11/10/13

Pantai Pok Tunggal "Menikmati Pantai di Bukit Panjung"


Setelah menikmati pantai Jungwok kita lanjutkan berburu pantai yang masih alami. Kali ini menuju sasaran utama dalam list penjelajahan pantai yaitu pantai Pok Tunggal. Pantai yang baru setahun belakangan ini di buka untuk umum memiliki ciri khas dengan adanya pohon Duras, sebuah pohon besar yang bisa dibilang sudah tua namun memiliki daun rimbun dengan banyak cabang. Rasa penasaran dengan pantai ini berawal dari googling mencari deretan pantai di kota Yogyakarta yang belum aku datangi. Dari penelusuran dan banyaknya up load foto yang ada di media jejaring sosial timbulah rasa penasaran dengan suasana pantai pok tunggal. Sepertinya unik juga, pantai yang masih alami dan sepi ada sebuah pohon besar tumbuh tanpa ada tanaman lain di sekitarnya. Kini rasa penasaranpun terobati sudah setelah menginjakkan kaki di pantai pok tunggal ini.

Pantai pok Tunggal terletak diantara pantai Sundak dengan pantai Siung, tepatnya berada di desa Tepus kecamatan Tepus Gunungkidul. Penunjuk arah hanya papan kecil yang bertuliskan "Pantai Pok Tunggal". 
Rute menuju pantai Pok Tunggal dari kota Yogyakarta :
Yogyakarta - Piyungan Patuk - Sambipitu - Arah Hutan Bunder - Gading - Logandeng - Siyono - Bundaran Tugu BPD - Jl. Kyai Legi - Jalan lingkar Selatan - Jl. KRT Djojodiningrat - Jalan Girisubo - Wonosari - Jalan Saptosari Tepus - Pok Tunggal
atau
Yogyakarta - Imogiri - Panggang - Jalan Saptosari Tepus - Ikuti arah ke pantai Baron - Pertigaan Jalan sebelah Pantai Baron belok kiri menuju pantai Indrayanti - Pertigaan di kawasan Pantai Indrayanti ke kiri ikuti jalan aspal - Pos Retribusi - beberapa meter sebelah kanan jalan ada papan penunjjuk arah "Pantai Pok Tunggal" - ikuti jalan kecil ke lokasi pantai Pok Tunggal.
Namun untuk bisa menikmati pantai ini tidaklah mudah, membutuhkan perjuangan yang sangat keras dan menguras tenaga (dari pagi perut hanya terisi semangkuk mie rebus dan jajan bawaan) karena pantainya berada agak kedalam. Mesti jalan sebagian sudah dibangun namun sudah mulai rusak bahkan campuran kerikil yang mulai lepas-lepas menjadi tantangan tersendiri untuk kesigapan pengendara, sedangkan Jalan yang mendominasi berupa tanah berbatu yang bergelombang dengan sedikit tanjakan, turunan dan beberapa tikungan agak menyulitkan untuk melaju kendaraan mesti benar-benar kudu pelan-pelan dan ahli bila tak mau kendaraan sampai rumah langsung turun mesin. Untung saja kesana pas musim kemarau, tak terbayang jika kesana sehabis hujan mungkin aku akan menyerah tanpa syarat dan memilih langsung pilang saja deh ketimbang mesti membayangkan medannya.

Jari-jari pegal bukan kepalang menahan rem motor (bagiku seenak-enaknya motor metic tetep enak motor bebek apalagi si abu tak ada duanya deh ) tapi masih bisa kutahan. Setelah membayar tiket masuk ke area pantai aku kira perjalanan sudah berakhir ternyata masih beberapa meter lagi untuk sampai di parkiran. Aduh lumayan juga ternyata masuknya menuju pantai pok tunggal, benar-benar tak terbayang deh  biasanya pantai-pantai yang aku datangi walaupun berjalan namun tak ada yang sejauh ini, paling hanya beberapa meter lha ini berkilo-kilo. Tidak seperti biasanya bila sampai di tempat parkir mata langsung bisa melihat laut namun di pantai pok tunggal yang terlihat pertama kali sebuah pohon duras yang besar, birunya air laut tertutup oleh pohon dan deretan payung warna warni.

Walau masih terbilang baru namun sudah memiliki fasilitas yang cukup lengkap, dengan lahan parkir yang sudah di petak-petak kepemilikan, di sepanjang pantai berjajar pedagang penjual makanan dan sofenir, bahkan untuk pengunjung yang ingin hanya sekedar santai menikmati keindahan pantai tak perlu repot-repot karena disepanjang pantai sudah berdiri payung-payung warna-warni yang bisa Anda sewa lengkap dengan tikar sebagai alasnya, jadi Anda tinggal memilih saja lokasi yang disuka. Cuaca yang sangat terik, super hot mungkin karena kita datang kesini pas tengah hari di musim kemaraukali ya. Celingak-celinguk mencari tempat teduh (pengenya berada di bawah pohon duras tapi disana sudah penuh, sedangkan deretan gazebo yang ada di depan warung pastinya punya pemilik warung kalo mau duduk ya mesti beli pesen makanan dulu. Malas untuk menyewa payung, masa ya sampai sini hanya diam memandangi air laut saja tanpa menjelajah sekitar pantai, tapi panas....

Kali ini tampil centil dikit ah, membeli topi untuk menghalau panas agar kepala tidak pusing terkena matahari. Tiga cewek memiliki selera berbeda-beda, aku membeli topi bulat, dik atrin beli topi koboi dan Nhana memilih topi setengah lingkaran.

Topi sudah bertengger di kepala saatnya menjelajah. Pantai Pok Tunggal di kanan kirinya ada sebuah tebing yang dilengkapi dengan gazebo yang beratap jerami. Baik bukit sebelah kanan ataupun kiri memiliki view yang berbeda, namun sepertinya view-nya bagus bukit sebelah kiri dibanding yang sebelah kanan ditambah lagi ada tantangan tersendiri untuk sampai di atas. Mengapa aku bilang begitu....??! Selain bukit sebelah kiri yang oleh masyarakat sekitar di sebut bukit Panjung memiliki tebing yang lebih tinggi dan untuk sampai ke puncak mesti menyusuri anak tangga yang baru di bangun seadanya dan juga menyusuri tepian diding tebing yang dibuat jalan dari bambu sebagai pijakan dan sebagai penopang. Aduh, matahari tepat di ubun-ubun mesti menyusuri anak tangga yang lumayan banyak, untung saja keberanianku mengalahkan phobia ketinggian sehingga aku berani menyusuri jalan di tepian tebing.

Untuk memperbaiki fasilitas, di ujung perjalanan terdapat sekelompok bapak-bapak yang bertugas menarik sumbangan sukarela kepada pengunjung yang ingin melihat keindahan pantai Pok Tunggal dari atas bukit, sebelum naik ke atas sudah dipasang pengumuman di sebuah papan yang bertuliskan "Sumbangan suka rela untuk perbaikan jembatan". Di atas bukit tempatnya rapi dan bersih, berdiri gazebo serta lincak (tempat duduk yang terbuat dari bambu) yang tersebar di beberapa sudut dan juga tak ketinggalan pohon pandan duri yang menjadi endemik tanaman pantai disulap menjadi tempat berteduh yang asik. Di pojok ada sebuah warung yang menjual minuman ringan, es kelapa muda dan mie instan jadi tak perlu hawatir dan turun ke bawah bila minuman Anda habis saat perjalanan menuju ke puncak.



Dari atas terlihat segalanya tampak lebih indah, dan juga tak sepanas di tepian pantai. Angin yang semilir membuat ngantuk, ditambah lagi suasa tenang hanya terdengar deburan ombak seakan mendendangkan lagu nina bobok, sangat cocok untuk sejenak memejamkan mata menghilangkan lelah.  Tak bosan-bosannya memandang lautan biru bagai karpet luas membentang dengan ombak yang tak pernah berhenti berkejar-kejaran saling mendahului untuk sampai ke tepi menyapa pasir putih. Bagi yang suka bernarsis ria silahkan berpose dengan baground laut, bukit atau gazebo seheboh mungkin, keluarkan segala gaya andalan tak perlu sungkan.

 Selain itu Anda juga bisa bersantai di Gazebo sambil menikmati es kelapa muda, segaaaar..... Panas-panas begini minum es kelapa muda sambil memandangi laut dan angin yang berhembus semilir, di jamin betah deh berlama-lama di tempat ini. Apalagi rame-rame semakin heboh saja dan Bagi yang pergi sama pasangan bisa bersantai berdua memilih tempat yang agak jauh agar tak terganggu dengan riuhnya pengunjung yang lain. Mendapatkan tempat yang masih alami di pantai saranya gimana gitu.... Kepingin menancapkan sebatang papan dengan tulisan "Milik Pribadi" hahahaha.... (aduh sungguh maruk ya tiap datang ke pantai yang di sukai langsung saja memberi label "Hak Milik" ) Menghayal dikit kan boleh, mumpung pantainya masih sepi tidak banyak pengunjung, kalau pantai-pantai yang sudah penuh sesak pengunjung ngapain juga di datangi dan di "HM" malah gak bisa berekspresi dan bersantai karena rame dan sudah terkontaminasi dengan banyaknya pendatang. Inilah yang dinamakan petualangan yang sesungguhnya, mencari tempat yang tidak biasa dan masih jarang di datangi orang, lalu menulis suka dukanya di blog biar kesannya bisa keingat ampe anak cucu. Bukannya tulisan itu abadi....



Untuk keamanan pengunjung yang ada di atas bukit Panjung, oleh pengelola pinggiran tebing sudah diberi pagar pembatas yang terbuat dari ban-ban bekas. Walau sederhana ini malah terlihat unik, menambah cantik pantai  yang memang sudah cantik. Tapi ingat ya jangan terlalu ke pinggir karena penyangganya hanya terbuat dari batang-batang pohon yang sepertinya tak bisa menahan beban berat. Di sebelah kiri aku melihat seperti jalan kecil yang menuju ke bawah, mungkin saja teman-teman ada yang ingin mencoba ke bawah untuk mendapatkan suasana pantai dengan cara yang beda lagi. 


Karena hari sudah beranjak sore dan masih ada banyak pantai yang mesti di sambangi maka perjumpaan dengan pantai Pok Tunggal sampai di sini saja dulu bila nanti ada kesempatan ke sana lagi akan ada cerita selanjutnya tentunya dengan nuansa yang sudah berbeda lagi. Dan kita lihat perubahan apa saja yang ada di pantai ini, harapanku cuma satu saat berkunjung masih menemukan sebuah pantai yang alami dan bersih tak banyak sampah.

Saat perjalannan pulang, mungkin juga karena hari sudah beranjak sore ada banyak pengunjung yang sedang bermain air laut berame-rame. Walau ombaknya cukup besar namun pantai ini sepertinya cukup aman untuk bercengkrama dengan ombak, meskipun begitu tetap waspada ya dengan ombak yang datang sewaktu-waktu. Melewati Pohon Duras di bawah masih rame pengunjung yang sedang berteduh sambil bercengkrama sedangkan di sisi atas terlihat seorang cowok yang sedang memainkan gitarnya. Apapun kegiatannya yang jelas pantai Pok Tunggal memberika keceriaan dan kesan di masing-masing pengunjung yang datang. (L)

0 komentar:

Posting Komentar