05/03/17

SPBU yang pembelinya melayani sendiri

Kemaren saat berangkat main ke Sampokong, baru jalan beberapa meter dari rumah abu sudah kedip-kedip tanda kehausan. "Mudah-mudahan bisa sampai, nanti pulangnya saja mampir pom bensin". Meskipun ada rasa ketar-ketis akibat dulu pagi-pagi saat berangkat kerja di tengah jalan abu mogok gegara kehabisan bensin udah gitu belum ada penjual bensin eceran yag buka, sampai nunggu. Tapi kali ini lain cerita, keyakinan kalau abu masih sanggup jalan hingga ke tujuan bahkan sampai rumah pun berani berspekulasi kan baru kedip-kedip.

Bila punya tujuan pergi ke suatu tempat hendaklah langsung menuju ke tempat yang dimaksud, jangan malah mampir ke tempat lain terlebih dahulu baru ke tujuan awal. Jangan jadikan tujuan awal sebagai persinggahan.

Karena tujuan awal ke Sampokong maka sebisa mungkin aku akan langsung menuju kesana tanpa mamir kemana-mana dulu. Nah setelah selesai urusan, pulangnya baru mampir SPBU. Sebenarnya agak sedikit bingung mau isi bensin di dekat Sampokong  atau di pusah kota, dimana yang di dekat Sampokong searah jalan pulang walaupun harus putar balik terlebih dahulu tapi ya agak sangsi dengan SPBU-nya, bagus ataukah enggak (maksudnya nakal) namun kalau ngisi di pusat kota yang sudah rekomendasi bagus (kata orang-orang) sudah beda arah. Daripada nanti mogok di jalan dan muter-muter jauh, akhirnya mengisi bensin di SPBU dekat Sampokong saja yang searah jalan pulang, lagian juga ga begitu antri (pengamatan saat lewat).

Antrian motor tidak panjang, baru kali ini ngisi bensin di SPBU sini. Celingukan mencari tulisan pertamax yang diperuntukan untuk sepeda motor. Ada 3 tempat pengisian, 2 baris pertama untuk mobil dan 1 untuk motor di bagian belakang. Dapat antrian ke 5, tapi kenapa yang ada petugasnya di tangki Dex sementara di sebelahnya tangki pertamax tidak ada yang jaga. "Eh benar ga ya..." Celingukan mencari tulisan khusus sepeda motor seperti yang sering ada di beberapa SPBU tapi ga ketemu, kebetulan ada mas-mas yang pakai baju hitam (seragam) jalan melewatiku. Mau tanya agak ragu, ia karyawan atau orang yang mau ke toilet tapi setelah melihat logo di bajunya baru deh yakin.
"Mas mau nanya, kalau pertamax disebelah mana ya...?!"
"Sebelah sini atau sana bisa mba, sama saja" Sambil menunjuk baris kanan dan kiri diantara box yang ada depan.
"Makasih" Si mas-nya itu pun pergi dan ternyata masuk ke kantoran.

Tapi kan ga ada penjaganya, pikirku saat itu lalu aku melihat orang di depanku saat mengisi pada pegang sendiri pompa bensinnya. Aku masih berpikir, mungkin si mas petugasnya lagi sibuk dan takut kalau beleber makanya dipegang sendiri selang bensinnya. Lalu aku lihat lagi seorang pria setelah membayar petugasnya menunjukkan ke box bensin pertamax di depannya lalu pria itu pun menuntun motornya ke box yang dimaksud dan mengisi sendiri.

"kok ambil sendiri to..." Masih bingung, tanpa sengaja mata menangkap tulisan yang ada di pilar dimana menjelaskan tata cara pembelian yaitu dengan membayar kepada petugas lalu mengisi sendiri bensin yang sudah di beli yang diarahkan petugas tersebut.
"Pelan-pelan ya mba ngisinya" Kata si petugas sambil mengarahkan aku untuk maju mengantri di depan saat membayar, pria yang ada di depanku juga mengisi bensin pertamax soalnya.

Nah sekarang giliranku, Buka tangki motor, ambil selang masukkan ke tangki dan tarik tuasnya. Horeee aku bisa, yaaa sebenarnya cara pengisian sudah di tulis di kertas yang di tempelin di tiang tapi aku tadi kagak selesai bacanya, hanya mengingat cara petugas SPBU saat mengisi bensin. Beberapa kali aku lihat nominal yang ada di meteran dan selangnya takut kalau kelebihan dari yang dibayar, bensin beleber, juga selangnya meleset. Baru tau kenapa saat dipertengahan isi bensin selangnya bunyi, itu menandakan jika selangnya sudah menyentuh bensin yang ada di tangki motor sehingga harus sedikit ditarik ke atas agar bensin yang di dalam tidak 'ciprat' keluar (ini kesimpulan dari pengamatanku ya). Amaaaan..., tapi sedikit gerogi juga, soalnya sudah ada yang antri terlebih si mas yang ada di belakangku liatin terus, mungkin mikir ini orang katro banget yaaah ngisinya lama.

Selesai sudah, huuuuft.... tapi saat mau meletakkan selang ke tempatnya sempat salah, baru tau kalau di bagian pegangan (tuas) ada lubang dan di box tempat selang ada cantolan yang gunanya sebagai cantolan selang. Bagian depannya itu di masukkan ke kotak besi yang seperti pintu agat tidak jatuh. Lha awalnya tuas bisa dicantelin tapi bagian depan kagak tak masukin kotak, ya miring mau jatuh trus aku amïbil lagi dan disanalah baru aku tau jika di bagian pegangan ada lubang, di box tempat selang ada cantolan dan tempat selang depan itu bisa goyang otomatis kaya pintu, lalu aku masukin depannya baru deh bagian tuas di pas-in di cantolannya. Hehehehe...

Baru kali ini ngisi bensin tapi melayani sendiri. Seperti makan di pujasera, ngambil sesukanya baru bayar tapi kalau ini bayar dulu baru ngisi, soalnya si petugas yang masukin nominal atau jumlah yang dibeli sehingga pembeli hanya perlu mengoperasikan selangnya saja karena sudah otomatis tersetting sesuai urutan saat membayar di awal.

Aaaah..., kelihatan katro banget ya aku. Hihihihi...., ini pengalaman pertama, setidaknya pernah merasakan ngisi bensin sendiri seperti film bule yang ada di tv yang ada adegan ngisi bensin di pom bensin gitu, kan sebelumnya kalau isi bensin selalu saja dilayani oleh petugas. Lain kali coba lagi aaaaaah....., seperti dapat mainan baru, nanananana..... (05/03/17)

17/01/16

Selfi Juga Harus Cerdas Yaa...

Melihat berita di salah satu stasion televisi nasional yang menayangkan liputan tentang suasana setelah aksi bom bunuh diri yang terjadi beberapa hari yang lalu. Ya di lokasi dipadati oleh banyak orang terlebih sekarnag adalah hari minggu. Namun seperti peristiwa dan tragedi yang lain, pembawa acara itu berkali-kali menegaskan jika dari pagi lokasi terjadinya bom bunuh diri sudah dipadati pengunjung namun sebagian dari mereka banyak yang selfi di lokasi tersebut.

Aaah mendengarnya membuat telinga gatal, baru beberapa hari yang lalu ada peristiwa berdarah lalu mereka datang bukan untuk memberikan doa kepada korban yang meninggal namun malah datang untuk berselfi. Tragis... benar-benar parah. Ternyata selfi sudah seperti penyakit yang ga tau tempat, situasi dan kondisi. Selfi boleh, sah-sah saja bahkan dengan selfi salah satu cara untuk mengabadikan momen tertentu tapi ya harus liat-liat sikon lah jangan terlampau narsir, jangan berlebihan dan jangan sampai membahayakan diri sendiri dan merugikan orang lain.

Oh ya, sempat mendapat cerita dari adik sepupuku waktu itu pas lagi ada acara kantor di kotaku ia menyempatkan diri untuk jalan-jalan yang di antar adik lelakiku, dan mereka berjalan di tepi pantai (marina) ya memang disana terkenal tempat untuk orang pacaran. Di tengah perjalanan mereka harus menghentikan perjalanan sejenak karena ada sepasang kekasih yang baru berselfi di tengah jalan. Hmmmm... jaman sekarang ya gitu, pejalan lain yang harus mengalah untuk memberi tempat kepada mereka yang akan selfi bukan mereka yang memberikan kesempatan terlebih dulu agar yang lain lewat tapi yang lewat yang harus nunggu (tepok jidat) jaman apa to ini.....

Bukan hanya itu sekarang maraknya jejaring sosial yang menginfokan apa pun kegiatan kita (yang hobby update) terlebih yang suka bepergian, tolong ya jangan hanya datang ke tempat wisata untuk selfi lalu upload biar banyak komen membanjiri tapi cobalah untuk mengenal ya seenggaknya berikan rasa penasaran untuk tau sejarah atau menikmati tempat yang di kunjungi biar ada geregetnya jangan hanya datang selfi trus pergi. Ingat juga untuk menjaga kebersihan ataupun bentuk, jangan nyampah. Ga perlu pembuktian dari orang lain kan jika kalian pernah datang kesana dengan meninggalkan jejak berupa coretan, jika anda ingin eksis dan di kenang bukan meninggalkan coretan di tempat umum melainkan tinggalkan coretan di blog pribadi anda karena menulis jauh lebih berharga dan terhormat ketimbang membuat sampah di fasilitas umum. (17/01/16)



★Ell

08/08/15

Perkenalan

Bertemu dengan orang baru, bicara basa basi untuk mencari ritme pembicaraan yang pas. Ketika sudah menemukan nada yang cocok pembicaraan pun semakin mengasyikkan namun ketika tidak menemukan ritme yang sesuai maka akan terhentilah semuanya sampai disana.

Saling mengenal kepribadian satu sama lain, membuka diri tentang apa yang disuka ataupun yang tidak. Perlahan mengendorkan simpul yang terikat mati, namun pembicaraan yang itu ituu saja terlihat monoton dan membosankan. Mungkin ini hanya terjadi padaku, dan jika hal tersebut mulai terjadi maka simpul yang tadinya mulai kendur pun kembali terikat kuat.

Sangat tak mudah menyelami hati orang lain namun bagi orang sepertiku yang lebih individual dan selalu penasaran dengan hal yang menggelitik pikiran dan lebih suka berfikir tak begitu menyukai hal yang teramat simpel karena itu membuat otakku tak berpikir, teramat sangat membosankan. Aku lebih suka diskusi, membahas sesuatu yang mengarah ke perbedaan untuk mencari titik temu dari kesimpulan perbincangan yang sudh terjadi.

Aku orang yang berpikir beberapa langkah di depan dengan mempertimbangkan plus minusnya. Karena otakku sepertinya dirancang begitu.

07/08/15

awanku berubah

Melihat kapas putih di langit biru kenapa sekarang berbeda ya....????

Jika dulu awan putih terlihat indah dan membentuk berbagai macam imajinasi lucu seperti kepala mickey, berbagai makanan, atau bentuk binatang hingga tak pernah bosan mendongak ke atas untuk menikmati dan mengira-ngira bentuk apa yang dibentuk  awan sebelum tertiup angin. Bahkan tak jarang di manapun tempat mencari gumpalan putih yang membentuk kepala mickey di langit.

Tapi sekarang berbeda melihat awan ga lagi terlihat lucu, yang membentuk seribu imajinasi berbeda dalam pikiran setiap orang. Sekarang melihat awan gambar yang muncul seperti penampakan-penampakan makluk yang menyeramkan seperti kepala naga, kepala raksasa bertaring, perpaduan dua binatang, makanya sekarang jarang menikmati gumpalan awan yang berhembus beriringan mengikuti arah angin, jika melihatpun tak menghabiskan waktu lama seperti biasanya. (07/07)

Cemilan oh Cemilan


Satu kebiasaan buruk, menimbun cemilan. Entah karena aku doyan ngemil atau karena kebiasaan dari kecil yang selalu di sediakan cemilan, tapi mungkin juga suka ngemil karena terbiasa dari kecil. Ya dulu namanya juga anak kecil setiap bangun tidur yang dicari ibunya sementara namanya ibu pagi adalah jam sibuk untuk menyiapkan sarapan jika di ributi kapan makanan bisa tersaji di meja makan sementara bapak jam 07.00 teng sudah berangkat. Bayangkan bagaimana ribetnya ditambah anak kecil ga cuma satu. Ada hubungannya ga seh... ya sebenarnya cemilan ada untuk mensiasati agar anak-anaknya diam dan agar mau doyan makan saja seh awalnya tapi karena sudah menjadi kebiasaan makanya sampai sekarang selalu ada cemilan di rumah meskipun seringnya roti kering.

Namun sekarang sudah banyak warung jadi bisa menimbun sendiri makanan yang disuka. Sambil nonton tv atau mendengarkan mp3 tau corat coret bahkan bbm an tak henti mengunyah. Kebiasaan buruk yang dipeliha namun menyenangkan. Cemilan rasa strawberry dan keju andalan. Hehehehe.... (05/07)