17/11/12

Mitos Pernikahan Suku Sunda - Jawa

Pernahkah anda mendengar bahwa orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa atau sebaliknya? Ternyata hal itu hingga kini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat kita. Lalu apa sebabnya?

Mitos tersebut hingga kini masih dipegang teguh beberapa gelintir orang. Tidak bahagia, melarat, tidak langgeng dan hal yang tidak baik bakal menimpa orang yang melanggar mitor tersebut.

Lalu mengapa orang Sunda dan Jawa dilarang menikah dan membina rumah tangga. Tidak ada literatur yang menuliskan tentang asal muasal mitos larangan perkawinan itu. Namun mitos itu diduga akibat dari tragedi perang Bubat.

Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadapputri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.

Hayam Wuruk memang berniat mempristri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan polotik, yaitu mengikuti persekutuan dengan negara Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit.

Maharaja Linggabuana lalu berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditrmpatkan di persanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke Buban beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit.

Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dukuasai.

Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan untuk menganggap kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negara Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di NUsantara. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mhapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Versi lain menyebutkan bahwa raja Hayam Wuruk ternyata sejak kecil dijodohkan dengan adik sepupunya Putri Sekartaji atau Hindu Dewi. Sehingga Hayam Wuruk harus menikahi Hindu Dewi sedangkan Dyah Pitaloka hanya dianggap tanda takluk.

Pihak Pajajaran tidak terima bila kedatangannya ke Majapahit hanya menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai taklukan. Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada.

Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negari Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai kesatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu.

Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta pada pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat.

Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka denga nhati berduka melakukan bela pati atau bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta kesatria, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perubahan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau perbudakan.

Hayam Wuruk pun kemudian meratapi kematian Dyah Pitaloka. Akibat peristiwa Bubat ini, hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. mahapatih Gajah Mada dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri.

Tregedi perang Bubat juga merusak hubungan kenegaraan antara majapahit dan Pajajaran atau Sunda dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala.

Pangeran Niskalawastu Kencana, adik Putri Dyah Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih kecil dan menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik tahta menjadi Prabu niskalawastu kencana.

Kebijakan Prabu niskalawastu Kencana antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antara kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negara Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran (beristri dari luar), yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.

Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan Putri Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki 'Prabu Wangi' (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukannya jalan bernama'gajah Mada' atau 'Majapahit'. Meskipun gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.

Untuk itulah mengapa sampai sekarang masih banyak yang menganggap bahwa perkawinan antara orang dari suku Sunda khususnya kaum prianya dilarang menikah atau mengikat jodoh dengan wanita yang berasal dari suku Jawa. Sumber: mitra-sbm.blogspot.com

Entah kebetulan atau memang sebuah kutukan yang belum hilang, di lingkungan sekitar saya perkawinan antara orang Sunda dengan orang Jawa dalam perjalanan mengarungi rumah tangga mengalami masalah yang memiliki poin-poin sama. Namun saya tidak akan menyebutkan poin tersebut, bila anda penasaran silahkan anda amati dan cermati sendiri yaa..., Tapi anda jangan takut atau parno yang berlebihan karena pernikahan, jodoh sudah diatur oleh Tuhan. Semua ketentuanNya adalah yang terbaik oleh kita. (L)

Tradisi Malam 1 Suro

Datangnya tahun baru Hijriyah atau dalam kalender Jawa disebut dengan malam satu Suro, di beberapa daerah memiliki tradisi yang berbeda yang sudah dilakukan sejak jaman dahulu. Jamasan merupakan tradisi yang dilakukan oleh orang jawa, yaitu merupakan pencucian pusaka yang dianggap keramat dan memiliki kekuatan gaib, yang akan mendatangkan berkah jika dirawat dengan khusuk. Lepas dari kepercayaan ini benda pusaka perlu perawatan lebih, dengan cara dibersihkan agar tidak lekas lapuk dimakan usia. Namun ada juga yang percaya akan daya mistis, karena mereka percaya bahwa benda-benda dari masa lampau memiliki energi, seperti gelang yang dipercaya untuk kesehatan yang bisa mempengaruhi frekuensi-frekuensi getaran di dalam tubuh kita energi yang terkandung di dalamnya.

Perayaan 1 Suro memang syarat dengan gelaran ritual. Tak hanya jamasan, beberapa masyarakat juga merayakan dengan tradisi melekan atau begadang sehari semalam. Melekan menjadi sarana untuk koreksi diri serta perjalanan yang telah ditempuh selama setahun. Melekan juga menjadi ajang untuk menyampaikan harapan ditahun yang baru kepada Tuhan. Menurut orang-orang tua saat malam 1 Suro jangan tidur terlalu sore, karena akan ada malaikat-malaikat bergentayangan membawa bokor (mangkok) emas isinya adalah pengabulan bagi doa-doa untuk meminta tolak bala dan  kemurahan rejeki.

Sebuah ritual menyambut malam 1 Suro yang tak pernah ditinggalkan masyarakat Surakarta adalah tradisi kirap kebo bule. Kebo Bule (kerbau yang berwarna putih) Kyai Slamet yang dianggap keramat ini merupakan hewan peliharaan Paku Buwono II, kirab ini biasanya akan dimulai pertengahan malam atau atau tergantung si kebo kapan mau berjalan menuju alun-alun untuk ikut kkirab. Saat kirab kirab, kebo bule sebagai cucuking lampah di ikuti kerabat keraton yang membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya yang mengikuti atau sekedar melihat ritual kirab. Keunikan dalam ritual ini adalah kepercayaan warga yang meyakini jika membawa kotoran atau air seni dari kebo bule maka bisa  membawa berkah atau keselamatan.
Tak hanya di Surakarta, di keraton Yogyakarta setiap tahun juga mengadakan tradisi malam satu Suro dengan cara mengarak benda pusaka dan gunungan hasil bumi mengelilingi benteng keraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Selama melakukan ritual mubeng benteng tidak boleh berbicara, innilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng benteng. Gunungan setelah diarak akan diperebutkan masyarakat yang dipercaya bila mendapatkan akan diberikan kesehatan dan kemudahan rejeki.
Sementara itu di pelabuhan Gilimanuk-Bali terdapat tradiri melarung kepala kerbau yang bertujuan agar kapal yang menyeberangi lautan diberi keselamatan dan hasil ikan yang melimpah.

Percaya atau tidak hingga kini memang masih banyak masyarakat yang menjalani ritual turun temurun ini. Selama ritual tidak menyimpang dari ajaran agama sebenarnya sah-sah saja, namun jika ritual yang dilakukan dengan niatan menyembah hal lain selain Tuhan tentu seyogyanya segera ditinggalkan.
Terlepas dari mitos yang beredar dalam masyarakat Jawa berkaitan dengan bulan Suro, namun harus diakui bersama bahwa instruspeksi menjelang pergantian tahun memang diperlukan agar lebih mawas diri.


15/11/12

Hujan Dalam Bias Mata


Hujan ajari aku menyembunyikan dukaku

Ajari aku tuk bisa menyamarkan air mataku
Ajari aku tuk menepis lukaku

Beribu sembilu kau lukiskan untukku
Begitu kuat merajam hati dan jantungku
Hingga membuatku tersekat dalam kata

Hanya airmu hujan..
Yang bisa menawarkan bening mata ini...

Lidahmu setajam pedang
Mengoyak tak berperasaan
Ku diam...
Ku diam dalam kepiluan...

Cinta bodoh????
Atau aku yang bodoh????
Sehingga begitu mudahnya kau permainkanku...
Tapi aku tetap diam

Ajari aku melupakanmu cinta
Melupakan cintamu yang membunuhku
Cintamu yang melukaiku

Tuk kesekian kali ku katakan
Ajari aku.........

13/11/12

:: Tetaplah Sampai Nanti ::

saat bersama mu sungguh ku
merasa bahagia tak terungkapkan
bila di terjemahkan dalam kata...
hanya mampu ku linangkan airmata

saat bersama mu, terasa hidupku bermakna
walau penuh liku dan terjal nya
yang di tempuh demi temukan
keindahan dalam cinta sempurna
rela berkorban untuk masa depan

kasih...
pegang lah setia seerat menggenggam
harapan dan teruslah di bawa bersama
langkah-langkah tanpa harus lelah

karena aku selalu ada di samping mu
berdua berdayung asmara di tengah
lautan yang biru, sebiru impian...
semoga kita takkan terpisah oleh waktu


04/11/12

Taman KB "Keindahan Kurang Kesadaran"

Taman yang terletak di sekitar jalan Menteri Supeno  tepatnya di belakang Gedung Gubernur Semarang, depan SMU 1 Semarang  merupakan salah satu taman yang ada di jantung kota Semarang. Taman yang di tengahnya terdapat kolam air mancur dengan patung ibu dan dua anak ini oleh masyarakat lebih dikenal dengan  nama Taman KB. Di taman KB banyak ditumbuhi pepohonan hijau yang senantiasa memberikan kenyamanan tersendiri dengan semilirnya angin yang menjadi suasana menjadi adem dan nyaman.
Tak heran jika taman ini menjadi tempat untuk sekedar bersantai sejenak melepas kepanatan dari rutinitas kerja sehari-hari sehingga Taman KB tak pernah sepi pengunjung setiap harinya.

Taman KB memiliki lahan yang cukup luas yang dibagi-bagi untuk berbagai sarana umum.
Bagian Taman KB yang berada di pojok kanan ini terdapat taman bermain yang di peruntukkan untuk anak-anak, wahana permainan yang disediakan antara lain seperti perosotan, ayunan dan arena ketangkasan lainnya, menjadikan taman ini banyak dikunjungi masyarakat yang mengajak buah hatinya untuk bermain. Terlebih arena bermain utuk anak-anak ini dikelilingi pepohonan yang cukup rindang sehingga sinar matahari tidak dapat menerobos masuk,  membuat arena bermain menjadi adem dan nyaman untuk bermain anak-anak.
Sambil menungggu dan mengawasi si kecil yang lagi asik bermain orang tua bisa duduk-duduk di bangku yang ada di sekitar taman bermain tersebut.


Dimanapun tempat yang sekiranya rame oleh alulalang orang-orang, selalu saja ada pedagang yang mencoba mencari keberuntungan dengan menjual baik makanan ataupun barang yang sekiranya laku untuk dijual. Dari pada bengong sambil mengawasi anak-anak yang lagi asik bermain Anda bisa menikmati nasi pecel dan minuman yang dijual disekitar arena bermain tersebut.

Sementara itu di sebelah timur Taman KB kini juga dilengkapi dengan jalur lantai refleksiologi bagi para pejalan kaki. Di jalur ini lantai dilengkapi dengan pegangan tangan untuk membantu berjalan di jalan yang berbatu. Batu-batu kecil yang ada di jalan diatur sedemikian rupa dengan pola yang menarik dan tetap mengutamakan manfaat untuk reflrksiologi bagi pejalan kaki.
Batu yang digunakan pun ada beberapa jenis ini bertujuan agar refleksiologi benar-benar bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita.
Namun kini besi pegangan itu sudah hilang patah dan jalan yang digunakan untuk pejalan kaki yang dilengkapi dengan batu-batu kecil terlihat terbengkalai tanpa perawatan, ada yang sudah pecah dan jalan ada yang tertutup oleh gerusan tanah yang ada di sekelilingnya akibat terbawa saat hujan datang.
Sangat disayangkan, padahal batu-batu refleksiologi itu banyak dimanfaatkan oleh masyarakat terutama yang sudah tua untuk menjaga kesehatan di waktu pagi maupun sore hari.

Jika ingin sekedar bersantai di Taman KB jangan hawatir, karena disini sudah tersedia bangku-bangku yang tersebar di sekitar taman sehingga memudahkan kita untuk memilih tempat untuk bersantai menikmati suasana sambil melihat lalu lalang kendaraan yang lewat.


Fasilitas lain yang terdapat di Taman KB adalah area serbaguna, biasanya digunakan untuk bermacam kegiatan seperti pentas seni dan lain sebagainya bagi masyarakat luas. Ada empat area yang ukurannya berbeda-beda. Masing- masing terletak di sisi barat, sisi utara, sisi timur dan sisi selatan taman, tiap area dilengkapi dengan tempat duduk. Area yang paling besar terletak di sisi barat taman dan area paling kecil terletak di sisi timur taman. Sedangkan area yang terletak di sisi utara dan sisi selatan ukuran sedang.

Agar tidak ketinggalan berita dan informasi tentang kejadian yang ada di nusantara maupun negara-negara lain,  masyarakat bisa membaca koran yang di pasang di mading. Meluangkan sedikit waktu untuk memperluas wawasan tak perlu mahal karena semuanya gratis.
Di bangunnya mading ini juga bertujuan untuk mengajak masyarakat gemar membaca, membuka cakrawala dunia dan mengasah otak agar tetap aktif berpikir, sehingga kita menjadi masyarakat yang kritis oleh perkembangan jaman di era yang semakin modern ini. Jangan sampai kita nantinya saat ditanya tidak tau menahu tentang apa yang ditanyakan dan sedang terjadi. Malu kan masa cuman ditanya hal yang mudah saja tidak tau, yaah seenggaknya kalau pernah baca dan pernah dengar kita bisa menganalisa sebenarnya apa yang sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini jadi tidak cuma menduga-duga dan mendengar dari orang lain yang belum tentu tahu benar.

Selain penataan area taman kini para pedagang yang berjualan di sekitar Taman KB oleh Pemkot Semarang juga sudah di tertibkan. Kini di masing-masing trotoar berderet bangunan mirip halte bus yang diperuntukkan untuk berjualan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang dulunya masih tersebar dan Taman KB ini juga merupakan pindahan PKL yang dulu berjualan di sepanjang jalan Pahlawan.




Di Taman KB ini selain digunakan untuk kumpul-kumpul sekedar bercanda juga menjadi tempat untuk berkumpul para pecinta hobby tertentu seperti skateboard, fotografi, pecinta reptil dan masih banyak lagi yang lain.

Sungguh sangat kontras bila melihat taman yang sudah tertata dengan apik dengan melihat gambar ini. Entah salah siapa...., kalaupun tempat sampah sudah penuh tak jauh dari tempat ini juga sudah disediakan tempat sampah yang memang diatur penempatannya tersebar di area taman agar memudahkan masyarakat untuk membuang sambah sehingga taman selalu terjaga kebersihannya.
Tidak hanya sampah yang berserakan, saat saya melongok ke selokan terlihat airnya mampet tidak mengalir. Semoga saja semuanya akan teratasi sehingga kota Semarang memiliki taman yang benar-benar menjadi sarana bermain dan juga bisa menjadi paru-paru kota. (L)

NB: Ada juga coretan tentang Taman KB lho, silahkan klik disini