Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri putra. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri putra. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

23/08/13

Belajar dari Si kecil

Sejak ayahnya meninggal Putra tidak mau makan, dipaksa seperti apa pun selalu saja bilang nanti dan enggak mau. Memang Putra masih kecil (6 tahun) namun pemikirannya sudah melebihi usianya sendiri, dia tidak menangis hanya saja memendam segalanya dalam hati. Dia tau  jika ayahnya sudah meninggal namun yang ada dalam pikirannya sebuah ketakutan, nanti mau bagaimana..., aku gimana...., blablabla.... walau tak sepenuhnya paham namun aku mengerti kehawatirannya. Dia seorang anak yang pintar berpikirnya bukan untuk hari ini saja namun juga hari esok dan semuanya akan dia pikirkan hingga hal tersulit dan belum tentu terjadi sekalipun namun dia juga punya rasa trauma dan rasa takut yang tinggi. Dengan kejadian ini seakan ada perang batin yang bergejolak dalam dirinya, dia takut kedepannya bagaimana namun dia juga harus menjalani lalu bagaimana...., inilah yang membuat putra enggan makan karena segala masalah yang ada membuatnya kenyang.

Tumben-tumbenan hingga siang putra belum mandi padahal hari-hari biasanya dia paling rajin mandi kadang belum waktunya mandi saja sudah ribut ingin mandi, ternyata memang putra tidak mau dimandikan ibu ataupun neneknya yang sampai saat ini masih menemani ibunya hingga 40 hari nanti. Saat ditanya kenapa belum mandi dengan polosnya putra menjawab " gak mau, di kamar mandi ada bapak...." yaaah perlu di maklumi karena putra memang belum akil balik kemungkinan masih bisa melihat sosok ayahnya disana. Bahkan putra sendiri juga bilang kalau sering melihat ayahnya di rumah sedang duduk ataupun seliweran. Menurut orang Jawa seseorang yang meninggal selama 7 hari arwahnya masih berada di rumah, 40 hari berada di teras dan baru 100 hari bersiap-siap menuju ke langit namun masih sering mendatangi rumahnya. Dan anehnya pemikiran jiga arwah ayahnya masih di rumah pun putra juga tau karena sudah kasih tau neneknya.

Putra  : "li tadi pas di kamar aku merasakan sepertinya ada bayangan yang mirip ayah mondar mandir, trus pas buka lemari es aku juga lihat ayah sedang duduk di kursi..."
Aku   : "iya bapak masih di rumah sampai 7 hari nanti kalau sudah 40 hari bapak ada di luar rumah baru nanti ayah pergi ke langit..."
Putra  : "sudah tau...,   nanti sebelum ke langit ayah di depan pintu dulu".
Aku   : "iya di depan pintu buat pamitan. makanya Putra sering-sering doa in ayah ya biar ayah senang di surga"

Satu hari setelah ayahnya Putra di kebumikan tepatnya (16/08/2013) kira-kira jam 13.00 bapak tiba-tiba pulang dan belum lepas jaket sudah menanyakan Putra
Bapak  : "Putra mana benk "
Aku      : "di rumahnya, dari tadi pagi belum kesini lagi".
Bapak   : "panggil suruh kesini, sana panggil sama ibu"
Aku      : " lha ada apa to...."
Bapak  : "ya pengen lihat putra saja. biarin saja ada mobil datang perasaanku enggak tenang pengen pulang, enggak bisa ditunda harus segera pulang"
Lalu bergegas aku bilang sama ibu agar dipanggilkan putra. Aku gak ikut sambil menyaksikan siaran televisi, melihat bapak ke kamar yang gelap karena lampu tidak dinyalakan dan duduk di pinggir kasur. Samar-samar aku mendengar seperti isakan tangis, tapi entah benar atau cuma pendengaranku saja yang salah, karena penasaran aku kecilkan volume televisi dan benar aku seperti mendengar ada isakan tangis. Apakah bapak menangis.....??!! aku tidak yakin tapi juga tidak berani mendekat dan melihatpun sepertinya tidak mungkin karena gelap.
Ibu yang memanggil putra juga lama banget ya, lalu aku menyusul ibu dan ternyata ibu enggak langsung membawa putra malah berbincang-bincang sama ibunya dulu, huuuuft maklumlah ibu-ibu.
Aku :" Ta dicari pak dhe (ayahku) tu..."
Putra :"dicari kenapa.....?!"
Ibu    :"gak tau mau diajak pergi kemana..."
Sambil membawa putra ke rumah dan baru masuk rumah bapak keluar dari kamar sambil matanya basah oleh air mata yang langsung mendekap Putra dan menciuminya. Mungkin Putra juga bingung tapi ibu bilang "enggak apa-apa pak dhe cuma kangen sama putra, enggak apa-apa...." masih sambil terisak-isak bapak membawa putra ke kamar entah bapak ngomong apa sama Putra karena dari luar terdengar tidak begitu jelas apalagi beradu dengan isakan tangis. Tak lama mereka berdua keluar dan bapak memberikan mainan yang beliau beli pulang kerja tadi. Sungguh mengharukan sampai-sampai ikut terharu melihat kejadian ini dan air matakupun mengalir tanpa dikomando.

Bapak membelikan mainan hewan-hewan, buku 1 pax, dan juga pensil lucu.entah mengapa aku melihatnya Putra tidak begitu antusias seperti sebelum-sebelumnya bila dibelikan sesuatu, ini hanya membuka dan menata binatang-binatang itu lalu tak lama ayak pergi mau servis motor. Putra hari itu sungguh susah bicara hanya diam walau ibu dan aku sudah mengajaknya ngobrol-ngobrol. Bahkan saat aku ajak ngantar motor lain yang mau di servis bapak di jalan sengaja aku ajak ngobrol juga nihil hanya diam tanpa sahutan sedikitpun. Sore hari selepas mandi Putra baru mau maem walau cuma mie cup, untuk sementara boleh lah makan mie cup nanti kalau sudah agak tenangan baru pola makan diatur lagi. Lumayanlah walau cuma mie cup ada yang masuk karena susu juga ogah-ogahan, untuk menghibur aku ajak main binatang-binatang yang baru dibelikan bapak aku ngoceh cerita walau alakadarnya lumayanlah putra betah mainan dan lama-lama kepancing juga dan mau ikutan nimbrung ceritaku. Ternyata ceritaku masih manjur juga ya, tidak sia-sia aku sering dongengin putra saat malam menjelang tidur putra pun suka dengan ceritaku.

Hari itu bertepatan dengan malam 17 agustus sebuah tradisi di kampung-kampung mengadakan tirakatan. jam 9 malam putra sudah tidur karena tidak tidur siang, aku tiduran di sampingnya sambil nonton televisi namun aku melihat putra masih sering kaget-kaget, sedih lihatnya. Aku cerita sama adeku yang cewek tentang kejadian hari ini karena memang aku seharian di rumah lagi cuti kerja, adeku bilang ya kalau bapak nanya masalah putra bilang saja yang bagus-bagus biar bapak tidak banyak pikiran, boleh cerita tapi dipilah-pilah jangan semuanya di ceritakan ke bapak. Dan masalah putra sebisa mungkin di hibur memberikan waktu lebih lama buat dia, mungkin itu hal yang tepat dan telah kita semua sepakati.

Ketika bapak pulang putra dan adeku sudah pada tidur. Bapak bertanya apa putra sudah maem belum, karena dari pagi dia tidak mau maem. Inilah yang ternyata membuat bapak pulang lebih awal katanya sejak di kerjaan perasaannya sudah tidak karuan dan menyuruhnya pulang tidak dapat di cegah bapak tidak dapat menjabarkan kenapa dan ada apa. Memang setiap ada kejadian atau ada sesuatu dengan keluarganya bapak selalu merasakan mungkjin itu kali ya yang dinamakan firasat, sampai-sampai ada mobil datang pun di suruh kembali nanti hari senin, bapak bilang saat orang tuaku meninggal aku masih bisa nanti-nanti tapi ini enggak bisa harus segera pulang sampai di kerjaan juga "ngregel" (kesedihan yang mendalam) terpikirkan putra terus. Ternyata putra tidak makan dari tadi pagi, katanya saat putra dimarahi ibunya pun bapak tau dan merasakan. Walau bukan anak sendiri namun bapak sudah menganggap putra seperti anaknya sendiri. Bapak juga bercerita tentang andil almarhum untuk kemajuan kampung dan tentang kelanjutan join antara bapak dengan pak Daman itu kini sudah menemukan solusi (tak perlu aku jelaskan ya biar tangan kanan saja yang tau dan menjadi berkah buat semua. Aamiin ya robbal allamin ya Allah)

Dan tugas kita masih berlanjut hingga Putra bisa tersenyum seperti dulu dan tidak ada kehawatiran dalam dirinya lagi. Kalau bisa sejak dini harus mulai diajarkan kemandirian dan keberanian, diajarkan cara mengungkapkan perasaan, membunuh ketakutan dan harus bagaimana bersikap yang sebenarnya. Menjadikan anak yang mandiri, bertanggung jawab dan mengabarkan bahwa dia tidak sendiri masih banyak orang-orang di sekelilingnya yang menyayanginya, selalu ada tangan penuh cinta meraihmu dan dekapan hangat untukmu sayang, kami semua menyayangimu. Perlu waktu dan harus dimulai dari sekarang dan bertahap.

Dari kejadian ini kita semua dapat belajar bahwa usia manusia tak ada yang tau, sebagai anak sudah menjadi kewajiban untuk selalu memanjatkan doa untuk orang tua kita agar selalus ehat dan diberi umur panjang supaya bisa menyaksikan cucu dan cicitnya tumbuh dewasa. Jangan menganggap diri kita yang terhebat berbagilah kepada orang-orang di sekitar kita terutama yang membutuhkan walau itu hanya sebuah uluran tangan maupun cuma sekedar mendengarkan, tak boleh banyak mengeluh justru mensyukuri segalanya karena skenario Tuhan pastilah yang terbaik buat kita. Tuhan selalu punya rencana indah dan itu akan datang bila saatnya tiba.

Dari cerita bapak dan kejadian ini aku belajar banyak hal. Allahuakbar, makasih ya Allah


22/08/13

Semua akan Kembali KepadaNYA

Tepat seminggu yang lalu sekitar jam 14.00 baru nyampe kantor aku mendapat kabar dari ade kalau ayah putra meninggal. Padahal waktu siap-siap berangkat kerja seorang tetangga datang kerumah dan bilang sama ibu kalau ayah Putra keadaannya sudah parah dan pas ibu menengok dan memegang tangan dan kaki sudah dingin cuma badan masih agak hangat, oleh beberapa tetangga laki-laki langsung dibawa kerumah sakit agar mendapat penanganan yang lebih dari dokter, namun setelah sampai di rumah sakit dokter bilang bahwa ayah Putra sudah meninggal sejak berada di rumah. Memang ayah Putra sakit sudah lumayan lama namun yang kita tau beliau sakit bronkitis namun sebelum lebaran tiba katanya sudah sembuh, namun masih obat jalan dan setiap hari banyak obat yang dikonsumsi, lebaran kemaren orangtua Putra juga silaturahmi kerumahku dan memang keadaannya masih lemah waktu salaman juga tangannya masih dingin. Keluarga aku sama keluarga Putra memang sudah dekat karena Putra juga sejak kecil suka main bahkan tidur dirumah sudah dianggap seperti anak sendiri, kebetulan juga rumahnyan hanya berada di depan rumah.

Selama berobat jalan banyak obat yang dikonsumsi dan kata istrinya kalau konsumsi obat badannya jadi bengkak namun jika tidak diminum akan sesak napas. Oleh ibu adeku disuruh melihat obat apa saja yang diberikan dokter takunya salah obat atau tidak cocok obatnya sehingga membuat badannya bengkak, adeku terkejut karena obat yang selama ini dikonsumsi merupakan obat yang digunakan untuk penderita penyakit jantung. Terang saja pada kaget karena almarhum orangnya sangat tenang, saat kecelakaan mobilnya menabrak motor saja ditanya bapak enggak ada rasa deg degan atau pun gemetar maupun panik seperti kebanyakan orang setelah mengalami kecelakaan masak iya punya penyakit jantung. Jika penyakit jantung otomatis makanan yang dikonsumsi harus lebih berhati-hati lagi gak boleh sembarangan apalagi makan asal-asalan di pinggir jalan. Kata bapak memang awalnya almarhum sakit jantung dan paru-paru namun paru-parunya sudah sembuh tinggal penyakit jantung saja.

Saat mendengar berita duka itu yang ada di dalam otakku langsung terpikir Putra... Putra... dan Putra....., entah bagaimana keadaannya, membayangkan semua yang terjadi membuat air mata ini tak dapat dibendung apalagi saat sms sama adeku untuk mengetahui keadaan dirumah duka benar-benar tak dapat kibayangkan. Putra hanya diam membisu dan melihat terpaku melihat kakak, ibu dan sodara-sodaranya yang menangis karena sedih ditinggalkan ayahnya. Entah anak itu mengerti apa enggak kalau dia sudah tidak punya ayah lagi.

Saat pulang kerja jam 22.30an depan rumah sudah ada karangan bunga dan masih dipadati banyak teman-teman almarhum yang kemungkinan dari dosen dan mahasiswa dimana ayah Putra mengajar. Aku melihat Putra yang saat itu tidur di rumah dengan wajah sayu penuh kesedihan disana. Walau masih usia 6 tahun namun Putra sepertinya sudah tau tentang apa yang terjadi, aku akui dia anak yang tegar tak ada air mata hanya memendam kesedihannya dalam hati. Malam itu Putra tidur tidak tenang, sering kaget dan bangun-bangun langsung duduk melihat sekeliling seperti orang bingung lalu kembali tidur lagi. Biar tidak merasa sendiri Putra tidur diapit oleh ibu dan adeku, ini agar dia merasa tenang tidak sepi dan tidak merasa sendirian.

Pagi-pagi bangun tidur pun Putra masih bisa cerita keadaan ayahnya sebelum meninggal, " ayah waktu belum meninggal tubuhnya berubah-berubah tadinya kuning jadi biru lalu sebelum meninggal seperti orang cegukan". Mungkin itu saat dimana rohnya keluar dari raga. Bahkan putra sempat bertanya padaku :
Putra  : " Li kamu nanti dak ikut, ayah mau dimakamin di desa rumah nenek" dengan wajah lelah sambil melihat film kartun di televisi.
Aku     : "ya ikut lah....."
Putra  : " tapi rumahnya jauh buanget lurus... terus... teru... belok kanan teruuuuuuuus.... jauh buanget. Jalannya jelek jembatannya belum jadi"
Aku    : "ya gapapa, aku pengen liat rumah mbah putra...."
Putra  : " nanti capek lho Li....."
Aku    : "kalau capek nanti malam pijitin ya, nanti gantian putra aku pijitin. Kesananya kan bareng-bareng pake mobil pak dhe (ayah aku)"
Putra  : " Li pulang ya...." setelah melihat beberapa karangan bunga yang ada di depan rumahnya
Adeku : " kok pulang ayo mandi dulu...., pulang nanti kesini lagi ya mandi "
Benar saja karena penasaran dengan rangkaian karangan bunga yang ada di depan rumah, Putra pun mendekati dan membaca tulisan yang ada di sana.

Dari sejak ayahnya meninggal Putra sebentar-sebentar menengok jenasah bahkan saat jenazah diberangkatkan ke desa Putra tidak mau ikut di mobil keluarga aku malah memilih ikut ambulan jenazah yang tentunya tidak nyaman dan desak-desakan. Berjalanan yang butuh perjuangan karena desanya memang jauh dan jalannya juga masih tanah bebatuan yang gersang walau banyak tanaman jati di kanan namun masih tetap panas, aspal yang hanya ada beberapa meter itu juga sudah rusak. Wah seperti petualangan, jalan yang naik turun bahkan karena jembatan masih diperbaiki sehingga harus berjalan memutar melewati jembatan kecil dan menyeberang sungai yang saat itu sedang kering, sampai-sampai bus yang ikut rombongan harus menurunkan penumpangnya terlebih dahulu karena tidak dapat berbelok akibat jalan sempit yang di kanan kirinya ada pohon jari dan pohon kelapa.

Selama prosesi Putra selalu ada di dekat jenazah bahkan saat jenasah di semayamkan di peraduan terakhir pun putra penasaran dan melongo-longok apa saja yang dilakukan di dalamnya. Banyak pelayat yang tanya padaku apakah Putra mengerti jika ayahnya sudah meninggal (aku yang saat itu menjaga putra), dengan bangga aku jawab iya dia tau, "apakah dia menangis....???" tidak, hanya memendam kesedihan untuk dirinya saja.

Selamat jalan Bapak Dr. Daman M S.Pd, tenanglah disana dan semoga amal dan kebaikanmu menjadi jembatan menuju surgaNYA. Keharuman namamu untuk memajukan kampung ini menjadi bukti bahwa beliau adalah seorang yang istimewa. Titel S3 yang beliau sandang tak membuat beliau tinggi hati dan sok berkuasa, seorang yang sederhana dan baik hati. Selamat jalan doa kami disini menyertaimu. Aamiin ya Robbal Allamin


07/12/14

Ingin Memeluk Tapi Tangan Tak Sampai

Tadi pagi ketika ingin membuka jendela kamar aku melihat sosoknya lagi asik bermain tali. Lama aku memandanginya sambil dalam hati dilingkupi rasa kangen, sudah lama aku ingin memeluknya, sekedar menghilangkan rasa kangen yang menyelimutiku setiap kali melihat sosok mungilnya.

Putra sekarang sudah besar, dan bertambah kurus. Mungkin inilah yang membuatku miris, melihat dia kurus. Ya memang tak baik juga bila memiliki badan gemuk tapi coba bayangkan dari bayi sampai usianya menginjak 8 tahun tak pernah sekalipun melihat dia kurus seperti sekarang, bahkan baju yang dia pakai kadang saingan dengan ukuranku, jadi mudah saja jika membelikan baju. Tinggal pilih ukuran orang dewasa dipastikan ga bakal kebesaran ataupun kekecilan. Tapi sekarang putra bertambah kurus. Rasanya ingin berlari padanya dan memeluknya tapi bila itu aku lakukan pastinya akan membuatnya takut padaku.

Sejak putra masuk kelas tiga ia sudah tak pernah lagi main kerumah. Dan tadi pagi disela memandanginya dari balik jendela aku teringat pembicaraanku dengan bapak semalam dimana bapak melihat Putra yang sekarang kurus juga merasa kasihan. Apalagi bapak teramat sayang padanya, selalu teringat dengan bocah kecil yang kini sudah mulai tumbuh dewasa ini.

"Kalau lihat Putra kasihan, sekarang tambah kurus"
"Sekarang tidak mau disuruh kesini kok"
"Tidak boleh sama ibunya. Kalau main kesini dimarah-marahi bahkan di pukul"
"Di ajak ibu main kesini ga mau, bahkan ibunya juga menyuruhnya main kesini tapi Putranya yanga ga mau"
"Kalau main kesini dimarahi sama ibunya jelas saja anaknya takut"
"Tapi, kalau ketemu sekarang juga diam saja, bahkan jika mau lewat gitu tau malah milih menghindar pura-pura belok lah, nunggu sambil jalan pelan-pelan lah, bahkan kadang malah ngumpet"
"Makanya itu Putra itu tidak boleh main kesini sama ibunya, dikirain kalau kesini minta ini itu, padahal sini yang ingin membelikan bukan karena Putra yang minta"

Sejak Putra tidak pernah lagi main kesini tubuhnya semakin kurus. Kalau disini dia tak pernah berhenti ngemil, bayangkan kalau tidak ada jajan di bela-belain pergi membelikannya sekantung plastik jajan kesukaannya, kadang juga menyuruhnya beli jaajan sendiri di warung itu juga masih susu sehari 3 kali dan dibuat agak kental. Putra disini sudah seperti anak kesayangan bahkan perlakuan orang tuaku malah melebihi kepada anak-anaknya sendiri kalau sama putra.

Semalam bapak juga mengatakan bila sekarang keluarganya sedang berada dalam masalah keuangan, ibunya tidak memegang uang karena uang pensiun yang seharusnya di terima beberapa kali tidak keluar dan sekarang ini baru di urus
"Enggak keluar bagaimana..." Dengan sedikit ga mengerti ya sebenarnya takut ada kesalah pahaman dengan penalaranku terhadap kata-kata bapak.
"Ya enggak keluar, jadi dari pengurusnya memang tidak dikeluarkan. Mungkin tidak ada ini (sambil membuat tanda dengan ibu jari dengan jari telunjuk yang artinya 'uang') tapi ini masih di urus kesana"
"Lho bukannya yang mengurus itu adiknya Pak Daman yang guru"
"Bukan, yang ngurusi teman-teman kerja suaminya. Adiknya pak Daman malah ga ngerti apa-apa". Aku hanya bisa terdiam mendengar penjelasan bapak.

"Sekarang ibunya Putra kalau beli beras cuma ½ kilo, bapak pernah liat bu Daman pagi-pagi bawa sekantung plastik kecil dari warung ternyata beli beras. Bayangkan beli beras saja sampai ngecer, malah kadang Putra yang di suruh beli. Kalau membayangkan ngeri"
"Lha sudah gitu juga tidak mau usaha, kan bisa jual pop es, atau kalau ga buat roti trus di titip-titipkan buat nambah-nambah".
"Makanya itu. Tapi juga ga nyalahin juga, hidup kaya gitu tekanan lho, jangankan buat beli yang lain buat makan besok saja masih mikir. Kamu belum pernah ngerasain tidak punya uang masih harus bayar ini, bayar itu, belum mikir makan juga. Bapak kan juga gitu kerja dapat uang untuk bayar ini, bayar itu, buat makan kadang ga dapat uang tapi masih harus mikir bayar macam-macam. Kalau di pikir bikin pecah kepala"
"Kamu belum pernah ngerasain ga punya uang tapi juga harus mengeluarkan buat memenuhi kebutuhan jadi ga bisa membayangkan. Bapak saja kalau ngerasain tidak punya uang kepala rasanya mau pecah, budrek"
"Kalau cuma ga punya uang sudah pernah. Lagi ga punya uang sedangkan saat itu lagi pengen beli sesuatu banget pernah kok. Bahkan tidak punya uang, tabungan juga ga ada isinya juga pernah. Ya memang pusing seh"

Mungkin pikir bapak aku masih tinggal ikut orang tua sehingga hasil kerjaku semua aku nikmati sendiri, ya pemikiran bapak tak jauh beda dengan pemikiran teman-teman yang lain dan aku juga yakin semua orang juga akan berpikiran sama seperti itu bila melihatku namun ingat kah tentang 'wang sinawang' pepatah Jawa yang artinya mungkin kita melihat hidup orang lain lebih enak dibandingkan kita begitu juga sebaliknya, dan itulah yang aku pikirkan pada saat itu. Saat itu aku ingin bercerita sesuatu kepada bapak, lebih tepatnya mebuat alibi bahwa aku pernah berada di posisi seperti itu tapi aku urungkan, aku ga mau membuat bapak sedih dan aku juga ga mau dikasihani, bisa-bisa malah bapak menjadi kepikiran bahkan menjadi beban bapak biarkan di mata bapak aku menjadi putri yang baik dan tak pernah kekurangan dalam hal apa pun. Cukup buatku sudah menjadi kelebihan dari yang seharusnya.

Mungkin yang membedakan disini bapak yang penghasilan setiap harinya tak menentu pastinya jauh lebih pusing mencukupi kebutuhan yang seabrek dibanding aku yang gajinya sudah pasti tiap bulannya jadi mau ngapa-ngapain ya mentok segitu kagak bisa di otak-atik sehingga harus benar-benar pintar mengelola dengan membuat pos-pos pengeluaran biar mudah perhitungannya. Sedangkan bapak harus giat bekerja agar dapur bisa ngepul dan bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. (07/12)

Ayahku hebat.

19/10/14

Kangen Mas Pupu




Sekarang aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, aku mendekatpun dia malah beranjak pergi ataupun sembunyi bahkan terkadang lebih memilih untuk pura-pura tak melihat meskipun kita sudah bertatapan meskipun kucoba yang lebih dulu mengawali menyapa dan senyum kepadanya namun dia memilih untuk diam dan mengalihkan pandangannya.

Dia sudah besar sekarang, sudah bisa menentukan sikap maunya apa dan bagaimana. Ya dia sudah pergi dan sepertinya tak mau lagi mengenal kami di sini, dan kami menghargai keputusannya karena meskipun di paksa dia tak akan mau kemari lagi. Sejak puasa kemaren Putra sudah tak mau lagi main ke rumah bahkan selalu menjauh dan mengelak untuk tidak berpapasan dengan kami. Entah ada apa gerangan yang membuatnya berubah begitu dengan cepat, mungkin ada kata-kata diantara kami yang menyinggung perasaannya yang sensitif. Dia memang masih kecil namun pemikirannya jauh lebih dewasa dari umurnya.

Keluargaku mengenalnya ketika dia masih bayi, waktu itu keluarganya yang menjadi tetangga baru yang kebetulan tinggal di depan rumahku, kesibukan ibunya yang mesti mengurusi tukang-tukang yang mengerjakan rumahnya inilah yang sering membuat ibu membawanya ke rumah, kebetulan juga setelah Dila yang juga masih anak tetangga sudah besar dan orang tuanya pindah tidak ada lagi anak kecil yang menyita perhatian dan bisa dipinjam untuk diajak main ke rumah.

Sejak kecil Putra sudah terbiasa di rumah bahkan tak jarang ia tak mau pulang, memilih untuk tidur di rumahku bahkan untuk bisa tidur disini ia sering beralasan menunggu Ayahnya pulang jualan (ayahnya kalau pagi jadi dosen sedangkan sore memantau anak buahnya yang berjualan sepatu) itu juga kalau sudah tidur dan di bopong pulang selalu pakai acara nangis. Kami mengasihinya seperti keluarga sendiri, pakaian, susu, jajan bahkan hingga mainan banyak di rumah. Sampai-sampai sering ada tamu yang salah sangka jika dia cucu di rumah ini. Kalau weekend selalu diajak jalan-jalan meskipun hanya ke toko buku, putar-putar kota ataupun hanya membeli cemilan bahkan belanja bulanan ia sudah menyukainya bahkan menikmatinya dan dia tidak pernah rewel minta ini itu.

Aku ingat jika dia sudah di janjiin untuk pergi pas harinya tiba bakalan di tagih dan tak menerima alasan apapun, aku sering berdalih belum bayaran dan seperti orang dewasa Putra akan bilang "nanti Putra beli pake uang Putra yang diberi pak dhe, uangku kan banyak nanti tak belike jajan wes" hahahahaha.... menggemaskan. Kalau enggak dia akan bilang "hutang Li bayarnya nanti kalau Ti sudah gajian". banyak celotehnya yang tak disangka-sangka, bahkan jika diantara kami ada yang sakit Putra begitu perhatian bertanya ini itu sampai tau lho kebiasaan dan kesukaan kita semua.

Yang aku ingat ketika sudah bergulat dengannya dia tak pernah aku perlakukan seperti anak kecil, gak mau mengalah dan menjatuhkannya ataupun saling tindih adalah hal biasa, sering jika sore tiba berburu sanres bareng aku menggunakan kamera poket dia menggunakan kamera hp dan lup untuk memperjelas (ini dia belajar dariku setelah melihat hasilnya) selalu menyukai acara misteri, antusias bercerita yang dia dengar ataupun dia alami, bertanya hal yang dia lihat adalah sudah menjadi kebiasaan hingga mendapatkan jawaban yang diterima nalar dan ngeyelnya itu lho (bukan aku yang nularin ya) selalu ada saja jawaban untuk ngeless. Kadang bikin jengkel tapi seringnya bikin kangen. Kini hanya tinggal kenangan-kenangan yang bisa aku ingat lewat barang-barangnya yang masih ada disini, foto maupun video tentang keceriaannya yang menghidupkan rumah ini. Miss you mas pupu, Jadilah anak yang pandai, melindungi ibu dan kakak perempuanmu dan sekolah  hingga tinggi biar kaya ayah ya hingga S3 jadi kebanggaan keluarga. Kami menyayangimu dari jauh.


Artikel yang lain:

10/12/14

Punggung yang Sejak Lama Kunanti

Pagi-pagi dari kamar sebelah terdengar keceriaan lagu JKT 48, tumben bener ade perempuanku memutar lagu itu. Sepertinya lagu ini sudah lama tidak terdengar di rumah ini, sambil bermalas-malasan memandangi langit yang sedikit mendung dari jendela yang sudah dari subuh aku buka untuk mempersilahkan udara pagi masuk ke kamar. Apa-apaan ini pagi-pagi sudah berisik, sambil mengingat hari tapi setahuku ini bukan hari sabtu yang sudah menjadi rutinitas pagi-pagi akan terdengar suara berisik dari teman-teman kuliah ade yang selalu menginap di rumah tapi ini rabu bukan sabtu, tidak seperti biasanya yang hingga siang tak terdengar satu suarapun kecuali dialog dari drama korea yang selalu menjadi menu pagi di layar televisi maupun lepi miliknya.

Beranjak dari tempat tidur adalah hal yang harus di lakukan jika tidak ingin berlama-lama merasakan dinginnya malam yang belum seluruhnya menguap terkikis kehangatan matahari pagi. Ketika melewati kamar ade aku melihat seragam putih merah tergantung rapi di pintu dan samar-samar aku mendengar suaranya, benarkah itu suaranya..., ragu. Antara iya dan tidak, apakah aku berhalusinasi karena beberapa hari ini memilirkan bocah kecilku. Tidak. Aku tidak mimpi, ini benar dia yang beberapa hari lalu aku pandangi dari balik jendela tempo hari.

Rasanya lega melihat Putra ada di rumah ini lagi, melihatnya tiduran sambil membawa hp yang berisi lagu-lagu penyanyi favoritnya JKT48, sambil sesekali  menggerakkan tangan dan mengikuti lirik yang sudah pasti dia hafal dengan benar. Ingin mendekapnya namun ada sesuatu yang mendorongku untuk tidak melakukan hal itu lalu aku langkahkan kakiku ke bawah untuk beres-beres rumah berlanjut dengan menikmati segelas teh hangat sambil nonton film drama korea yang kini sudah menjadi agenda rutin jika tidak mendapat jawdal kerja pagi.

Segelas susu, sepiring mangga yang sudah di kupas dan juga cemilan sudah ibu persiapkan untuk Putra, bahkan sudah ditawari ingin sarapan sama apa bayangkan sebegitu pedulinya orang rumah kepadanya. Tak lama Putra pun turun dan main di bawah bersamaku, Aku tak percaya bila ini anak kecil yang dulu selalu ada di rumah ini, yang kemana-mana selalu ikut, selalu di cari bapak ketika seharian tak melihatnya dan selalu tertarik dengan hal yang berbau horror. Bukan sebuah kebetulan sebenarnya karena Putra di titipkan di rumah karena ibunya ada urusan yang takutnya akan memakan waktu lama sehingga tidak bisa jika membawa Putra lagian juga harus sekolah. Putra berubah tidak seceria dulu, aku kehilangan sosoknya yang selalu ceria, kecerewetan dengan segala pertanyaan keingin tahuannya dan pipi buletnya itu kini sudah tidak ada.

Anak kecil ini sekarang menjadi pendiam, tak banyak gerak dan tak terdengar tawa hingga teriakannya seperti dulu. Mas Pupu ku sudah berubah, bahkan dia juga seperti asing di rumah ini, beberapa kali kami sempat saling berpandangan seakan masing-masing saling mencari tau apa yang sedang ada dalam pikiran lawan namun berakhir dengan diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dan juga tak ada yang bisa aku lihat dari dirinya begitu tertutup dan dalam. Tak sanggup memandang mata sayu itu, binar mata yang dulu sering aku lihat hilang entah kemana perginya.

Segala macam makanan yang di tawarkan di tolaknya bahkan susu yang sudah di buatkan pun tak disentuhnya lagi, iba melihatnya seperti ini. Dia perasa seperti halnya aku jadi ketika kami hanya berdua tak ada perbincangan yang terjadi bahkan obrolan yang aku mulaipun tak ada tanggapan darinya. Aku ingin mas Pupu yang seperti dulu, anak yang ceria, pintar, aktif, kritis dan keceriaannya itu kini seakan tak pernah ada, mata binar sekarang terlihat sendu menyimpan sesuatu entah apa. Andai aku bisa melihat apa yang menjadi pikirannya sekarang, anak kecil yang kuat dimana harus dewasa sebelum waktunya dan mengerti tanggung jawab yang menantinya. Mas Pupu beli es krim lagi yoo..., mainanmu masih banyak tertinggal disini, foto juga video kelucuanmu juga masih tersimpan rapi.

Keadaan membuat segalanya berubah, tak peduli siapa orangnya tak pernah ada yang bisa melewati perputaran waktu dan segala proses kehidupan yang selalu berjalan seiring denting yang selalu berirama.

24/03/14

Rumah Boneka Buatan Putra


Pulang kerja Putra sudah ada di rumah, dipanggil-panggil gak nyahut eeeh ternyata lagi asik motong-motong kertas. Memotong dan menempel untuk jadilah rumah-rumahan boneka ala pupu. Kalau di lihat memang bentuknya aneh, namun ketika melihat celotehnya saat memainkan gambar-gambar itu sedikit banyak bisa menghibur setelah capek bekerja. Imajinasi yang tinggi, membuat, memainkan dan membuat cerita sendiri jarang-jarang kan melihat anak yang kreatif kaya gini. Putra memang istimewa dan anak kecil inilah yang bisa membuat rumah menjadi rame kembali dengan ulah dan kepolosannya.

Berbekal gunting Putra mulai memotong-motong kertas lipat yang biasanya dia gunakan untuk belajar origami dan majalah bobo yang beberapa minggu kemaren dibeli ketika berburu buku dan komik bekas pun tak luput jadi sasaran. Guntingan yang tak beraturan gak jadi masalah buatnya dan hasil guntingan ditempel-tempel menggunakan lem. Sedangkan gambar orang-orangan yang ada di majalah di guntingnya juga dan dijadikan objek dari penghuni rumah.

Kalau dulu aku main bongkar pasang yang tinggal memotong-motong menurut pola yang sudah dibuat dari pabrik tapi putra membuatnya sendiri dengan kreasi dari hayalannya. Anak yang gemesin tak terasa sekarang sudah gede padahal sepertinya baru kemaren melihatnya belajar jalan. Suka merengek minta dibonceng berputar-putar tak peduli matahari ada di atas kepala ketika sudah mengantuk.


25/08/13

Kebersamaan Saat Lebaran

Lebaran tiba ada tradisi unik saatlebaran tiba iyalah mudik, segala masyarakat dari berbagai kalangan yang awalnya meninggalkan kampung halaman untuk merantau atau menetap di kota lain akan meninggalkan segala aktifitasnya untuk mudik ke kampung halaman. Mudik menjadi ajang berkumpul bersama keluarga besar, mungkin karena libur di hari raya ini lumayan panjang sehingga mereka tidak kecapean di jalan namun juga harus mengalami pusingnya kemacetan dan berdesak-desakan saat mudik. Setelah kakek ku meninggal tradisi mudik hanya dilakukan oleh bapak kadang dengan adek atau denganku dan itu juga untuk nyekar ke makam orangtua bapak yang keduanya sudah meninggal. Bapak mudik satu hari setelah lebaran karena biasanya pas di hari lebaran banyak tetangga yang datang ke rumah jadi tidak mungkin untuk ditinggal pergi (pastinya orang-orang yang datang akan mengabsen siapa anggota keluarga yang gak ada, bisa capek jawab donk). Walaupun di desa masih ada sodara-sodara kandung bapak namun mereka tidak merayakan lebaran karena seluruh sodara bapak beragama Katolik, jadi tradisi dari keluarga bapak saat lebaran dan natal. Meski tidak merayakan, berada di rumah bu dhe capek juga salaman karena tetangga yang datang untuk halal bihalal datang silih berganti tak putus-putus. Ya karena keluarga bu dhe juga salah satu orang yang disegani jadi hampir satu desa hilir mudik bergantian datang ke rumah. Tradisi yang masih terjaga meskipun jaman sudah berubah, dan satu ciri orang-orang desa yaitu antar tetangga rukun dan saling mengenal bahkan orang-orang di kampung sebelahpun masih pada kenal nah inilah yang tidak dijumpai di kota apalagi di perumahan-perumahan elit.

Seperti tradisi lebaran di tahun sebelumnya setelah menjamu tetangga dan sodara yang datang ke rumah untuk halal-bihalal, aku, ade dan ibu pergi ke rumah bu dhe kakak kandung ibu (kebetulan ibu hanya dua bersodara) yang tinggal tidak begitu jauh dari rumah. Di rumah bu dhe sungguh meriah karena budhe anak dan cucunya banyak, bahkan bu dhe sudah punya cicit dari cucunya yang pertama (biasa nikah muda). Rameee... apalagi keluarga bu dhe pada cerewet semua aaah jadi pusing dah dengernya pada ngoceh semua sampe bingung mau dengerin yang mana.

Ini dia yang unik setiap lebaran keluarga bu dhe selalu merencanakan piknik pergi jalan-jalan, entah ke laut, mancing, makan atau apa sajalah yang jelas pergi bareng-bareng. Tak kecuali lebaran kali ini, karena jumlah keluarga yang banyak jika menggunakan mobil tidak cukup makanya biasanya menyewa angkutan umum agar muat banyak dan ngirit biaya juga. Jangan tanya kalau jalan-jalan aku pastinya tak pernah absen tentunya ibu juga ikut, namun kali ini adeku yang cewek dan putra juga ikut, yaa tujuan awal adeku cuma ingin ngajak muter-muter putra seh sebenarnya. Ibu ikut rombongan bu dhe naik mobil sewaan sedangkan aku adeku dan putra boncengan naik motor, ada juga yang menggunakan motor karena mobilnya tidak cukup terlalu banyak anak kecil. Kali ini tujuannya ke Goa Kreo, jalan tidak sepadat tahun kemaren dan ternyata sebelum singgah ke tujuan awal kita pergi ke tempat pemancingan Sikopek yang terletak di Gunung Pati Semarang.

Kolam Renang
Jalan yang naik turun dan sempit, melewati hutan-hutan dan desa yang masih asli, akhirnya sampe juga ke tempat pemancingan Barokah Sikopek. Wooow pengunjungnya bejubel bahkan tempat yang buat mancing pun seakan tak ada sela penuh sesak apalagi tempat untuk memesan makanan antri panjang buanget. Hadah mau makan ikan saja kaya antri sembako, karena tujuan kita kesini bukan untuk makan makanya tak perlu antri cukub beli tiket masuk ke wahana permainan unuknya disini beli tiketnya tak sesuai jumlah yang ikut, nah kan bingung....???!! inilah uniknya tiket langsung di kasihkan penjaga dan kita semua bisa masuk tangan mendapatkan cap tanda masuk tanpa halangan. Di wahana permainan sama saja penuh sesak seperti di area pemancingan langsung saja cari tempat yang teduh dan tikarpun di gelar. Anak-anak langsung berkeliaran menuju wahana yang mereka suka sedangkan yang lain duduk-duduk berbincang-bincang sambil makan bekal yang dibawa.  


Wah sungguh menggelikan dan pastinya kalian gak akan mengira bekal apasaja yang dibawa. Kalau tahun lalu bekal yang dibawa nasi opor dan jajan lebaran, kali ini kita membawa satu karton pop mie, lalu masaknya bagaimana......??? tenang saja karena 3 termos air panas tak ketinggalan. Hahahaha...., itu bukan seberapa karena masih ada beberapa macam roti, air sirup dalam galon kecil, es batu wah pokoknya komplit dan di jamin kagak bakalan kelaparan deh pergi sama mereka. Kalian bingung ya bawanya bagaimana....??! tenang saja karena semuanya ditaru dalam tas belanja kepasar punya ibu-ibu. Coba deh bayangin bagaimana rempongnya membawa makanan dengan pasukan yang sebegitu banyaknya apalagi anak-anaknya sudah diatur pula. Malah saat acara makan tiba air panasnya kurang sehingga mesti beli dulu deh, dan satu demi satu mie dibuat kalau ngumpul begini makan apasaja berasa enak. Mie satu dos pun habis tak tersisa bahkan ada yang gak kebagian.

Disinilah keseruan itu muncul, kebersamaan yang sangat jarang bisa dijumpai. Melupakan segala aktifitas untuk bercanda bersama keluarga dan kerabat menjadi hal yang sangat berharga. Walaupun rumahku dan bu dhe tidak begitu jauh tapi aku juga jarang maen kesana dan mereka juga jarang main kerumah aku. Hanya ibu saja yang sering main kesana, itu juga mampir saat belanja kalo ga ya pak dhe yang main ke rumah dan ngobrol-ngobrol dengan bapak. Bu dhe juga sudah sakit-sakitan dan kepayahan untuk jalan jauh.

Kebersamaan membuat cerita tersendiri dan menjadikan semuanya berarti. Kebahagiaan itu sederhana dan juga kita sendiri yang buat, jadi buatlah memori kebahagiaan sepanjang hidup kita jangan hidup hanya diisi dengan galau ya. Bersyukur dengan apa yang ada walau itu tak mudah namun jika belajar membiasakan semuanya akan mengalir dengan sendirinya, dan aku sudah buktikan itu walau masih belajar tapi dampaknya sangat luar biasa. Hidup adalah belajar jadi jangan pernah berhenti ya. (L)


Maaf lahir batin yaa.... salam 


06/04/14

Pandangan Mata itu....

Tiba-tiba dia datang menghampiriku dan menatapku lekat lalu memelukku dengan erat. Aku membalas pelukan hangat untuknya. Aku lihat matanya saat menengadah seakan berbicara "aku mohon"  mata yang berkedip-kedip bagai manahan air yang akan menggenangi kelopak matanya.

Aku lihat tas yang dia bawa tergeletak di sudut rak buku yang tak jauh dari kami berdiri.
"Kenapa gak jadi beli..., kok tasnya malah di taruh situ" kenapa heeeem..." 
Tak ada jawaban dari bibir mungilnya hanya pandangan yang tak lepas dariku. Pelukannya semakin erat aku rasakan.
"Jadi beli buku gak...?!" Tanyaku kepadanya untuk meyakinkan kembali.
Lagi-lagi hanya diam dan tak ada jawaban hanya pelukan dengan mata yang sedikit nanar.
"Sana tasnya di ambil" 
"Antar to..." muka itu mensyaratkan keluguan dan sebuah pandangan yang berharap masih terpancar darinya. Aku lepas pelukannya dan berganti merangkul mengantarnya untuk mengambil tas yang berisi beberapa buku yang sudah dipilihnya.

"Ada bukunya Ti", kembali memandangku dengan lekat
"Coba tanya Ti jadi beli enggak...?!" berbalik memandangnya dan masih dalam rangkulanku
"Antar ya....."
"Sendiri ah, sana tanya Ti"
"Sama Li" Aku melihat ada rasa takut mendekatinya
"Ayo......".
Perasaan takut menghinggapinya, entah apa yang sudah dilakukan adiku hingga putra sampai takut untuk mendekat.
Berdiri diantara rak-rak buku beberapa langkah dari Ti, yang masih sibuk memilih-milih buku dengan posisi membelakangi kami.
"Udah sana tanya jadi beli ga bukunya....??!
"Sama Li..."
"Gak kenapa-kenapa...., udah sana tanya Ti jadi beli buku enggak" Dia memelukku lagi dan memandangku lekat.
"Li saja....."
"Ada apa, tadi putra diapain Ti...." Hanya diam membisu sambil mendekap lebih erat
"Ya sudah ayo bukunya di bayar dulu" Kami berdua pun menuju ke kassa untuk membayar buku-buku yang sudah ada di tas belanja.

Entah apa yang terjadi hingga membuatnya tiba-tiba berubah begitu, Sampai-sampai putra tidak berani mendekat apa lagi menyapanya.

Wajah lucu dan menggemaskan yang masih polos, walaupun dia masih kecil namun berpikiran dewasa dan yang lebih menggemaskan dia bisa tau sikon dari orang lain. Walaupun dia cowok namun perasaannya lembut. (L)

22/03/14

Anak yang Kritis

Menemani Putra bermain sambil nonton televisi, setelah tayangan kartun selesai mulailah acara ibu-ibu apa lagi kalau bukan gosip. Kali ini gosip menayangkan tentang gugat cerai istri ginanjar 4 sekawan. Ketika mendengar beritanya sambil bermain sesekali melihat kearah televisi, aku kira tidak peduli dengan acaranya namun ternyata anggapanku salah.

"Heh aneh ya masa suami istri tinggalnya berpisah" beginilah Putra walaupun masih kecil namun pikirannya sudah seperti orang dewasa.
"Harusnya suami istri tinggal bersama to ya"
"Suaminya kan kerja jauh" jawabku menanggapi omongan Putra
" Kan bisa ikut....?"
"Suaminya kerjanya muter-muter"
"Ya gapapa to, ikut muter-muter. Malah enak jalan-jalan terus"
"Suaminya kerja jauh disana tidak punya rumah"
"Ya tetep ikut, kan punya rumah"
"Rumahnya disini kalau disana tidak punya rumah"
"Kan bisa bareng"
"Kerjanya jauh di luar kota nanti kalau istrinya capek gimana"
"Kan bisa dipijiti"

Langsung aku ganti channel televisi dan mencair acara televisi yang menayangkan film kartun atau acara yang cocok untuk anak seusianya walaupun sekarang sangat minim acara untuk anak-anak, sungguh miris. Lama-lama untuk anak-anak juga harus mengadopsi acara TV berlangganan kali ya. 

Kaget juga mendengar hanya melihat dan mendengarkan bisa menganalisa dan memberikan pertanyaan maupun komentar yang sering keluar secara spontan dari anak kecil satu ini. Anak kecil yang kritis dan haus dengan penjelasan-penjelasan yang menurutnya bisa masuk akal dan harus mendapat penjelasan kalau enggak bisa ditanya terus-terusan sampai mendapat satu penjelasan, namun terkadang juga kita tak memberikan penjelasan yang sebenarnya ketika yang ditanyakan belum sesuai untuk seumurannya. Terkadang kata-kata spontannya juga sebenarnya enggak pantas di ucapkan (agak kasar) entah mendengarnya dari mana dan kalau sudah seperti itu sepantasnya untuk menegur dan memberi penjelasan bila kata-kata itu tidak baik "saru" dan tidak boleh di ucapkan lagi.

Jadi intinya mesti hati-hati dalam berucap dan bertingkah laku bila ada anak kecil dalam hidup kita karena sifat anak kecil adalah meniru dalam hal apa pun itu. Sebaiknya mengarahkan yang baik, bila ada pertanyaan jelaskan dengan kata-kata yang mudah di pahami agar tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, karna dengan penjelasan-penjelasan itu pula bisa mengajarkan dan membantu mengasah otak anak untuk tetap aktif dan kritis.

Gara-gara cari remote enggak ketemu-ketemu malah menimbulkan pertanyaan. 

13/06/12

Semua orang di dunia adalah orang penting!

Seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta.

Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur.

Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.
"Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta?" tanya si Pemuda.
"Oh... Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight' ke Singapore nengokin anak saya yang kedua" jawab  ibu itu.
"Wouw..... hebat sekali putra ibu, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

Pemuda itu merenung.
Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaan.
"Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya Bu? Bagaimana dengan adik-adiknya?"
"Oh ya tentu", si ibu melanjutkan ceritanya
"Anak saya yang ketiga seorang Dokter di Malang,
yang keempat kerja di perkebunan di Lampung,
yang kelima menjadi arsitek di Jakarta."
yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto,
yang ke tujuh menjadi dosen di Semarang."
Pemuda tadi terdiam, hebat itu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua dampai ke tujuh.
"Terus bagaimana dengan anak pertama ibu?"
sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab.
"Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar".
Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya bu....., kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedangkan dia menjadi petani?"
Dengan tersenyum ibu itu menjawab,
"Ooo...., tidak tidak begitu nak.... justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani".

Pesan Moral:
Semua orang di dunia adalah orang penting!
Buka mata Anda....
Hati Anda....
Pikiran Anda....
Sudut pandang Anda....
Karena kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum membaca "buku" sepenuhnya.


JANGAN LUPAKAN JASA ORANG YANG SUDAH MEMBANTU ANDA
Orang bijak mengatakan "WHO YOU ARE But WHAT YOU HAVE BEEN DOING"

sumber:dunia pustaka

12/05/13

Wisata Bahari Lamongan ~ WBL

Setelah dari Maharani Zoo & Goa kini saatnnya membedah apa yang ada di Wahana Bahari Lamongan (WBL)

Setelah melewati jembatan penyeberangan kita (kali ini aku pergi sama otong habisnya teman-teman yang lain sudah punya kelompok yang sejiwa sedangkan aku orang yang pecicilan ingin menjelajah semuanya mana mau ngikuti caraku pada tepar semua lah) akan di sambut oleh deretan pedagang yang menjajakan oleh-oleh sebagai buah tangan, namun sebaiknya borong-borongnya nanti saja setelah selesai menjelajah wahana. Tempat wahana ini konsepnya mirip dengan Dufan yang berada di Jakarta. Kini saatnya bersenang-senang menguji adrenalin, bagi yang suka tantangan di sini menyajikan banyak menu permainan yang bikin plong teriak-teriak sampai serak bahkan sampai nangispun bisa. Dengan tiket masuk Anda akan mendapatkan beberapa permainan free namun ada juga beberapa permainan yang harus membeli tiket dahulu sebelum menaikinya, namun harga tiket juga enggak begitu mahal standart bagi wahana permainan.

Mungkin karena long weekend jadi suasana di tiap wahana sudah ramai apalagi masuk kesana juga tengah hari. Berjalan dari wahana satu ke wahana yang lainnya semuanya penuh antrian apalagi yang free berjubel panjangnya, malas juga kan cuma mau naik harus antri panjang udah gitu cuma sebentar pula. Cari dan mencari kaki melangkah menuju wahana rumah kucing tapi agak ragu juga jangan-jangan nanti kucingnya berkeliaran, ngendus-endus oh no..., setelah di pastikan oleh petugas jika kucing ada di kotak makanya aku beranikan diri untuk melihatnya namun sayangnya kucing-kucing pada tidur gak ada aktifitas sedikitpun cuek bebek gak peduli orang-orang berseliweran huft..., kucing malas. Terdapat berbagai kucing dalam kandangnya seperti, angora, kucing siam, dll. (lihat sendiri saja ya, enggak hapal nama masing-masing kucing) Enggak cuma tidur tapi bulu kucingnya juga agak acak-acakan belum ke salon kali ya, tak mau berlama-lama disini karena masih banyak permainan yang patut dilihat.

Capek juga jalan lihat kanan kiri rame antrian gak tau juga mau ngapain akhirnya langkah terhenti di depan wahana ranger. Meluruskan kaki sambil melihat orang-orang yang berteriak-teriak menikmati  putaran permainan. Haus panas-panas gini sepertinya enak minum es belilah es jus yang ada di sekitar wahana aku pesan jus jeruk dan otong jus melon tapi tapi tapi.... weeeeeek jus jeruk rasanya sepeti jeruk busuk hiiii..., lalu aku beli es teh yang memang ada di sebelahnya dan tetap saja enggak enak walau ada lecci, mengecewakan jadi saya sarankan lebih baik belilah minuman mineral atau bawa sendiri dari rumah ya. Melihat putaran rangers saja ngeri, rangers merupakan permainan yang seperti bandul kemudian nanti di ayun-ayunkan seperti permainan columbus (kora-kora) tetapi kecepatannya benar-benar ekstrim yang digerakkan oleh operator, kadang operatornya juga iseng menghentikan pas posisi ada di atas beberapa lama. Lucu juga melihat ekspresi ketakutan yang di tunjukkan orang yang berada di dalamnya. Tak cuma perempuan, banyak juga laki-laki yang berteriak-teriak ketakutan. Ada serombongan anak mungkin kisaran SMP ingin coba-coba tapi waktu wahana mulai di gerakkan dia mulai teriak-teriak dan saat gerakan semakin cepat tangispun mulai pecah teriak-teriak minta turun, bikin ketawa juga liatnya waktu sudah turun masih teriak-teriak ingin segera melepaskan tali pengikat dan seakan ingin berlari dari tempat yang mengerikan itu dengan sedikit sempoyongan dan masih mengusap air matanya diapun berlalu. Pengen mencoba tapi takut, hehehehe...

Setelah berhenti agak lama saatnya menjelajah. Melihat orang-orang yang basah kuyup karena terkena semprot dari jebakan air. Hanya muter-muter melewati permainan-permainan seperti paus dangdut, space shottle, jet coaster, taman berburu, yang memang enggak ada niat untuk menikmatinya. Karena sudah lapar mampirlah ke rumah makan terdekat aku pesan lontong balap sedangkan otong pesan tahu campur baru lihat penyajiannya tidak yakin kalau akan habis termakan dan memang benar makanannya aneh enggak enak sama sekali, cuma sesuap sudah kita tinggalin tu makanan daripada malah keluar lagi kalau di makan mending enggak lah.

Dari awal masuk aku sudah melihat perahu dan ingin maik, sambil sedikit merengek aku ajak otong untuk ke ujung darmaga dan naik perahu dan disana ternyata ketemu beberapa teman yang sedang menunggu makan siang di sebuah warung, Batere HP low, power bank mati ya sudah hanya bisa menikmati permainan tanpa bisa mengabadikannya. Akhirnya kesampaian juga naik perahu tradisional, di tengah laut dengan ombak yang enggak begitu besar serasa bagai nelayan asik bener dah suka suka suka...., ingin naik lagi dan lagi. Pas di tengah laut melihat flaying fox ingin mencobanya tapi otong enggak mau. Mencoba sepeda air dengan petugasnya di kasih dua putaran, lumayan juga genjotnya ternyata nah pas tiketnya kita minta lagi untuk laporan eh ternyata sudah di sobek-sobek sebagai gantinya suruh ngundang teman-teman kita buat naik sepeda air geratis ye sapa yang mau mereka sudah naik duluan tadi.

Waktu cepat berlalu dan saatnya membeli oleh-oleh namun aku dan otong masih berbelok lagi untuk mencoba rumah sakit hantu. Antara ingin dan takut tapi akhirnya berani masuk juga walaupun deg degan dan hanya diam karena benar-benar takut. Coba saja bayangin kalau tiba-tiba keluar pocong waaaaaa....., kita masuk rombongan ada 6 orang barengan dengan seorang bapak dan 3 anaknya mereka pada jejeritan karena kejutan-kejutan dan suara seramnya. Aku sudah tidak berani tengak tengok pandangan lurus ke depan cuma lirik dikit-dikit berasa lama buanget penyusurannya cepat-cepat ingin menemukan pintu keluar tapi kok ya masih ada kelok-kelokan yang panjang dan akhirnya ada keluar exit aman dah, lega setelah melihat cahaya matahari, serem ga mau lagi aah banyak putih-putih disana.

Beli oleh-oleh asik, si kecil putra sms ingin baju, selain beli makanan aku juga beli baju untuk adeku yang cewek dan putra. Di depan pusat oleh-oleh ternyata teman-teman sudah pada kumpul dan wangi pula, ternyata sudah pada mandi. Waktu kumpul masih agak lama aku putusin untuk mandi biarin daripada lengket-lengket gini mending sedikit kena air asin tak apalah, enggak butuh waktu lama karena pas mandi sudah terdengar panitia memanggil-manggil untuk berkumpul. Pukul 16.00 bus melaju menuju Semarang dan wisata pun berakhir.

Dari dua tempat aku lebih suka yang di maharani Zoo & Goa namuan petualangan naik perahu berada di tengah laut juga enggak kalah serunya. Bagi yang penasaran silahkan berkunjung dan nikmati suasananya tapi lebih baik bawalah bekal sendiri karena makanan disana enggak enak lebih baik beli mie cup deh daripada makan di warung yang rasa dan bentuknya gak jelas.



Untu melihat foto-foto lainnya silahkan klik disini

13/05/13

Happy Birthday ....

Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-13 yang jatuh pada tanggal 8 Mei kantor mengadakan acara bakti sosial donor darah dan piknik bersama. Karena tanggal 8 mei jatuh hari rabu sedangkan PMI hari tersebut juga acara padat maka aksi donor dilakukan hari jumat. Dari awal niat banget ingin ikut donor dan sudah mendaftar ke panitia, tapi semingguan sampai hari H tiba batuk ini gak sembuh-sembuh, sedangkan kalau donor 3 hari sebelumnya tidak boleh konsumsi obat sedangkan aku batuk ampe perut sakit gini kalau tidak minum obat bagaimana bisa sembuh coba, apalagi mau perjalanan jauh. Demi bisa donor dan mendapatkan ijin dari ayah beberapa obat sudah aku konsumsi "wedang" atau monuman jeruk nipis hangat gencar aku minum tiap hari tapi ya dasarnya batuk membandel tak mau pergi padahal sudah di kerok sampai badan merah-merah sama ibu gak ada perubahan. Sampai tiap hari bosen denger ayah ngomel suruh minum obat, adeku yang cewek juga bela-belain beliin obat pas pulang kerja bahkan sampai si kecil putra pun juga ikut-ikutan komentar nyuruh minum obat hadaaaah...

Kata ibu batukku ini bukan hanya gara-gara masuk angin "kasep" tapi juga ada salah satu anggota badanku tanpa disadari ada yang "kesliring" ya perlu di urut tapi berhubung tukang urut langganan jauh di tunda sampai pulang wisata biar sekalian pijat capeknya. Untung saja ijin gampang di dapat walaupun mesti pakai beberapa alasan dan alibi yang dapat meyakinkan ayah, hehehehe.... Tapi beneran gak bohong lho alasan yang aku berikan. Yang penting ijin sukses sudah didapat. Horeee....Tumben juga ayah gampang ngasih ijin gak seperti biasanya harus pake perdebatan panjang dan sangat alot untuk disangkal, benar-benar harus putar otak dua kali lipat lebih cepat. Boro-boro mau bilang saja mikir cari alasan dulu kok pake acara-acara takut pula bilangnya.

Hari H tiba Jumat (10/05/2013) pagi aksi donor darah dimulai, aku sudah bilang sama panitia kalau tidak bisa ikut dikarenakan konsumsi obat batuk. Padahal saat-saat ini aku tunggu sejak lama karena takut kalau mau ke PMI buat donor darah, ya sudahlah daripada aku paksakan bohong sama petugas demi bisa donor tapi malah mencelakakan orang yang menerima donor, mungkin lain kali. Piknik diadakan pada hari yang sama dan berangkat jam 12 malam, karena perjalanan jauh agar sampai tempat wisata enggak terlalu siang biar bisa puas menikmati suasana lebih lama maka aku berangkat ke kantor sekalian membawa amunisi selama perjalanan, lumayan juga bawaanku 2 tas dengan 1 tas berisi makanan, pakaian dan perlengkapan mandi tas satunya berisi perlengkapan petualangan (hp, dompet, power bank, kamera, obat-obatan). Tujuan wisata bersama ke WBL (Wisata Bahari Lamongan) Lamongan-Jawa Timur.

Sore perut sudah mulai dangdutan, cacing pada demo minta di isi mungkin juga karena sudah kebiasaan kali ya tiap sore jam makan. Karena masih malas makan nasi aku cuma pesan bakso biasa, namun apa yang terjadi....., bakso habis muka langsung bentol-bentol, ooh no.....alergi kambuh. Tanpa pikir dua kali langsung saja aku minum obat alergi yang sengaja selalu ada di tas dimanapun aku berada biar memudahkan saat keadaan darurat seperti ini. Lama juga bentol-bentolnya hilang, tapi biasanya minum obat gak berapa lama langsung ngantuk menjangkiti ini lumayan lama ngantuk mulai datang tapi..tapi..tapi...pas mau tiduran eeh orang-orang yang ikut wisata ada yang mulai datang. Rajin bener ya padahal masih 3 jam-an dari persiapan keberangkatan. Ya dengan sangat terpaksa ngantuk di simpen buat di bus nanti.

Jam 23 persiapan, dari absen kelompok sampai barang-barang perbekalan sambil menunggu teman-teman yang belum datang. Aku sudah di HM sama mba wid dari awal agar duduk samping dia tidak boleh dengan yang lain. Hahahahaa...
Teng jam 23.48 bus mulai melaju, ini juga gara-gara nunggu 1 orang yang belum datang. Baru kali ini aku ikut tour acara kantor yang jam berangkat tepat waktu, biasanya  pada ngikut jam karet molor gak kira-kira sampe nunggu pun jadi jamur kali saking lamanya. Budaya dinegeri ini yang masih mendarah daging (termasuk aku yang sudah terkontaminasi). Bus melaju dan ternyata pak sopirnya pinter bawanya sangat nyaman dan gak bikin mual.

Jam 6.00 sudah sampai rumah makan buat sarapan pagi yang tepatnya ada di depan WBL, tapi masih harus nunggu 15 menit karena makanan belum siap. Sungguh ramai rumah makannya banyak bus-bus wisata yang singgah dan memang rumah makan ini hanya menyediakan makanan untuk bus wisata. Biar segar sebagian ada yang mandi ada juga yang cuma cucimuka dan sikat gigi karena juga tar di WBL mainan air juga (alasan diterima) aku madi lho, airnya agak hangat dan asin jadi ya tetap saja enggak bikin segar di badan tapi ya lumayanlah daripada badan lengket. Mandi sudah sarapan pun sudah (menu sarapan pagi soto ayam) saatnya menuju ke tempat tujuan wisata yang pertama yaitu Goa Maharani atau Maharani Zoo & Goa dengan berjalan kaki karena jaraknya juga enggak begitu jauh dari rumah makan. Sekitar 10 menit berjalan sampai juga di Goa Maharani tapi masih harus nunggu karena masih kepagian dan untuk laporan kantor pusat kita ada foto bersama. Sambil nunggu jam ada yang foto-foto narsis sebagai bukti sudah sampai sana ada yang ngobrol-ngobrol, dangdutan ada juga yang ngopi di kantin sekitar pintu masuk Goa Maharani.

Setelah 15 menit nunggu akhirnnya buka juga, di koordinir panitia tiket sudah di tangan yang kemudian di bagikan kepada ketua kelompok. Oh iya wisata ini memang sengaja di buat kelompok agar mudah koordinir pertanggung jawaban untuk uang saku yang di bagikan tiap kelompok. Tiket berbentuk lembaran yang nantinya akan di tempel seperti gelang sebagai tanda bukti dan harus yang nempelin petugas. Tiketnya tahan air ini karena Maharani Zoo & Goa dan WBL menjadi satu paket wisata dengan tiket masuk Rp. 90.000,- / orang. 

Untuk mengetahui apa saja yang ada di dalamnya silahkan lanjutkan klik Maharani Zoo & Goa

Setelah puas melihat-lihat binatang dan ini goa di Maharani Zoo & Goa bisa dilanjutkan petualangan ke WBL. Dengan mengikuti arah panah keluar nanti akan melewati sebuah tangga penyeberangan yang menghubungkan area tempat wisata tersebut tapi sungguh nyaman berjalan di jembatan penyeberangan itu yang phobia ketinggian juga jangan hawatir karena samping-sampingya di tutup dengan gambar binatang. Bila sudah sampai ujung tangga Anda akan terpana dengan pemandangan laut biru yang terhampar luas dan di samping kanan jauh mata memandang ada perbukitan hijau yang sepertinya pertambangan batu kapur kalau tidak salah

Petualangan bersambung ke Wisata Bahari Lamongan (WBL) 

Seperti rencana jam 14.00 persiapan kembali ke semarang dalam perjalanan pulang ada beberapa insiden seperti pak polisi yang lagi berusaha membuka jalan akibat ada kabel telepon yang menjulur ke tanah mungkin kesangkut truk yang tinggi, bus yang bersenggolan sedikit saat menyalip (ada bus yang baru berbalik arah) tapi cuma bersenggolan di body belakang, gak keras seh. Sepertinya juga gak ada masalah karena insiden pada P.O sama. Ketikaas bus berhenti untuk melihat luka senggolan anto kebelet pipis dan dengan cueknya pipis di balik pohon deket bus sampai jadi ketawaan temen-temen yang ada di dalam bus. Makan malam ada di warung sea food dan pelayanannya gak karuan bayangin saja kalau pesanan gak sesuai permintaan dan semuanya memesan sea food, bisa dibayangin kan lamanya. Makanan cuma sebagai pengganjal laper saja gak enak dirasa bahkan jeruk hangat tanpa gula pesananku airnya bening perasan jeruk nipisnya cuma sedikit itu juga mengapung di atas, kalau enggak laper dan kaki pegel sudah aku hitung dah berapa butir bulir jeruknya udah gitu rasanya seperti air putih hangat dikasih gula weeeeeek ga enak banget.

Pak sopirnya benar-benar cekatan karena sampai di semarang sesuai perkiraan jam 24.00 lebih sedikit. Setelah bersusah payah bawa barang dan oleh-oleh tak lupa mengucapkan terima kasih buat pak sopir saatnya gantian menggeber si abu menuju rumah. Jalan sudah mulai lengang dan gak bisa ngebut bawaan bener-bener banyak, judulnya kalap belanja. Salah sendiri uang saku harus habis ya sudah di belanjain saja semua. Sampai rumah mandi buat menghilangkan capek-capek tapi no no no..., alergi lagi. Hikh hikh hikh... Kenapa ini apa karena makan cumi di rumah makan seafood apa karena perubahan cuaca ya. 

Dan ini tadi di pertengahan nulis muka aku rasa-rasa semakin tebel dan agak sedikit gatal, benar saja saat diraba sudah bentol-bentol seperti kulit jeruk. Masa harus konsumsi obat terus ya, pada hal tadi sore habis mandi sudah minum obat karena habis ngemil keripik kulit ikan langsung bentol-bentol melanda dan sepertinya habis minum obat sudah mulai baikan tapi kok pas nulis ini kambuh lagi apa yang salah seh.....

Monex Semarang
perjalanan menuju Goa Maharani
Menunggu Tiket buka
Toko penjual cinderamata


Makan Malam
 Pemandangan saat perjalanan pulang





ladang garam

ladang garam