04/09/14

Kembali Bengkak

Sudah 4 hari ini kaki kalau malam terasa nyut-nyutan. Sejak terkilir di Puncak Suroloyo dua minggu yang lalu pergelangan kakiku jadi sering terkilir dengan tiba-tiba. Luka belum juga sembuh, bengkak belum juga hilang namun sudah berkali-kali terkilir lagi di tempat yang sama (kaki kanan) ya memang sih lebih baik di kaki kanan, apa jadinya coba kalau gantian kaki kiri yang kena bisa ngesot kali jalannya, sekarang saja jalan masih agak terpincang-pincang dan kalau menaiki anak tangga masih bertumpu pada satu kaki. 


Sebenarnya luka sudah mendingan tapi hari senin kemarin sempat keseleo dan itu rasanya lumayan dibanding yang sebelum-sebelumnya (bukan terkilir yang pertama kali ya) bunyinya juga tak senyaring yang pertama dan karena itu pula lah beberapa malam ini terasa sakit. Terasa sedikit perih di bagian dalam dan nyeri di bagian betis hingga lutut, apakah mungkin ada robekan kembali di jaringan atau pembuluh darah yang belum sepenuhnya menutup.



Susah cari tukang pijit disini, ada seh tapi sudah terlalu sibuk dan sepertinya aku sudah kena black list deh olehnya :(

Ya maklumlah kalau tukang urutnya sudah terkenal, panggilan kemana-mana apalagi yang mengundang orang-orang gedongan, sadar diri lah kalau yang satu ini :) sedangkan tukang urut yang satunya di hubungi enggak bisa-bisa. Ibu yang sering melihatku jalan agak terpincang-pincang terutama saat menaiki tangga meskipun sudah aku tutup-tutupi karena memang susah untuk jalan cepat seperti biasanya, aku melihat ada khawatir dalam tatapannya namun bagaimana lagi bila mencari tunang urutpun susah.



Ketika aku bilang kalau ada teman yang mengusulkan untuk diperiksakan ke dokter sekalian di rontgen biar ga salah penanganan, ibu langsung saja membenarkan malah di suruh hari itu juga suruh berangkat, huuuft salah omong sepertinya sudah tau aku paling malas kalau berurusan dengan dokter, rumah sakit dan obat malah di iya kan.


"Ga usah pijit ya nok. Cepat sembuh, jangan sakit-sakit lagi. Sehat terus ya ell " sepenggal permohonan dari ibu. Aamiin aku sehat terus ibu.
bengkak senin (01/08)
Enggak cuma bagian yang sisi kanan yang aku tempel koyo untuk mengurangi rasa nyut-nyutannya namun sisi kirinya juga sedikit membengkak.
bengkak selasa (02/08)
Posisi masih di kantor saat itu rasa nyut-nyutan bener-bener mantep hingga menjalar sampai ke lutut. Mungkin karena terlalu banyak duduk kali ya.

bengkak kamis (04/08)
Kalau yang ini narsisnya baru saja, meskipun enggak begitu nyut-nyutan namun perih di bagian dalamnya masih terasa. Mata kaki sudah kaya bola tenis, sisi kiri juga belum kimpes dan urat juga masih kelihatan.

Untung saja teman-teman ga ada yang sadar kalau jalanku sedikit terpincang-pincang kecuali mba wid yang tadi menanyakan namun aku masih bisa berkelit enggak ada apa-apa, syukurlah huuuuft....

::
Harusnya kalau bengkak di kompres dengan air dingin atau es batu bukan malah di tempeli koyo. Kesalahan yang tak boleh di ulang

03/09/14

Daftar yang Dibuat Hati

Baru kali ini aku menceritakan list dari keinginan-keinginan yang begitu banyak pada orang lain dan orang yang ga beruntung itu adalah Citra. Feeling yang mendesak mesti di selesaikan di tahun ini, entah ada apa gerangan hatiku berkata demikian. Aku harus melakukan ini, melakukan itu, kesana kemari dari daftar yang sepertinya sudah terjadwal dengan rapinya di susun oleh hatiku demi satu alasan "ini yang terakhir".

Ketika aku bercerita berkali-kali Citra bertanya "Are u okay?? ..., enggak lagi sakit kan ? ..." Mungkin terlalu aneh bila di dengar oleh orang nornal namun aku berkata sebenarnya, aku sehat ga ada yg cidera ataupun habis kebentur tembok yang bikin otakku berputar-putar hingga berpikir demikian, semuanya murni dari hatiku.

Aku tau semua orang memiliki list dalam hidupnya yang ingin di wujudkannya, tapi selama ini ga ada list yang begitu sangat aku inginkan hanya saja ingin belajar rajut dan merangkai manik-manik untuk di ajarkan kembali ke ibu-ibu yang ada di kampungku dan itu juga perlahan terkikis oleh rasa malas tapi yang ini beda, segala keinginan yang berasal dari hati tak bisa di enyahkan bahkan serasa sesegera mungkin untuk dilaksanakan.

Terlalu banyak keinginan dengan embel-embel ini terakhir. Berkali-kali Citra mengulang pertanyaan apa sebenarnya yang hatiku katakan tapi jawabnya tetap sama, bahkan sepertinya tak lama lagi aku akan melakukan perjalanan jauh, ke sebuah tempat yang tak pernah aku bayangkan bahkan terbesit sedikitpun di pikiranku. "Apa aku mau mati, apakah ajalku sudah di depan mata ... " Entahlah siapa juga yang tau umur seseorang, kalau memang hanya sampai disini aku iklas, hanya berharap semoga ada seseorang yang mau mendengarkan cerita-cerita bapak dengan suara khasnya yang meninggi, ada yang selalu bermanja-manja dengan ibu bila di rumah dan semoga rumah masih terlihat rame dengan teriakan seperti dikala aku ada di rumah.

Bukan, aku bukan pergi ke surga ataupun ke neraka tapi ini seperti satu tempat di ujung sana, sebuah kota yang jauh dari tempatku sekarang. Aku pernah melihatnya dan beberapa kali membayangkan meskipun yang terlihat hanya sebuah rumah mungil, rumah yang penuh cinta dan syarat dengan kebahagiaan, rumah yang dipenuhi dengan senyuman dan kehangatan. Rumah yang membuatku nyaman. Itu rumah siapa, apakah rumahku..., rumahmu...., atau...???

19 agtustus 2014

Tiga Patahan, kreeeeek...

Siang, ketika sedang menikmati pemandangan di puncak suroloyo yang sudah lama aku ingin, pemandangan lumayan lah terlihat gunung slamet, gunung merapi, gunung sindoro dan gunung sumbing berdiri dengan gagahnya menembus awan. Disana kita bisa menikmati pemandangan dari 3 gardu pandang yang berbeda.

Ketika ingin beralih ke gardu pandang yang lainnya, menuruni anak tangga sambil memegang kamera sesekali mengabadikan gambar yang aku rasa bagus tapi kreeeek, aduuuh..., bukan suara ranting kering yang tak sengaja aku injak tapi kakiku terkilir ketika menuruni anak tangga. Rasanya sejuta bener deh, suaranya begitu keras dan merdu hingga kini masih terngiang di telingaku bisik cintamu loooh malah dangdutan, beneran sakitnya sampai ke ubun-ubun lha langsung pusing, terasa kesemutan dan untuk melangkah pun teramat perih mengiris hati, menghujam jantung dan menyayat kalbu hingga ku tak berdaya, halaah mulai kumat puitis kacangannya (akibat galau terlalu lama).

Balik lagi

Beneran sakit, kakiku untuk sekedar menuruni anak tangga pun rasanya nyeri dan kesemutan. Mengingat kakiku yang sakit untuk melanjutkan perjalanan ke gardu lain sepertinya tak mungkin lalu aku berhenti di persimpangan jalan antara jalan yang membawa aku naik dan jalan menuju ke puncak selanjutnya. Entah sudah berapa orang yang datang dan pergi tapi aku masih duduk disana sambil mengurut-urut pergelangan kakiku dengan minyak kayu putih yang senantiasa menemaniku kemanapun aku pergi. Lama mengurut tapi masih saja sakit, bahkan terlihat mulai sedikit bengkak, ya Tuhan bagaimana ini semoga besok sembuh. Tiga kali bunyi kreeek ketika kaki keseleo dengan bunyinya yang nyaring dan rasanya yang aduhai membuat kepala jadi sedikit pusing dan sedikit merinding.

Sepertinya ada urat yang keluar jalur, menumpuk antara satu dan lainnya ini aku lihat ketika aku urut pelan-pelan ada beberapa bagian yang terlihat sedikit terasa bergeronjal  seperti polisi tidur yang ada di tengah jalan, ngurutnya bukan pas yang sakit, boro-boro di urut di pegang saja sakit banget. Oh ya ketika aku coba goyang-goyang dengan asumsi agar urat-uratnya tidak kaku eeh malah bunyi lagi kreeeeek sakiiit... hingga saking sakitnya air matapun sampai keluar sendiri tanpa dikomando dan itu juga tak mampu mengurangi rasa sakitnya, kalau ga ingat di tempat umum sudah mewek deh dari tadi, maaaaas... Ketika situasi seperti ini yang aku panggil bukan ibu tapi dia, ga tau kenapa dalam hati teriaknya begitu. Apa mungkin karena dari awal penjelajahan hingga hari ke dua ini masih berharap dia ikut serta kali ya :(

Karena bukan tukang urut susah juga memisahkan dan mengembalikan urat-urat ke tempat semula. Sekian lama memijit lumayan lah bisa sedikit di gerakkan, dan aku pun memilih untuk tidak meneruskan ke gardu pandang selanjutnya. Cukup kan melihat pemandangan dengan latar belakang gunung dan perbukitan kali ini, mungkin disambung lain kali meskipun aku tak yakin juga ada penjelajahan selanjutnya, feelingku berkata ini penjelajahan terakhir di kota gudeg ini, walaupun masih banyak tempat yang belum aku datangi.

Ketika di BBM sama adik sepupu yang menanyakan keberadaanku yang memang dia tidak bisa ikut karena ada tes di Solo, karena adik sepupuku sudah pernah kesini ia pun hanya bilang "selamat berfoto bersama awan" jujur aku tak begitu menyukai tempat ini, sudah terlalu komersil dan ga alami lagi (menurut penilaianku pribadi). Untuk mengurangi nyeri serta bengkak, ketika sampai di parkiran aku coba membeli koyo (tanya-tanya ke warung aja siapa tau beruntung) kebetulan kali ini ada meskipun tinggal koyo cabe tak apalah siapa tau cocok. Dengan koyo inilah kaki kananku masih bisa mengontrol rem mengingat jalan berliku, berbatu dan beberapa kali nyasar.

Memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan sempat mampir ke apotek untuk membeli salep buat otot terkilir dan meredakan nyeri. Dengan terpaksa perjalanan berakhir tanpa mencari daerah jajahan baru yang dekat-dekat sekalipun karena aku merasakan kaki kananku mulai berdenyut sedikit sakit ketika di gerakkan, benar saja ketika aku lihat bengkaknya semakin gede ditambah rasa panas koyo yang sedikit menyakiti kulit kaki yang tertempel ketika terkena matahari meskipun aku sudah memakai kaos kaki. Beberapa kali selama perjalanan ke kos ku pandangi telapak kaki dan menggerak-gerakkannya namun semakin sakit dan bertambah gede aja ya sampai-sampai sepatuku pun jadi terasa sempit. Tenang-tenang sebentar lagi sampai kos hatiku coba menenangkan. Mau ke dokter tapi takut kalau malah di perban-perban trus di beri obat gede-gede dan banyak aiiiih, noooo.....

Akhirnya sampai kos juga, setelah tadi mampir sebentar untuk membeli sarapan, aiiiih jam 3 sore baru sarapan ... Baru buka pintu dan naro tas eh kaki ketekuk lagi di tempat yang sama, dan ketika berbalik untuk menggantung jaket sekali lagi ketekuk, lalu ketika di kamar mandi terulang lagi (rasanya pingin nangis sejadi-jadinya) aduuuuh sungguh muantap sakitnya ada kali hingga level 10, sakitnya sampai ke ubun-ubun. Makan tak enak di urut juga sakit sedangakan salep yang aku beli sepertinya tidak ada rasanya katanya mbak yang jaga di apotek tadi bisa meredakan nyeri juga tapi tetep aja sakit. Pengen pulaaaaang...

Bengkak semakin bertambah gede, ada kali sebesar bola tenis. Oh ya tadi di jalan pas lihat mata kaki mulai bengkak buru-buru berharap agar kaki tidak ikut bengkak seperti dulu pas jatuh dari motor yang bengkaknya hampir sampai 1 bulan lebih sudah mirip kaki gajah gedenya. Menghilangkan segalapikiran buruk, ga boleh berpikir macam-macam meskipun sempat berpikir apakah cidera ini ulah dari pikiranku ketika di pom bensin melihat satpam yang tangannya di perban (sepertinya cidera) hmmmm....bisa jadi juga begitu. Teman bilang suruh ngompres pake es batu, buru-buru beli es batu di warung dekat kos sekalian beli counterpain (salep untuk pegal-pegal) untuk mengurut-urut.

Bolang tahun lalu juga di daerah Kulon Progo aku terkilir gara-gara terpeleset ketika di Goa Kiskendo dan petualangan sekarang terkilir lagi, dua kali cidera yang memiliki dua persamaan yaitu memakai celana yang sama dan rasa sakitnya sama namun ini sedikit lebih seh sebenarnya. Dan ketika coretan ini aku tulis di pad memo pun kakiku masih di atas es batu dengan rasa sakit, nyeri dan ngilu dengan satu harapan mata kaki yang gede bisa pulih dan sakitnya hilang. Anehnya es yang dingin pun seakan tak terasa padahal di daerah sini juga permasuk daerah yang sedikit dingin.

Tadi ketika akan ke minimarket beli counterpain pas mau menyeberang karena minimarketnya berada di seberang jalan hampir saja ketabrak motor dari arah belakang yang jalannya ngebut, padahal aku udah nyalain lampu sein dan udah ambil arah tengah. Sekali lagi kakiku yang sakit mau tak mau jadi tumpuan, nah tau sendiri kan gimana rasanya. Masih mau bilang aku rapopo kalau jalan saja udah terpincang-pincang lebih tepatnya di seret. Ell ga boleh manja, ga boleh demam, ga boleh sakit, ga boleh lembek ya...

Sempat tadi mau cerita sama bapak kalau kaki sakit pas bapak sms nanyain pulang kapan tapi takut, takut dimarahi, takut bapak hawatir. Adakah yang sudi memberikan pelukan saat ini padaku.


17 agustus 2014

02/09/14

Berikan Penghormatanmu Kawan

Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita

Masih pada hafalkah dengan lagu ini?

Lagu yang melekat dengan bulan agustus. Perayaan kemerdekaan 17 agustus tahun ini jatuh pada hari minggu. Biasanya hari minggu identik dengan acara rekreasi keluarga, jalan yang sepi dari anak sekolah dan televisi yang dipenuhi dengan acara kartun kesukaan anak-anak. Kali ini beda, acara televisi di selingi siaran langsung upacara bendera, dari pagi sepanjang jalan ramai dengan anak sekolah dan juga pegawai negeri sipil (PNS) yang mangikuti upacara bendera, bahkan di lapangan atau alun-alun utama di pusat kota pun tak luput dari penutupan jalan karena digunakan upacara bendera hari kemerdekaan.

Sedikit obsesi yang dari dulu ada yaitu pada hari kemerdekaan melakukan pendakian dan pada jam 10 tepat berada di puncak, seperti ketika Pak Karno yang membacakan teks proklamasi kemerdekaan dikala itu. Meskipun bukan sebuah pendakian namun cukup lah untuk mengukir sejarah dalam hidupku di puncak Suroloyo, kalaupun pergi muncak juga aku tak yakin sanggup. Mengingat alergi dingin yang belum sepenuhnya sembuh. Sebenarnya di ajak muncak pas tanggal 17 ke Prau-Dieng tapi aku masih belum punya keberanian.
Dan di hari kemerdekaan tahun ini merayakannya di puncak Suroloyo-kolon progo Yogyakarta. Memang pemandangan yang tersaji begitu memukau, namun di sisi lain aku melihat kayu bakar dengan abu, dan yang bikin aku tertegun adalah kain berwarna merah putih yang tergeletak ada di antara tumpukan kayu dan sepertinya kain itu habis terbakar. Saking ga percayanya aku sempat bertanya "itu bendera bukan seh..." Pertanyaan itu aku lontarkan tak hanya sekali melainkan berulang-ulang sambil melihat lebih dekat apakah benar kain yang terbakar itu bendera atau bukan. Tak berani menduga-duga bendera itu tak sengaja terbakar atau memang sengaja dibakar dan kejadiannya kapan pun entah siapa juga yang tau bisa jadi semalam atau bisa juga hari-hari sebelumnya.

Sangat disayangakan, mengapa mereka tak mengingat bagaimana pendahulu kita memperjuangkan, mempertahankan bendera itu hingga berkorban nyawa dan keluarga. Bagaimana mereka merebut kemerdekaan, mengusir penjajah dari bumi pertiwi. "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya" dimana jiwa nasionalisme itu berada, sedangkan kita hidup, mencari nafkah dan tinggal di negara Indonesia di bawah naungan Pancasila namun apakah ini balasan dari sebuah pengorbanan dengan merah putih yang tergeletak di antara tumpukan kayu dengan bekas terbakar yang nampak jelas...

Hai coba tanya pada diri sendiri "apa yang sudah kita berikan kepada negara"

Apakah benar jiwa nasionalisme anak muda sekarang sudah mulai luntur, jika benar jangan salahkan bangsa lain yang mengklaim apa yang kita miliki bila sang pemilik saja tak bisa merawat dan menjaga. Dengan semangat '45 mari kita bersatu membangun negara ini agar kembali jaya dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Jangan malah mudah terprofokasi dan kemakan isu yang belum tentu benar, yang lebih parah hanya bisa tergilas mode dari negara lain.

Saatnya kita bangkit dan bersatu "Bhineka Tunggal Ika" meskipun berbeda-beda tetap satu jua, kita bersodara satu Indonesia.


Abu Tokoh Utama


Liburan kali ini punya banyak cerita, dari abu yang ikut serta dalam petualangan yang menambah keseruan tersendiri. Dan sepertinya kali ini abu lah yang menjadi tokoh utama sekaligus penyelamatku. Sepertinya penjelajahan bukan menjadi prioritas utama, ada sesuatu yang mendorongku kembali ke kota ini, aku ingin merasakan aura kuat yang hadir ketika sampai. Di kota Yogja ini kisah-kisahku bermula, banyak bertemu teman baru silih berganti datang dan pergi, cerita suka duka hingga yang terlihat konyol serta nekat pun ada, di setiap sudut kota ceritaku tertinggal.

Berangkat jam 14.00 setelah pulang kerja di hari terakhir minggu ini (jumat) bersama abu, tak ada yang tau jika aku mengajak abu ikut serta, karena selama ini ketika aku kembali ke kota gudeg menggunakan jasa travel. Kebebasan, menggeber abu menyusuri jalan-jalan yang sarat dengan truk pasir, truk gandeng yang menghabiskan lajur kendaraan serti bus-bus yang tak mau di salip malah dengan angkuhnya memberikan kepulan asap hitam yang bikin kotor.

Entah karena sudah lama ga melewati jalan yang dulu hampir tiap weekend aku lalui hingga aku lupa berbelok. Keraguan ketika berada di daerah Ungaran tepatnya di kawasan Bandungan masih masuk kabupaten Semarang juga sebenarnya, memilih jalan alternatif untuk mempersingkat waktu namun dari mulai belok di jalan menanjak tak ku temukan SPBU yang harusnya ada di sebelah kanan tapi ini ga ada, menemukan SPBU itu pun di sebelah kiri bukan kanan. Jalan semakin menanjak, sedikit curiga tapi tetap saja jalan pikiranku sudah mengatakan kalau ini salah jalan tapi karena keras kepala ya sampai lah ke pasar Bandungan. Untung saja sedikit banyak tau daerah sana (sudah beberapa kali kesana) jadi tau kemana harus membelokkan motor untuk bisa sampai ke jalan raya, kembali ke jalur yang benar. Lumayan juga ingatanku, meskipun sama sekali enggak bisa untuk menghafal nama jalan namun jalan yang sudah terlewati sedikit banyak terekam di otak.

Sore hari memang jalurnya kendaraan besar, namun begitu abu bisa dibilang gesit juga mencari celah agar bisa jalan. Sedikit salip kanan kiri, terkadang mengekor mobil ataupun bus yang ingin menyalip mobil yang ada di depan tapi tetap pakai perhitungan dan keyakinan kok ga asal serobot. Hanya bermodal papan penunjuk arah yang ada di jalan serta mengandalkan intuisi dan memori agar bisa sampai di Yogja. Dan jam 5 sore-an sampai juga di kota Yogja, iiih kota ini sudah banyak berubah, jalan layang di perempatan Terminal Jombor sudah jadi. Abu aku arahkan ke daerah stadion Maguwo, ini karena kos adik sepupuku ada di sekitaran sana, dari kejauhan melihat stadion sepak bola mengingatkan aku pada korban merapi tahun 2008. Dengan mata kepalaku sendiri melihat semuanya hingga membuat kakiku lemas susah untuk melangkah.

Karena lupa tepatnya kos adik sepupu, dulu pernah kesana namun karena takut nyasar dan enggak begitu yakin beloknya makanya aku memilih untuk memberi kabar agar di jemput. Nah benar saja, untung tidak nekat mencari-cari alamat karena memang aku gak mencatat ataupun menanyakan alamat kos yang aku tuju :D kebiasaan cewek ketika kumpul bertukar cerita sampai menjelang malam, mungkin kalau pacarnya ga datang obrolan akan berlangsung sampai tengah malam kali ya.
Penjelajahan kali ini :
~ Waduk Sarmo
~ Kali biru
~ Puncak Suroloyo
~ Menikmati jadi anak kos
~ Menikmati kehidupan tempo dulu

Benar kan hanya beberapa tempat saja yang aku sambangi kali ini ga seperti biasanya. Tapi kali ini aku benar-benar nyaman, tentram dan seperti hidup. Enggak ada HP ataupun alat elektronik lain yang menghubungkan dengan dunia luar, hanya sesekali saja pasang status dan menjawab obrolan teman pas ada sinyal dan pas ingat kalau bawa HP di tas.

Cuti 3 hari benar-benar aku nikmati, dan ketika petualang balik ke Semarang dari rumah Bu Dhe di Klaten abu kembali memainkan kepiawaiannya merajai jalanan. Bermodal jalan pulang melewati kota Boyolali selebihnya mengandalkan papan penunjuk arah dan kali ini agak bingung tapi dikit karena penunjuk arahnya sedikit. Tenang tidak kurang akal, asal jalan mengikuti garis putih seperti yang biasa bapak lakukan ketika mudik menggunakan motor (hahaha ... ) dan ketika menemukan mobil dengan plat nomor H alangkah senangnya itu tandanya aku ga nyasar.

Sedikit sebal juga ketika di perjalanan kepala terasa gatal ga bisa menggaruk (bukan karena kutuan ya) tapi lupa kalau pakai helm ya sudah bisanya hanya mengelus-elus helm yang pas di daerah gatal meskipun ga membuat gatalnya berkurang juga seh. Perjalanan pulang dari desa-rumah melewati begitu banyak lampu merah namun hanya terperangkap lampu merah 2 kali dan sedikit macet di daerah Banaran-Ungaran yang sedang ada perbaikan jalan. Suka... suka... suka... dengan perjalanan kali ini. Berpetualang dengan abu, sedikit ngebut (ampun bu dhe enggak menepati janji) merajai jalanan dan teriakan-teriakan senang di balik helm ketika bisa menyalip dan melihat hamparan sawah di samping kanan kiri.

Ingin melakukan perjalanan lagi dengan abu. Eeeh iya di jalan juga sempat kepikiran begitu tapi juga ingin mengendarai satria ataupun tiger hmmmm..., sepertinya asik juga. Menjelajah dari kota ke kota, apa lagi denganmu, aaah mulai lagi :(
Dia ga dengar dan sepertinya ga baca coretanmu tau ga, IYA tauuuuuu..., hanya sekedar berandai-andai dikit.

Masalah petualangan aku masih punya 1 janji dengan Che untuk melakukan bolang bareng 3x sudah gagal, mungkin lain kali jika Tuhan memberi ijin.