bertindak kasar padanya. Kamu bukanlah apa-apa, lihat saja suatu suatu saat, eh, bukan. Tidak lama lagi kamu akan terpuruk dalam penyesalan yang teramat dalam sampai-sampai nyawamu pun tak akan sanggup bila ditukarkan untuk membuat semuanya seperti sebelumnya.

Jaga keangkuhanmu. Jangan menyamaratakan, apa yang bisa kamu pegang, miliki dan ambisimu bukanlah hasil dari jerih payahmu sepenuhnya. Kamu hanya sedikit ikut andil di dalamnya sisanya adalah dia. Dialah nyawamu, nafas yang memberi penghidupanmu. Camkan itu. (27/11/19)

::
Tak mengerti apa yang ada di pikiran. Tak tau coretan seperti apa yang sudah berhasil dirilis. Itu semua sama sekali tak kupahami. Ini hanyalah olah pikiran tanpa inspirasi sama sekali. 

08/11/19

Api yang mulai padam

Lara yang mengendap di sanubari akankah hilang tanpa bekas....???! Tak ada yang tau itu. 
Keadaan yang membuatnya seperti ini. Tidak untuk mendapatkan apa yang di inginkan melainkan perlahan mematikan semangat yang dimiliki hingga nyaris membuatnya berada di situasi yang tanpa bisa memilih ataupun berpendapat seperti yang seharusnya.

Kehidupan tidaklah rumit hanya saja liku jalan yang tak jarang membuatnya tersesat, namun setidaknya setiap langkah memberikan pilihan, walaupun itu terkadang seperti fatamurgana. Rialita yang ada tak pernah bisa menentukan arah walaupun di awal sudah memberikan perencanaan yang sangatlah rapi itu semua tidak banyak membantu karena selalu ada celah untuk bisa membantah dan menerobos memberikan racun dirongga kehidupan yang tak bertuan.

Seperti berpijak di kayu rapuh yang hanya bisa mengandalkan peruntungan yang hadir saat itu, sehingga segala sesuatunya didapat dengan manis baik itu sepanjang perjalanan ataupun di setiap pemberhentian. Terlihat indah di dengar. Namun, apa yang disadari dari kegaduhan ketika yang diperjuangkan hanya menghasilkan luka dan duka. Melihat untuk bisa merengkuh bayang sepi meskipun tak terjamah.

Siapa sebenarnya luka dari setiap kata yang hilang...??! Tanyakan saja pada gelapnya malam yang tak pernah mengenal kompromi oleh siapapun. Jangan biarkan diri asing dengan tubuh ini, sangat tidak mengenakkan dan itulah yang disebut matirasa.

Aku yang tak pernah puas dengan kehidupan. Namun masih saja berharap dengan orang lain dan terus saja mencari nyaman untuk tempat bergantung (itu bodoh), berkali-kali memberikan tamparan pada diri sendiri tetap saja tak menyadarkan, malah lebih menenggelamkan dan menambah luka disekujur tubuh.

Ayo mencoba menghitung tentang menerima dan memberi..., yakin tak ada perbandingan yang pas untuk mengukurnya karena hingga sekarang pun tak benar-benar paham arti kata 'cukup' yang semestinya ada. Cobalah menepi sejenak dan buatlah perapian untuk menghangatkan tubuh yang mulai beku oleh topeng kehidupan. Keputusan menyerah ataupun menerjang sepertinya tak banyak membalik kata, malah tak jarang semakin memperkeruh apa yang coba dilindungi.

Mempertahankan barisan aksara, lalu memberikan arti dan menanggalkan untuk bisa dinikmati walaupun hanya segelintir saja yang memahaminya. Dan apakah ini saat yang tepat untuk mematikan lentera untuk setiap langkah yang belum terayun...???! Mati saja kau dalam lembah tak berpenghuni. Laramu tidaklah ada, itu hanyalah permainan dari otak yang mulai lelah dan tak bisa lagi berkompromi dengan waktu. Lalu apa lagi yang perlu di perjelas, terlebih di terangkan bila jiwa tak lagi ada pemiliknya (sesaat).

Terangkan pada dunia dan mengemislah pada alam agar bisa merengkuhmu dan menghangatkan dari getirnya cerita yang telah tersusun sendiri. Aku bukanlah dewa, bukan juga manusia sempurna. Aku hanyalah pengembara yang mencoba untuk tetap bisa melihat dunia (imajinasi)ku sendiri.
Teruntuk hati yang luka, yang tak merasa salah namun mudah patah. Jangan libatkan indramu dalam perdebatan yang sekarang. (07/11/19)

16/10/19

Langit malam


Sinar bulan malam ini terlihat begitu terang. Langit tidaklah bisa dibilang cerah, namun awan tak mampu menutupi sinarnya yang terlihat begitu indah.
Ketika nenengok ke luar dari jendela aku merasa di luar lebih terlihat terang dibanding di dalam rumah, entah ini hanya perasaanku atau memang kenyataannya seperti ini. Aku merasa di dalam rumah hanya terang yang penuh kepalsuan, hanya daya lampu yang memberikan suasana terang benerang, sementara di luar meskipun tidak seterang lampu penerangan namun masih mampu menekan/memperjelas keadaan di sekitarnya.

Mungkin cahaya lampu dari dalam rumah yang memberikan andil, tapi aku perhatiin memang di luar terlihat jelas terangnya. Dan aku ingin bisa menikmati suasana seperti itu. Tidur dengan penerangan dari alam, bulan yang nyata-nyata memperindah malam. Andai juga langit cerah hingga bisa mempertontonkan kerlip bintang kecil bertaburan di langit malam alangkah indahnya. Langitku sepertinya sangat pemalu sampai selalu saja menyembunyikan kecantikan yang sesungguhnya.

Andai atap kamar ini dibuat transparan agar benar-benar bisa memandang luas ke langit malam. Huaaaaaa...., ngebayanginnya aja sudah bikin otak melonjak-lonjak kegirangan apa lagi kalau benar-benar nyata. Tapi seketika terpikir jika pas lihat ke atas lalu ada yang hitam juga lagi melongok ke bawah gimana, huaaaaaaaaaa.....shehreem. amit-amit dah jangan sampe kejadian lagi, ga mau ampe ngungsi tidur dah (tragedi dibalik jendela kamar). (15/10/19) 

30/04/19

Lingkar masa

Dalam jera aku mulai berpikir apakah benar semua ini menjadi episode yang harus kulalui...., apakah tidak cukup semuanya hingga membuat hidupku berantakan sampai nyaris tak ada satu pun yang bisa menjadi tempat untukku berteduh. Jalan yang dirasa berat, beban yang sangatlah membungkukkan badan hingga beberapa kali tersungkur dijalan bebatuan dan kubangan.

Satu, persatu mereka memperlihatkan wajah yang sebenarnya, menghilang nyaris tak ada suara. Biarlah itu semua pilihan. Kini yang tersisa hanyalah hampa seorang diri, hanya angin dan ruang kosong yang masih sudi menyapa sesekali. Seperti apa sebenarnya klimak dari cerita panjang ini..., berapa lama lagi waktu untuk membungkus cerita yang apik dan patut menjadi panutan dan pembelajaran bila hingga kini yang dipertintonkan terus saja keringat dan air mata.

Aku termenung, mencoba berpikir dengan memutar balik cerita yang telah lalu namun tetap saja tak menahami tentang jalan cerita yang sedang berlangsung hingga sekarang. "Ini cerita siapa...???!" Bila ini milikku namun apakah benar akulah yang menjadi pemeran utama dari setiap epiaodenya.... dipaksa untuk mengerti aku lelah seorang diri.

Aku ingin sejenak beristirahat namun, aku takut, teramat takut bila nantinya akan tertidur panjang karena lelah yang kurasa. Sirna..., bukan, bukan itu yang aku inginkan hanya kupertanyalan kapan beban ini perlahan berkurang.

Pengat, pikiranku sudah tak mampu lagi untuk diajak komromi. Serasa sudah tak ada ruang untuk meredam jerit luka dan gemuruh dari emosi. Aku lelah (29/04/19)

28/04/19

Test drive


Dalam mengerjakan apapun sebaiknya dilakukan dengan ketenangan. Meskipun mudah, namun ketika pikiran tak fokus maka hasil yang didapatpun tak akan sempurna. Akan ada kesalahan-kesalahan kecil yang diperbuat dan bisa jadi itu akan berakibat fatal.

Kerjakan segala sesuatunya dengan ketenangan pikiran dan tak perlu tergesa-gesa. Pikiran adalah alat kontrol diri kita, maka jadilah pengemudi yang handal dan berwibawa, jangan mudah panik (seperti aku) agar ketika berada di situasi sulit bahkan sesulit apapun itu otak masih bisa bekerja untuk mendapatkan sedikit celah/jalan keluar dari situasi yang sedang di hadapi. Karena ketika kita panik, otak tak akan bisa berpikir dengan benar yang ada malah kekacauan. Belajar untuk fokus dan tenang ya. (27/04/19)

Bertahan ; senjata ampuh


Ketika dirasa sudah tidak bisa bergerak, sudah tidak menemukan celah (mungkin tak melihat celah itu sebelumnya), di otak atik mentok tak menemukan jalan keluar maka yang bisa dilakukan hanyalah terus berjalan, melangkah mengikuti kemantapan hingga akhir. Kalaupun mujur maka akan datang keajaiban yang akan memberikan terang dijalan yang sedang dilalui, ataupun jika yang ditemukam di depan hanyalah tembok kokoh yang tak bisa ditembus maka berhentilah, apa yang terjadi biarlah terjadi karena bisa jadi dari titik berhenti sekaranglah kita akan memulai hal baru yang luar biasa melebihi apa yang kita bayangkan sebelumnya.

Hanya saja apakah kita siap untuk itu....?! Untuk terus berjalan walaupun tak lagi ada pengharapan yang dilihat dari segala penjuru. Apakah mampu untuk bersabar di situasi yang sangat... sangat... tidak mengenakkan itu, bahkan bisa dibilang ada di titik terbawah dari perputaran roda kehidupan...?!
Karakan siap dan bersabarlah dengan terus melangkah, walau pun apa yang kau rasakan sangatlah tidak mengenakkan tetaplah terus bertahan karena itulah pelajaran yang akan menempa dan membesarkanmu. (27/04/19)

Meskipun kecil bisa jadi itulah penyelamatmu, jangan dilihat siapa dia dan bagaimana dia melakukannya namun lihatlah dia, seseorang yang sudi mendekat kepadamu entah itu suka ataupun tidak.

Yang serba nanggung itu tak mengenakkan, malah seringnya menjadi bumerang. Maka dari itu bila ingin melakukan segala sesuatu jangan dengan keraguan (lakukan hal baik ya) mantap dan yakin. (27/04/19)

22/04/19

Cinta yang Bukan Sebenarnya

Ketika merebut hati adalah tujuan utama, ketika mencari perhatian menjadi senjata pamungkas dalam mendekati target. Memang tak ada yang salah, namun sangat disayangkan. Sungguh sangat terlihat dimata yang lain bila itu hanya sandiwara untuk terlihat baik dan bersahaja. Bukan suatu kebaikan bila perlakuan baik hanya untuk mendapat suatu pujian yang terlihat manis dihadapan yang lain.

Terasa sungguh hatimu pilu, datang untuk suatu pelarian dari masalah yang sebenarnya tidak kau dapatkan jalan keluar karena tetap yang kau inginkan hanyalah suatu pujian dan perhatian yang utuh. Kurasakan hatimu yang luka karena cinta yang ternodai, sayatan perih dari kata-kata kasar yang dia lontarkan yang sangat menyinggung perasaan. Dia berubah, sedikit tidak peduli dan perhatiannyapun mulai luntur tidak seperti ketika diawal cinta ataupun ditahun pertama pernikahan. "Apakah ini pasang surutnya pernikahan..." pertanyaan untuk hatimu ketika terluka oleh pasangan yang kau banggakan selama ini.

Tahukah bila yang kau punya bukanlah cinta yang sesungguhnya, itu hanyalah cinta dari rasa ketertarikan secara fisik dan kebanggaan dari apa yang dia miliki (itu tidak langgeng). Cinta tidak akan mau dipisahkan oleh jarak dengan alasan apapun akan meronta untuk bisa selalu bersama. Cinta tidak mengenal apa itu menuntut karena hanya akan melihat kebaikan dan kesempurnaan pasangannya saja. Cinta tidak kenal menyerah karena apa yang dimiliki adalah pasangannya saja. Dan kini semua itu tak lagi terlihat darinya. Sementara dirimu pun mulai terlihat goyah, yang terlihat hanya kebanggaan karena sudah mendapatkan dirinya yang bisa dibanggakan kepada orang lain.

Sebenarnya cinta seperti apa yang kalian punya hingga sampai sesempit ini..., apa arti pernikahan dimata kalian, bagaimana dengan janji suci yang pernah terucap apakah itu sudah terlupakan sekarang....???!
Jujur aku tidak memagami bagaimana cinta menyatukan dan mengikat mereka berdua karena kini yang aku lihat masing-masing hati hampa, hanya tersisa keping-keping kecil dari cinta dimasa lalu. Cinta dia yang sesungguhnya adalah dia wanita dimasa lalunya, yang benar-benar mengerti dan memahami dirinya, jadi cinta buatmu adalah ruang kecil dari tempat yang tersisa di hatinya dan kini tempatmupun mulai terdesak dengan kehadiran cinta yang lain.

Dia terlihat sempurna, sosok yang bisa dibanggakan dan tentu saja banyak wanita yang jatuh hati padanya. Dan dia memilihmu untuk menjadi pasangan, itulah keberuntungan buatmu karena dia bisa kau banggakan dan lebih menopangmu dalam strata sosial namun, tahukah bahwa dia bukan pria yang mapan...?! Kamu bukanlah pelabuhan terakhir untuk petualangan cintanya.

Untuk M keputusan untuk memberikan jarak, memberikan jeda adalah hal yang tidak benar karena inilah awal dari runtuhnya cinta yang sebenarnya mulai terkikis. Kembalilah berada di dekatnya, biasakan dirimu untuknya agar dia melupakan petualangannya, hujani dengan cintamu agar di matanya hanya terlihat dirimu saja bukan yang lain seperti yang aku lihat sekarang. Tolong kembalilah, jangan sampai menyesal. (21/04/19)

::
Coretan untuk M
Jangan mencari perhatian, karena itu sangat melelahkan. Berikan saja perhatian dengan tulus itu akan menghujanimu dengan perhatian tanpa batas dari orang lain.

24/03/19

Penggalan Kenangan ; Anak Kos


Bersih-beraih file, tak sengaja nemu foto masalalu. Melihat foto ini masih bisa kurasakan bagaimana kuatnya terjangan ombak, sekuat tenaga kaki mencari posisi untuk menopang tubuh agar tak goyah dengan hantaman ombak namun tetap saja suatu ketika akan jatuh juga disaat kaki dirasa kuat karena berkali-kali tak goyah dengan serangan ombak yang bertubi-tubi namun nyatanya lelah yang tak disadari menumbangkannya. Laut terlihat cantik ketika buih ombak datang menghampiri tepi dan menghantam batu karang yang membuat percikan air. Untuk bisa bertahan harus memuliki tenaga dan strategi, jangan mengikuti arah ombak yang menuju tepi namun, posisikan kaki untuk menghadap samping sedikit melebar dengan begitu ombak tak akan mudah menjatuhkan dan menyakiti tubuh yang terjelembab kebawah.

Tidak semua orang bisa bertahan berdiri kokoh dalam terjangan ombak karena ketidak siapan dan tidak tahu bagaimana cara untuk bertahan, namun ketika jatuhpun tak perlu menyalahkan ombak kitalah yang tak siaga padahal sudah mengetahui laut dan ombak tak terpisahkan (seperti aku dan kamu), ketika memutuskan untuk bermain dengan air laut maka siapkan tubuh untuk terkena terjangan ombak entah itu kecil ataupun sedikit besar tapi jangan coba-coba bermain di ombak besar bisa tergulung dan lenyap seketika.

Bagaimanapun indahnya ombak tetap saja membutuhkan kewaspadaan ketika mendekatinya. Sesuatu yang indah tak selalu benar-benar terlihat indah. Ada rahasia untuk mempesona pandangan mata orang yang melihatnya.

Masih terbayang keseruan kompaknya teman-teman kos yang membutuhkan tekat untuk menyusuri jalan yang berkelok, naik-turun, dan tak jarang harus menyalip ataupun bersabar dengan kendaraan di depan yang berjalan lambat demi melihat laut. Panas tak menjadi halangan, mendungpun tak menjadi soal ketika tekat datang dan mendapatkan kesepakatan bersama maka berangkatlah kita. Dan kini kita sudah terpisah ditempat berbeda-beda, masing-masing memiliki dunia baru namun kisah kita akan abadi bersama waktu, juga dalam potret yang tersimpan di memori yang suatu saat siap untuk dibuka dan dikenang sekali lagi.

Masa muda... Untung mudaku kagak telat, tepat pada waktunya. Sudah banyak cerita yang tercipta, dan ada beberapa yang sudah aku ceritakan kepada semua orang lewat coretan. Mungkin nanti akan dibaca juga oleh anak cucuku, bahkan bisa jadi menjadi warisan yang abadi untuk mereka.

Semoga ada partner kompak yang selalu mengajak menikmati alam bebas, yang lebih luas lagi. please jangan ajak ke mall itu menyakitkan. Ajaklah untuk melihat rumput dan pepohonan saja ya yo 😍 (23/03/19)

16/03/19

Mati rasa

Segala kebimbamgan yang terjadi bukan tanpa sebab. Apa yang selama ini menjadi buah pikiran secara terus-menerus akan menimbulkan kehawatiran. Tidak perlu bersusah payah untuk bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi karena semuanya sudah ada dijalurnya masing-masing, entah itu disengaja ataukah tidak semuanya bukanlah kepura-puraan.

Beda dari yang lain, pemikiran logis haruslah dikedepankan namun ada kalanya semua itu akan berbenturan dengan hati nurani yang terlalu lemah maka dari itulah muncul kebimbangan yang pada akhirnya akan menggerogoti jati diri yang berimbas pada ketidak percayaan diri oleh apa yang di inginkan dan yang ingin dilakukan.

Ketakutan yang tanpa alasan karena pikiran yang terus bergejolak mencari celah untuk diabadikan menjadi kesempurnaan tanpa batas. Buah pemikiran yang didapatpun pada akhirnya perlahan sirna tanpa bekas karena ketakutan untuk memulai. Rasa percaya diri yang kurang bahkan nyaris hilang itulah akar dari segala permasalahan.

Yakin..., harusnya ada keyakinan yang tebal untuk menangkal segala keraguan, ketakutan, dan kecemasan dari apa yang sudah menantinya di depan. Percayalah kepada diri sendiri, jangan meremehkan apa yang ada di dalam dirimu, dan jangan melemahkan segala upaya yang telah dipikirkan dengan matang oleh pertanyaan yang datang untuk pikiran yang sudah bekerja keras memcari seribu jalan dari apa yang menjadi titik fokus pemikiran.

Pertanyaan-pertanyaan yang datang silih berganti oleh apa yang sudah dipikirkan seperti menggembleng dan menutup semua akses dari kebocoran pikiran karena ide yang tidak matang. Pemikiran yang dipertanyakan oleh pemikiran itu sendiri. Terlalu rumit, karena terlalu banyak berpikir yang pada akhirnya hanya diam tanpa berani untuk action. (15/03/19)

02/03/19

Jejak buih hujan

Mendung yang datang menyiratkan rintik hujan yang menginginkan untuk segera menghampiri. Aku pandangi wajah di cermin yang sudah tak seperti dulu, sosok anak kecil yang lugu dan lucu kini sudah tumbuh dewasa dengan pikirannya. Wajah yang dulu ceria dan sering berdendang dengan suara sumbang dan nada salah yang tak karuan kini yang aku lihat perempuan dengan wajah sayu tanpa sedikit senyuman yang diperlihatkannya.

Waktu telah merubah segalanya, waktu yang mengajarķan tentang kedewasaan dan pendewasaa, namun waktu pula yang terkadang memaksa untuk segera beranjak bila tak mau tertinggal.

Perempuan di depan cermin, bolehkah kau perlihatkan senyummu padaku ?! Jangan bungkam hatimu dan menutup rapat penglihatanmu. Jangan menghindar, jangan dengarkan suara sumbang yang kau dengar itu tidak perlu. Biarkan mereka begitu adanya tapi jangan untuk dirimu.

Hujan yang mulai turun, tak serta merta melelehkan hatimu wahai pecinta hujan, malah hatimu yang kini membeku bertambah dingin oleh angin yang seakan mengingatkan dan membuka kenangan pahit yang sudah dikuburnya. Perempuan itupun mendekat ke arah jendela dan menatap air hujan yang turun dengan derasnya. Bagaimana luka ini akan pulih...?! Meskipun sudah lama dan lukanya sudah pulih, namun ingatan pahit itu masih membekas dengan kuatnya di dalam pikiranku.

Kau yang pergi meninggalkanku tepat satu bulan setelah kita mengucapkan janji pernikahan. Tak terasa air matapun sudah membasahi pipi, mengenang indahnya saat cinta itu hadir diantara kita, dan seketika keindahan itu sirna oleh pengakuanmu bahwa aku madumu. Teramat perih, sakit dan terhianati. Aku yang sah, namun dialah yang seharusnya memilikimu. Apalah arti anji dan cinta yang kau tunjukkan padaku bila kau tak bisa menjaga hati. Apalah arti hidup bersamamu bila disana ada hati wanita yang tersakiti.

Aku telah buta oleh cintamu, namun kau telah bermain dengan hatiku. Sejujurnya sulit untukku melepaskanmu, namun aku juga tak bisa menutup mata dan telingaku dari rintihan hati seorang wanita yang terhianati. Aku tak bisa. Karena itulah aku memilih mundur dan pergi, buatku sakitnya hati tak sebanding dengan kau yang mendua hati.

Kulepaskan dirimu atas nama cinta. Kembalilah kau kepadanya, karena mereka lebih membutuhkan kamu daripada aku. Kembalilah untuk buah hatimu, cobalah untuk hidup dan berdamai dengan hatimu yang lain untuk kesempurnaan sebuah keluarga. Tak perlu kau pikirkan aku, tak perlu kau ingitkan tentang janji dan cinta yang telah kita bina, dan tak perlu lagi kau buktikan untuk hubungan yang didasari ketulusan hati, itu semua tidak perlu karena buatku membagi cinta adalah kesalahan yang teramat fatal. Cinta buatku adalah kepercayaan, ketaatan, dan keseimbangan dan semua itu sekarang tak ada lagi arti seteleh kutahu masalalumu yang tak sendiri.

Aku memilih pergi, berbahagialah kau untuknya. Kembalilah pada mereka, jadikan aku masalalumu. Masa lalu yang tak perlu kau kenang dan kau ingat. Berbahagialah, aku merelakanmu untuknya karena dialah pemilik hatimu yang sebenarnya. Aku terlalu serakah yang hanya ingin mendapatkanmu secara utuh tidak dengan berbagi cintamu. Lupakan aku, perempuan yang pernah menganggapmu pria sempurna tanpa celah. (01/03/19)

28/02/19

16:28

Untuk konsisten itu ternyata tak mudah. Mungkin ini salah satu wujud dari latihan disiplin tinggi sehingga bisa menjalankannya dengan tepat dan maksimal.

Ada banyak agenda yang sudah disusun rapi bahkan diniatkan dengan sungguh-sungguh dan tekat kuat, namun pada saat pelaksanaan perlahan-lahan menginginkan sedikit kelonggaran waktu untuk menjalankannya lalu lagi... dan lagi hingga pada akhirnya semua yang sudah direncanakan menjadi kabur dan tak ada satupun yang dijalankan bahkan sudah melupakan bila sudah merencanakan dan bertekat ingin menjalankannya. Itulah aku..., yang hanya punya sedikit rasa disiplin, namun memiliki banyak mimpi yang ingin diwujudkan tapi berujung pada penyesalan karena tak mulai bergerak memilih diam hingga membuat apa yang ingin di kerjakan sebatas harapan dan pikiran kosong saja. Hingga ide-ide yang sudah dipikir matang, sudah siap di eksekusi dengan sendirinya terbengkalai dan terlupakan.

Jadi, terobosan awal yang terpenting sekarang adalah berlatih dsaiplin dan mengingat waktu. Oh ya, mungkin ini juga salah satu maksud dari diciptakannya jam tangan agar orang-orang lebih mudah mengingat dan lebih menghargai waktunya dengan mengerjakan apa yang sudah di jadwalkan dan yang menjadi kegiatan yang lebih di prioritaskan secara baik dan benar sehingga tak ada waktu terbuang sia-sia. Tidak hanya untuk bermimpi, namun juga berproses untuk menjadikan nyata. Mimpi jangan hanya sekedar buah pikiran dan ambisi sesaat, tapi berusahalah merubahnya menjadi hal yang pasti, yang terlihat dan bisa dirasakan itu yang terpenting.

Jadi, saatnya tersadar dan belajar disiplin dan menghargai waktu agar ide-ide hebat yang bermunculan segera menjadi nyata. Bukan saatnya untuk bermimpi lagi melainkan untuk bereaksi dan menggenggam mimpi menjadi nyata. Berproses untuk menjadi "orang" bukan hanya pengharapan di dunia hayalan, melainkan raja dunia nyata. Raja untuk diri sendiri dan istana masa depan nantinya. Disiplin diri mulai dari sekarang yaa...

Jangan meremehkan apapun apalagi menganggapnya mudah, bila ide muncul segeralah olah dan eksekusi secepatnya jangan ditunda-tunda juga jangan terlalu berpikir nantinya bagaimana, yang terpenting kerjakan saja dulu maka hasilnya akan terlihat setelahnya jadi tak perlu melihat yang indah di hayalan tapi ciptakan keindahan melalui proses agar terlihat nyata. (27/02/19)

24/02/19

12:42

Baru hitungan hari kita berpisah, tapi hari ini kulihat dengan mata kepalaku sendiri kau sudah memiliki kekasih baru. Aku yakin dia bukan sekedar teman biasa karena kulihat kau memandangnya mesra, bahkan merangkulnya di depan umum. Sedih, bagitu mudahnya kau berpaling. Melihat ini semua timbul tanya di dalam diriku, apakah ini alasan kau memutuskan hubungan yang sudah terjalin bertahun-tahun? Apa arti aku selama ini bagimu hingga dengan mudahnya kau mencampakkan hubungan kita begitu saja.

Apakah selama ini kau menduakanku? Sejak kapan kalian mulai dekat dan begitu bodohnya aku tak mencium gelagat busukmu. Aku percaya padamu, namun kepercayaan itu hanya sebatas kata karena kau tak lagi milikku, walau tanpa label. Kini kau bukan siapa-siapa, bahkan bertemupun tak ada lagi sapa padahal kenal, bagai orang asing, dimana kau letakkan segala kenangan indah kita dulu...? Apakah hanya aku yang mengganggapnya indah sementara kau tidak, sehingga dengan mudahnya kau lupakan masalalu kita dulu. Bagaimana perasaanku sekarang tak lagi ada hubungannya denganmu karena ini urusanku dan kau telah berbahagia dengan dia yang baru.

Masih kurasakan sakitnya hati ini saat kau katakan "aku mau putus..." seketika itu juga tubuhku terasa lemas waktu tau itu bukan bercandaan. Malam itu di tanggal jadian kita dan di tempat makan yang biasa kita datangi kau memutuskanku. Berharap itu hanya mimpi, walaupun sebenarnya aku tak mau bermimpi seperti itu tapi sayangnya semua kejadian ini bukanlah mimpi, namun begitulah ending cerita cinta kita yang berakhir dengan air mata dan dipaksa untuk berhenti meskipun belum waktunya usai.

Cinta tak selamanya berjalan indah dan terasa manis, mungkin ini yang terbaik untuk kita berdua. Meskipun sakit, namun aku terima keputusanmu tak mungkin juga aku mempertahankan hubungan kita seorang diri yang malah akan lebih menyakiti kita berdua.

Kucoba menerima walau sakit dan mungkin juga sulit untuk melupakan, mengubur kenangan kita dan menghapus mimpi-mimpi yang kita buat bersama. Usai sudah kisah cinta kita yang tak mampu bertahan oleh sang waktu . (23/02/19)