Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

29/10/18

Jadah tempe


Bila berkunjung ke Kaliurang daerah Yogyakarta pasti banyak dijumpai penjual makanan tradisional ini, jadah tempe. Dulu ketika dengar pertama kali jadah tempe bayanganku jadah yang dibuat sari tempe, agak susah ya bayanginnya hahahaha....

Ketika lihat dan merasakan enak juga. Sama saja seperti jadah di orang yang punya hajat, jadah bakar, ataupun yang di jual di pasar. Jadah tempe cara penyajiannya jadah dimakan dengan tempe bacem bisa juga dengan tahu atau gembos (ampas tahu) bacem suka-suka memadukannya.

Dengan harga 10rb mendapatkan jadah yang di bentuk bulat ga begitu besar dan ketebalan terte tu, lauknya 3 potong. Mau pilih tahu, tempe, ataupun gembos silahkan pilih sesuai selera kalau mau merasakan ketiganya juga boleh. Entah cara yang benar makannya bagaimana karena 2 kali beli tidak diajari makan yang enak seperti apa, penjualnya hanya bilang jadah dimakan dengan tempe udah gitu saja.

Jika cara makannya dengan menggigit jadah lalu tempe sepertinya kelamaan dan ga praktis tangan kotor semua, karena jadah yang terbuat dari beras ketan cenderung lengket bila terkena tangan (kalau lengketnya ke kamu seh okeeh yaa) aku coba makan dengan menekan-nekan jadah dengan daun agar jadi tipis lalu memotong lauk secukupnya (tempe, tahu, gembus) diletakkan di atasnya lalu jadahnya di lipat sehingga lauknya ada di tengah, menurutku lebih enak lauk gembus ya karena jarang makan makanya terasanya lebih enak. Sepertinya seperti ini makan yang pas, tapi kali ini lauknya kurang enak. Kurang manis dan agak sedikit ada rasa getar. Kalau tempenya yang digunakan setemgah jadi masih terlihat kedelainya pasti jos. Kalau berkunjung sempatkan mencoba jadah tempe ya, sesekali rasakan nikmatnya makanan tradisional. Ga rugi, rasanya enak deh.(29/10/18)

17/04/15

Kebun Teh Medini


Mencari wisata alam di kota Semarang, apa saja ya....?! Sekarang saatnya memperkenalkan wajah kotaku ini kepada semua orang.

Selain bangunan peninggalan Belanda di kota Semarang juga ada beberapa tempat wisata alam yang patut dicoba untuk di kunjungi, dijamin akan memberikan suasana berbeda. Kali ini kita akan membahas tentang kebun teh Medini dan juga Curug Lawe. Curug atau air terjun yang letaknya masih satu area dengan kebun teh Medini ini berada di perbukitan pegunungan Ungaran yang masih masuk kabupaten Semarang - Jawa Tengah. Sebenarnya disini tidak hanya ada Curug Lawe namun masih ada Curug Benowo dan juga Goa Jepang.

Kebun teh setahuku cuma di daerah Ungaran tapi ternyata masih ada kebun teh lain yang menyimpan keindahan tersendiri. Berada di ketinggian 1500MDPL kebun teh Medini yang sebenarnya sudah masuk wilayah kabupaten Kendal ini memang belum banyak yang tau, kebanyakan yang datang kesana juga para remaja yang suka berpetualang di alam bebas. Namun bagi para pecinta  alam yang suka melakukan perjalanan pendakian tentu tak asing dengan kebun teh Medini karena di tempat ini menjadi jalur pendakian ke gunung Ungaran, dan di kebun teh ini pula biasanya pendaki akan beristirahat di barak yang dikenal dengan nama Promasan.


Akses yang tak mudah mungkin ini juga yang menjadi faktor utama mengapa kebun teh Medini masih sedikit pengunjungnya. Untuk kesana dibutuhkan fisik yang fit dan juga sarana transportasi pribadi yang prima, ini dikarenakan jalan menuju ke kebun teh masih dibilang rusak dengan aspal yang sudah hancur, ini dikarenakan seringnya dilewati kendaraan berat milik TNI sehingga aspalnya hancur tinggal menyisakan kerikil yang berserakan memenuhi semua bahu jalan jadi mesti harus hati-hati karena selain licin jalan juga menanjak dan berliku seperti khas jalan menuju perbukitan. Bahkan ga ada sela sedikitpun di badan jalan yang menyisakan tempat unyuk menghindari bebatuan.

Untuk menuju ke kebun teh Medini ada dua jalur yang bisa digunakan,
Apabila dimulai dari kota Semarang para petualang dapat melewati jalur pasar Jrakah - Boja melewati kecamatan Mijen dan Cangringan. Ketika memasuki wilayah Cangringan, para petualang silahkan lurus menuju Taman Rejo, kalau belok kanan akan menuju kecamatan Bojo.
Apa bila dari Ungaran, para petualang bisa melewati jalur pasar Ungaran - Gunung Pati - Cangringan.

Dari arah kota kita akan melewati jalan yang mulus, namun ketika sudah melewati Cangkringan (kalau ga salah ingat, sepintas baca dari sekolah dasar yang dilewati) mulai menemui jalan yang berlubang dan bebatuan. Meskipun begitu kita akan disuguhi pemandangan dengan kanan kiri ladang penduduk yang kebanyakan ditanami kopi, padi, rumput sebagai makan ternak dan beberapa tanaman lain, selain itu juga anda akan menemui bangunan dari bambu yang cukup besar sebagai tempat budidaya ayam petelor. Jalan yang berbatu mungkin ada manfaatnya juga agar kita lebih hati-hari dan lebih bisa menikmati alam yang di suguhkan di sekitarnya. Ya meskipun tak serindang yang di harapkan karena selama perjalanan masih merasakan panas meskipun cuaca sedikit mendung.


Di tengah perjalanan kita juga menemukan sebuah pondok besar dan beberapa gazebo di dekat sana, entah itu rumah penduduk atau rumah makan juga ga tau, karena kita tidak mampir mengingat tujuan awal ya di kebun teh, selain itu juga pemandangannya kurang menarik sekelilingnya hanya tanah yang di tumbuhi ilalang dan tanaman palawija hanya di bagian kanan ada bukit yang dipenuhi dengan rimbunnya pepohonan.

Masih separo perjalanan dengan beberapa kali belokan dan jalan yang tetap menanjak dan berliku. Berjalan hati-hati dan jangan pernah berpikir macam-macam seperti motor ngadat di jalan, tiba-tiba ban gembos, kehabisan bensin atau semacamnya karena untuk mencari bengkel disana sepertinya susah, boro-boro bengkel, warung atau rumah penduduk saja masih bisa di hitung dengan jari.

Setelah perjuangan panjang mengalahkan kerikil dan kelokan akhirnya terlihat juga portal yang di pasang sebagai pengaman, mungkin juga itu sebagai tanda bahwa anda sudah memasuki area kebun teh Medini. Namun sebelum itu anda harus melapor sekaligus membeli tiket masuk seharga Rp 3.000,- per orang masih murah ya. Setelah tiket sudah di tangan jangan kira anda bisa bernafas lega, perjalanan belum berakhir bung. Namun perjalanan kali ini berbeda, untuk menuju ke kebun teh jalan yang dilalui sudah rapi meskipun yang di gunakan bukan aspal melainkan batu-batu yang di susun rapi. Mungkin ini ada tujuannya agar tidak membahayakan kendaraan atau orang yang melewatinya, bayangkan jika aspal bakal terlihat kecuramannya dan akan sedikit licin untuk jenis kendaraan tertentu bahkan jika jalan pun bisa saja terpeleset karena alas kaki yang digunakan licin apalagi daerah pegunungan identik dengan kabut yang membuat jalan sedikit lembap cenderung basah.


Selama perjalanan anda akan melewati barak dan juga pabrik teh Medini yang lagi beroperasi jadi jangan heran jika pas melintas akan tercium bau teh yang harum, ga tau juga jenis teh apa saja yang diproduksi di tempat ini. Menuju ke kebun teh jalan yang dilalui lebih menanjak dibanding sebelum-sebelumnya sehingga dari awal harus benar dalam  mengambil ancang-ancang bila tidak ya ngalamat motor akan ga kuat nanjak seperti yang di alami abu, sampai-sampai aku harus turun dari boncengan.


Namun momen ini juga jangan di jadikan bencana ya, anggap saja berolah raga dan nikmati pemandangan hamparan kebun teh dan juga bunga-bunga liar yang tumbuh diantara semak belukar. Oh ya di sisi kiri jalan anda akan melihat pipa air yang cukup besar yang berada persis di pinggir jalan. Mungkin itu pipa untuk menyalurkan air pegunungan ke pemukiman penduduk untuk kebutuhan sehari-hari  masyarakat yang ada di bawah. Sampai di atas anda bisa mencari tempat yang rindang untuk memarkirkan motor dan mulai berpetualang mengitari kebun teh Medini yang sangat luas ini.

Tapi sebelum mulai berpetualang, ada baiknya istirahat sejenak setelah perjalanan jauh, untuk meregangkan kaki dan tangan yang kaku setelah kurang lebih 2 jam berkendara. Menikmati segelas teh panas sepertinya bisa menjadi solusi tepat tapi tahukah dimana ada warung di tempat ini.... ?! Jangan bingung, anda berjalan saja ke deretan rumah di samping lapangan dekat parkir motor, nah di situ ada warung serba ada  (kata masnya gtu) di sebut begitu karena meskipun warungnya kecil namun menjual segala macam kebutuhan baik dari makanan siap saji, sembako, sayur mayur, sampai makanan ringan, jajan bahkan gas elpiji pun tersedia disana jadi tak perlu repot membawa bekal dari rumah ya. Tapi kalau mau bawa juga boleh biar lebih aman dan lebih ngirit (bila ga mau dibilang pelit)

Segelas teh panas untukku dan segelas kopi untuknya. Namun baru di diamin sebentar teh yang tadinya super panas seketika menjadi panas suam-suam kuku. Cita rasa teh yang beda, mungkin ini racikan teh dari perkebunan sini kali ya. Tehnya pekat dengan sedikit rasa sepet, pas dan mantep deh pokoknya. Jika kalian kesini jangan lupa nyobain ya, sayang kagak ada kemasan yang bisa dibawa pulang dan juga ga kepikiran juga untuk menanyakannya kepada si ibu pemilik warung. Di kebun teh Medini bisa dibilang sarananya sudah lengkap, warung serba ada, mushola, juga toilet umum. Setelah menghabiskan minuman yang kami pesan saatnya berakat. Ketika menyusuri jalan sempat iseng mencuci tangan di saluran kecil dan woooow airnya dingin tapi segar, rasanya pengan mandi pastinya segar dengan udara yang panas sedikit mendung ini.


Pemandangan yang cukup memanjakan mata, dimana sepanjang mata memandang hanya hamparan pohon teh dengan udara yang cukup sejuk dan tentu saja tenang. Beruntung hari itu cuaca sedikit panas, namun begitu angin yang berhembus membuat tak begitu banyak keringat yang bercucuran. Masih bisa untuk menikmati suasana yang tak ditemui di kota besar. Berjalan menyusuri jalan setapak diantara rimbunnya pohon teh. Entah jenis teh apa yang di hasilkan dari kebun teh Medini karena selama di sana tak banyak orang yang aku temui yang bisa aku korek keterangan lebih lanjut tentang kebun teh Medini.

Tempat yang bisa jadi rekomendasi biat yang suka petualangan, karena selain teh Medini ada juga obyek wisata yang patut dikunjungi seperti Curug Lawe, Curug Benowo dan Goa Jepang semua tempat itu masih berada dalam satu kawasan dan jika anda benar ingin berpetualang, bisa blusukan mencari jejak dantara rimbunya semak belukar karena tempat ini bisa tembus ke air terjun Semirang. Masyarakat disini juga ramah dan kehidupan mereka juga sederhana dan apa adanya. Orang-orang yang tau bagaimana menikmati hidup dan tahu bagaimana memperlakukan alam. Jadi gak salah kan jika tempat ini dimasukkan dalam list perjalanan anda. Selamat berpetualang. (05/04)

Curug Lawe


Selain kebun teh Medini, di tempat ini juga ada keindahan alam yang tersembunyi di dalamnya dan itu adalah air terjun yang diberi nama curug lawe. Untuk menuju ke Curuk lawe Medini  ini hanya bisa di akses dengan berjalan kaki saja. Namanya juga ngasal jika disini ada air terjun, berjalan menyusuri kebun teh dan bertemulah papan menunjuk arah keberadaan Curug Lawe, karena tujuan awalnya ingin kesana. Info dari masnya jika disini ada air terjun dan juga goa, mendengar hal itu langsung saja meminta untuk kesana. Namun berhubung si mas juga belum tau arah yang sebenarnya maka berjalanlah kita menyusuri jalan setapak diantara rimbunnya pohon teh, sedikir ragu juga ketika ada pertigaan tapi kita tetap memilih berjalan lurus dan kali ini feeling yang salah ternyata jika dilanjutkan terus akan menuju ke jurang.

Kebetulan di dekat kita berdiri ada seorang bapak-bapak yang lagi mencari rumput, lumayan jauh juga sebenarnya karena kita bertanya sambil teriak-teriak seperti tarzan. Ternyata arak kita salah, seharusnya di pertigaan tadi mengambil arah kanan bukannya lurus, berbalik arah tapi tak kembali. Jetika berjalan diantara pohon teh sebaiknya tangan ke atas ini menghindari agar tangan ga terhores ranting-ranting yang sudah mulai menjadi batang pohon ataupun kena tumbuhan perdu yang tumbuh diantara pohon teh. Selain itu berjalanlah dengan hati-hati jalan tak selamanya lurus dan terkadang harus melewati kubangan juga aliran air yang entah dari mana asalnya.

Tak berapa lama berjalan lirih terdengar suara air terjun, wah senangnya dan benar saja air terjun. Waaaaah.... indah banget. Melihat itu sempat juga berteriak, (bener-bener katrok ya) air terjunnya tinggi dengan debit air yang deras. Kita berhenti sejenak untuk menikmati sambil mengabadikan air terjun yang kita lihat dari kejauhan.

Karena ingin segera sampai kesana kita pun berjalan menyusuri setapak yang sepertinya sering di lewati orang. Jalan yang masih seadanya dengan bertumpu akar dan bebatuan juga tanah yang dibuat berundak yang sedikit licin, mungkin karena embun dari rumput dan pepohonan yang ada di sekitar sana sehingga membasahi tanah dan membuat licin. Menurut si mas di hutan ini (karena hanya ditumbuhi pohon dan rerumputan) masih banyak hewan-hewan liar yang berkeliaran seperti kera, gareng pong, belalang, lintah bisa juga ular. Ternyata tidak hanya hewan-hewan tadi yang ada di sini namun juga aku menemui ulat di tengah jalan. Hiiiiii.... Spontan langsung berteriak dan lari, sumpah dah bikin kaki lemes liatnya sampai mas yang berjalan di depan seketika berhenti dan melihat apa yang terjadi, untung masih bisa ngerem kagak sampe nyusruk ke semak-semak.



Kembali kita dihadapkan dengan persimpangan jalan, melihat jalan ke arah kiri yang sedikit menurun dan tak terlihat jalan setapak, mungkin karena terturup ilalang sehingga kita memutuskan mengambil jalan satunya yang ke arah kanan. Hanya jalan setapak kecil yang berada di pinggiran dari sana kita bisa melihat air terjun yang indah, tapi sepertinya jalan ini bukan menuju ke arah air terjun melainkan ke atas air terjunnya, namun barhubung sudah separoh jalan sehingga kita tetap kemutuskan untuk melanjutkan perjalanan, sampai titik penghabisan. Kebetulan sekali mungkin di atas bisa lebih santai dan lebih tenang pikir kita seh begitu, ini juga untuk menenangkan agar terhindar rasa kecewa (ciiie bahasanya) karena ketika melihat ke arah air terjun terdengar juga teriakan-teriakan dari pengunjung yang sepertinya sudah lumayan ramai.

Di perjalanan tak hanya suara air terjun yang mendominasi, juga suara burung dan sesekali suara gareng pung dan serangga lain yang hidup disana. Masih terlihat alami dan terjaga keasriannya mudah-mudahan akan seperti ini meskipun sudah banyak yang tahu, namun begitu kita harus berhati-hati karena jalan ini hanya kecil dan sedikit licin. Jika mau kesini aku sarankan gunakan alas yang tidak licin ya biar lebih bebas dalam berherak.

Sempat aku sedikit takut melihat jalan yang ada di depan meskipun di tepian jurang namun karena tertutup rumput dan banyak pohon yang tumbuh disana sehingga menghilangkan kesan seram tapi kali ini tidak ada rerumputan yang melindungi sehingga aku meminta mas untuk berjalan di depan dan menuntunku, maklumlah phobia ketinggianku belum sepenuhnya sembuh.

Lama berjalan akhirnya kita menemukan sungai yang jernih dan sepi. Ketika memegang air yang mengalir diantara belukar rasanya dingin tapi segar. Pengen nyebur seketika tapi ga bawa ganti sehingga berpikir ulang untuk nyebur. Kita hanya duduk di atas batu bercerita sambil sesekali kaki memainkan gemericik air yang sangat menggoda untuk berendam. Menikmati suasana yang sangat langka di dapat untuk di abadikan dalam jepretan kamera hp. Bayangkan berada di aliran air hanya ada beberapa orang saja disana, sekali melintas bapak-bapak setengah baya yang memikul potongan kayu yang berasal dari hutan.

Duduk di atas batu sambil bercerita dan ngemil wafer coklat yang aku bawa dari rumah sebagai bekal, lumayan sebagai pengganjal perut dan minumnya tetep air mineral. Agar minumnya juga segar maka di rendam dulu di antara batu dan ternyata benar air dalam botol ikut dingin dan segar ketika di minum tapi enggak bau kaki juga kok (salah naro ternyata)

Karena keinginan nyebur terlalu tinggi dan kapan lagi bisa merasakan berendam di air pegunungan apa lagi tempatnya tenang tanpa ada gangguan akhirnya kita pun memutuskan untuk nyebur, dingin tenang dan asik lah pokoknya. Pura-pura mencari batu akik seperti yang lagi tran saat ini. Hahahaha....

Badan sedikit menggigil meskipun matahari sudah berada di atas kepala namun belum ada keinginan untuk keluar sari air, sepertinya kulit kaki sudah mulai berkerut namun masih betah berada di air. Ada perasaan damai disana sehingga enggan untuk enyah dari tempat itu, namun berhubung waktu sudah mulai sore dan takut nanti kemalaman di jalan sehingga mau ga mau kita pun beranjak dari air dan terduduk lagi di batu besar seperti ketika pertama kita kesana, ini agar air di celana kita sedikit menyusut dan setelah itu kita pun pulang dengan pakaian yang masih basah.


Masih menyisuri jalan yang sama ketika berangkat, namun sepertinya perjalanan pulang terasa lebih mudah dan lebih cepat dibanding ketika kesana. Di tengah perjalanan masih saja sempat-sempatnya salfi disana sini. Sempat juga aku mengabadikan beberapa tanaman liar dan yang paling menggemaskan.


Ketika sampai di kebun teh matahari sudah tak nampak dan kabut juga mulai datang mengutupi pemandangan di sebagian kebun teh Medini. Tapi sebelum pulang kita sempatkan kembali ke warung untuk meneguk secangkir teh untuk menghangatkan badan udara disana sudah mulai dingin. Lumayan menghangatkan dan setelah itu saatnya kembali melibas jalanan bebatu dan menuju ke kandang. (05/04)

08/11/14

Nyidam Nasi Liwet

“Mba sudah di kos apa masih di kantor..” SMS dari Ana yang dulu juga menjadi penghuni kos bahkan lebih awal Ana ketimbang aku, namun gara-gara peraturan kos yang tidak memperbolehkan laki-laki masuk tanpa terkecuali keluarga sendiri inilah yang memutuskannya pindah karena kakak lelakinya sering ddatang ke Jogja untuk sekedar liburan.
“Di kos An, ada apa… kesini saja….”
“Main yok mba, lagi stress ni”
“Ayo, kemana….” Tanpa menunggu lama karena saat itu aku juga lagi jenuh di kos dan juga sedikit stress juga sebenarnya.
“Bentar lagi aku ke kos mba, mau mandi dulu”
“Iya…”
Walaupun baru pulang kerja, aku langsung mandi, terpaksa seh sebenarnya karena biasanya mandi siang jika mau sholat dzuhur. Tak lama Ana datang, katanya hari ini gak ada kuliah. Waktu aku tanya mau pergi kemana bilangnya ingin cari nasi liwet, tapi dimana … sama-sama pendatang enggak tau tempat jual nasi liwet. Kalau di Sanmor (sanday morning, sebuah pasar yang hanya ada di hari minggu di sekitar daerah UGM) ada tapi mesti nunggu minggu donk, padahal kepinginnya saat ini lalu aku nyeletuk kalau di Solo ya banyak, tapi masa iya hanya makan nasi liwet satu piring meski pergi ke Solo dulu. Aku tawarkan makanan alternatife lain tapi katanya bosan dan tiba-tiba Ana mengusulkan untuk ke Solo. Aku seh oke-oke saja, setelah deal dan yakin kita berdua berangkat ke Solo menggunakan motor Ana dan Ana juga yang membawa sedangkan aku hanya nangkring saja di belakang.

Dua orang ke Solo sedangkan enggak tau jalan ataupun seluk beluk kota Solo. Kota Solo sudah banyak perubahan dari terakhir kali aku menginjakkan kaki di kota ini. Muter-muter stadion Manahan, lapangan sepak bola kebanggaan masyarakat Solo, stadion yang di kelilingi tanaman dan beberapa sudut ditempatkan bunga maupun pohon untuk mempercantik serta bangku untuk melepas lelah. Bersantai di bangku-bangku taman.

Bingung mau kemana sedangkan bangku-bangku taman juga sudah terisi semua, lalu memutuskan untuk berputar atau memutari stadion dan diantara penjual itu ada yang berjualan nasi liwet. Ketemu…. Kita pun memarkirkan motor dan sarapan nasi liwet disana. Awalnya aku ingin SMS beberapa teman yang dari Solo untuk menanyakan dimana penjual nasi liwet yang enak namun niat itu aku urungkan karena tentunya bukan jawaban singkat yang aku dapat malah pertanyaan balik ini lah…. Itu…. Sama siapa… naik apa…? Huuuuft, sudah hafal aku dengan kebiasaan teman-temanku yang suka memberondong pertanyaan.

Rasanya lumayan namun harganya agak mahal, tapi untung saja nasi liwetnya masih karena ketika dating disana sudah duduk lesehan banyak orang sampai-sampai kami mesti nyempil di pinggir ga kebagian tikar. Kenyang… sarapan nasi liwet di kota asalnya. Dari stadion kita lanjutkan perjalanan, asal jalan saja mumpung sudah sampai sini. Enggak tau tempat rekreasi karena juga hanya modal nekat tanpa persiapan, lalu mengarahkan motor ke PGS (Pasar Grosir Solo) yang ada di sekitar keraton walaupun sempat tanya dan berganti posisi namun karena aku seolah tak menguasai motor akhirnya kemudi kembali diambil alih Ana. Karena aku taunya juga hanya PGS, daerah gledeg disana dulu ketika awal kerja traningku ada disana di gedung BCA dan aku sering salah sebut bila ditanya kondektur bus dengan menyebutkan Glodok (aku ingatnya tempat di kota Jakarta) padahal yang benar Gledeg, sampai-sampai aku harus mengingat dan tak jarang menanyakan kepada teman satu traning yang sebelumnya juga bekerja di Solo setiap berangkat.



Pasar grosir yang sebagian besar menjual pakaian dan batik, kalau disini aku sedikit ga asing karena pernah kesini dan sepertinya tak banyak perubahan. Hanya melihat-lihat deretan penjual pakaian, mereka tak jauh beda sama pasar Bringharjo yang ada di kota Jogja sebenarnya. Agak panas dans edikit sumpek karena harus berhimpit-himpitan dengan orang-orang lain yang lewat ataupun mampir ke kios untuk melihat-lihat dagangan. Kalau di Solo masyarakatnya lebih suka ke pasar tradisional, hingga pasar terlihat ga pernah sepi meskipun panas dan berdesak-desakan dibanding ke mall tak heran jika mall yang berdiri megah terlihat sepi pengunjung. Capek, istirahat sejenak di bangku yang tersedia, sudah puas berdesak-desakan kitapun pulang, namun sebelumnya mampir di penjual minuman yang ada di parkiran dulu ya masih haus meskipun sudah habis sebotol air mineral.


Pulang… Bensin mepet, mampir dulu di pom bensin sekalian menanyakan arah jalan pulang menuju Jogja, masnya memberi penjelasan komplit jadi kami hanya perlu mengingat kemana arah beloknya. Perjalanan tak sepadat ketika berangkat, terlihat awan dengan langit biru cerah dan sepanjang perjalanan terhampar sawah di kanan kiri jalan yang kita lalui. Sampai di Jogja tidak langsung pulang dan istirahat namun mampir dulu di rujak es krim dekat UGM, alamaaaaak pedes nian rujaknya dan beruntungnya si bapaknya tidak jual minuman cihuiii ga tu. Ya terpaksa pulang sambil megap-megap yang disambut angin yang bertiup berlawanan arah dengan kami. Kembung....kembung deh.

Ana tu penikmat cabe sejati, kalau beli ayam penyet saja coba cabe 10 dan pernah juga coba cabe 15 dan meningkat ke cabe 20, ga kebayang bagaimana pedesnya aku saja cape 4 sudah megap-mengap kaya ikan mas koki kurang air.


Memori 16.05.2012

30/05/14

Petualangan di Kebun Teh Tambi

Jika ditanya apakah tidak capek setelah muter-muter kebun teh ini mau nambah lagi, dengan lantang akan aku jawab "enggak" . Aku, Otong dan pak David mulai petualangan dengan kembali ke jalan besar dan memilih kebun teh yang ada di seberang jalan sebagai obyek sasaran penjelajahan. Mencari jalan di sela-sela kebun teh, terlihat di seberang sudah rumah-rumah penduduk, jika di lihat seperti ada cekungan mungkin sungai pikirku tapi setelah di lihat ternyata bukan sungai hanya cekungan atau turunan yang di penuhi pohon-pohon teh. Berhenti sejenak untuk menganalisa, aku ingin ke seberang atas demikian juga pak David kalau Otong ngasal ngikut saja, maka dari itu kita berdiskusi (cieee bahasanya) ya ngobrol lah mencari jalan agar bisa sampai ke atas (di atas pemukiman penduduk) dengan menganalisa dari motor yang baru lewat di tempat yang ingin kita tuju. Tak butuh waktu lama, kita nurut Pak David sebagai driver pastinya sudah ahli mencari jalan tikus ketika menghindari macet dan agar cepat sampai tujuan.


Melewati pematang diantara rimbunnya pohon teh menuju pemukiman penduduk meski hati-hati karena jalannya menurun dengan tanah yang agak licin. Wiiih ternyata jalan di perkampungan ini sempit walaupun sudah rapi, dengan  kanan kiri rumah penduduk yang begitu rapat dari satu dan yang lainnya. Lurus berjalan menyusuri jalan setapak sambil sesekali bertegur sapa dengan penduduk sekitar untuk menghormati, mendengar jawaban mereka dengan logat ngapak-nya ketika di sapa sepertinya penduduk di sini ramah-ramah dan ada juga beberapa yang nampak heran dengan melihat ke arah kita.

Terus berjalan sampai di pertigaan memilih jalan lurus saja yang langsung menuju kebun teh. Dan woooow dari sini sudah terlihat hamparan kebun teh yang sangat luas banget dan pemandangan di sekelilingnya sungguh memanjakan mata, dengan bukit tinggi, gunung dan awan-awan yang sebagian berwarna putih dan sebagian lagi berwarna ke abu-abuan yang cukup tebal menutup sebagian langit yang berwarna biru cerah.
Inilah gambaran dari empat penjuru mata angin yang berbeda (padahal kagak ngerti arah sok-sok an pakai bahasa intelek). Kalau di gambar saja sudah seperti ini apalagi kalau lihat langsung..., bikin betah deh berlama-lama disana. Karena di sini sepanjang mata memandang hanya pohon-pohon teh maka dari itu tak ada yang bisa di ceritakan, hanya melukiskan lewat jebretan kamera dan mengabadikan dalam memory otak. Udara yang segar dan pemandangan yang luar biasa indah seimbang dengan sedikit rasa gatal setelah belusukan menerobos kebun teh. Sayang birunya langit tertutupi awan yang begitu banyak sehingga sedikit mengganggu hasil jepretan kamera. Sudah seperti acara pemotretan saja aku yang meminta di potret dengan sedikit memaksa seh sebenarnya, Otong sebagai fotografer dan pak David yang mengarahkan tempat agar mendapatkan gambar yang bagus.

Sambil berjalan-jalan dan sesekali mengambil gambar agar ada sesi memoryalnya. Di sore hari beranjak petang, di sela-sela perjalanan aku menjumpai beberapa penduduk yang mencari kayu bakar dan mencari rumput. Bayangin saja tu kayu bakar sebanyak itu mereka kuat mengangkat. Walaupun sudah tua tapi semangat mereka '45 perlu di contoh tu, nah dengerin ell perlu mencontoh mereka ingat itu... (bicara sama diri sendiri). Tak terbayang beratnya seperti apa dulu waktu bolang di Goa Kiskendo yang berada di daerah Kulon Progo, Yogyakarta pernah mencoba untuk mengangkat keranjang yang berisi penuh dengan rumput-rumput untuk makan ternak tapi enggak berhasil hanya mampu bergeser sedikit doank, berat ternyata. Di Tepi kebun teh yang dekat dengan pemukinam penduduk sempat juga menjumpai tiang-tiang dari bambu yang cukup tinggi dan berbentuk seperti kubus, katanya ini biasanya untuk mengadu atau melatih merpati.

Sepanjang jalan hanya tertawa melihat Otong yang tersiksa, sudah tak ada tenaga untuk melanjutkan perjalanan, salah sendiri acara jalan-jalan masih saja pakai celana jean ketat. Berbeda jauh dengan pak David yang masih bersemangat seakan tak punya rasa capek dan haus terus saja berjalan menyusuri jalan diantara kebun teh. Sebagai pecinta burung ketika ada burung yang melintas langsung saja pak David ingin mengejarnya bahkan sampai berkata "kalau penduduk sini ada yang punya burung di beli saja pasti harganya murah bahkan malah bisa saja cuma dikasihkan begitu saja, disini burung masih banyak" deeeer, hadah kenapa laki-laki di sekeliling aku memilih burung sebagai binatang peliharaan seh kenapa gak pelihara semut atau nyamuk gitu.

Melihat Otong yang hanya memiliki sisa-sisa tenaga pak David berkata sebentar lagi itu disana ada warung yang jual teh, melihat arah yang di tunjuk pak David memang ada bangunan diantara rimbunnya pucuk teh walaupun hanya terlihat gentingnya saja tapi mana ada yang jualan disini apalagi di kebun teh siapa juga yang mau beli. Mendengar perkataanku Otong ngomel-ngomel karena menghancurkan kembali semangatnya yang mulai terbangun setelah mendengar perkataan pak David tentang warung teh, hahahahha...... Kasihan juga melihatnya dan langsung saja aku buka tas ajaibku, kalau doraemon punya kantong ajaib aku juga punya tas ajaib aku kasih dia permen. Berhenti sebentar menikmati pemandangan sambil mengunyah permen dan oreo, pak David sudah enggak kelihatan masih asik dengan burung-burung yang berseliweran.

Matahari sudah mulai bergeser dari tempatnya, mengingat sebentar lagi gelap tujuan kita selanjutnya mencari jalan raya untuk pulang walaupun awalnya ingin jalan lurus terus penasaran sampai dimana ujungnya, Pak David sempat bertanya dengan bapak pencari rumput yang kita jumpai tadi tentang arah yang menuju ke jalan raya. Jika lurus terus akan menemukan jalan raya tapi masih jauh lagi, mengingat matahari yang meyuruh kita untuk segera balik ke pondok untuk itu kita memilih mencari jalan memotong, mencari jalan belok ke kanan (insting mendengar deru motor yang menanjak) yang agak besar tidak menerobos pohon teh takutnya kalau kejeblos. Di depan sudah ada pertigaan dan sepertinya ada jalan yang lumayan besar, di pertigaan eeeh tak disangka dan tak direncanakan kita bertemu lagi dengan rombongan yang naik sepeda yang kita jumpai di perempatan di awal jalan-jalan di kebun teh.




Pulang-pulang kembali ke pondok, mengingat sebentar lagi sudah jam 06.00 acara makan malam, nanti kalau ketinggalan cacing dalam perut bisa meraung-raung demo malah repot sendiri. Di tengah perjalanan Pak David menelefon keluarganya di rumah sekedar menanyakan lagi apa dan menceritakan apa saja yang sudah ia lakukan sepanjang hari ini, duuuuh senengnya trus aku yang menelefon siapa donk.... (ngarep dikit aaah, tapi itu aja yang telepon jangan yang lain apalagi sales yang menawarkan panci jangan deh)


Akhirnya tiba juga di jalan raya tapi sepertinya butuh sedikit tenaga lagi ni untuk sampai pondok, pikiranku dengan Otong ternyata sama menumpang mobil yang lewat untuk menghemat tenaga, hahahhaa.... tapi melihat pak David masih telepon dan beristirahat ya hanya membiarkan saja mobil-mobil yang lewat. Ketika ada mobil pick up lewat aku kiranya ingin berbelok karena agak minggir dan di depanku ada jalan, jalan yang barusan aku lewati untuk sampai ke jalan raya, tapi ternyata mobilnya menepi dalam pikiranku akan menanyakan padaku apakah membutuhkan tumpangan eeh ternyata mobilnya berhenti karena memberi jalan kepada mobil dari arah berlawanan mengingat jalan yang baru di perbaiki, wkakakaka....keburu ge er duluan.

Lanjutkan perjalanan menuju ke pondok penginapan, lumayan juga jauhnya dan kakiku bagian jari-jari sedikit sakit kepentok ujung sepatu karena jalan yang menurun, tidak hanya itu pergelangan kakiku juga mulai terasa pegal tapi semangat tak pernah kendur maju terus sampai tujuan. Aku dan Otong sepanjang perjalanan hanya bercanda terus sedangkan Pak David masih asik mengobrol dengan anak-anaknya di telepon. Tak terasa akhirnya sampai juga di pondok, huuuft...petualangan selama 2 jam sangat berkesan. Melihat kanan kiri sepi tak ada orang yang berlalu lalang, hanya beberapa orang yang lagi ngobrol di teras kamar, mungkin lagi pada mandi mengingat hari sudah mulai malam dan sampai pondok bertepatan dengan suara adzan tanda Magrib sudah datang.

Istirahat sejenak untuk menghilangkan keringat sebelum mandi, capek juga ternyata. Beberapa teman juga sempat bertanya karena baru kelihatan, melihat Otong yang tak berdaya kehabisan tenaga jadi ketawa sendiri, habisnya dia ngomel-ngomel bilang kalau aku kerjain dan menyiksanya, bodo amat yang penting sesi bebas 2 jam setelah jalan-jalan di kebun teh dan sebelum makan malam terbayar dengan melihat pemandangan yang begitu indah. Ini baru awal karena besok masih ada sesi perjalanan naik ke puncak Sikunir melihat sunres.

Saatnya mandi dan siap-siap makan malam dilanjut acara api unggun dan hiburan malam klik disini