31/10/12

Tiwul "Kenyang Tahan Lama"

Kali ini saya akan sarapan pagi dengan sebungkus tiwul saja aaah...... Pagi-pagi dengan mengayuh sepedanya seorang pedagang sudah berkeliling kampung untuk menjajakan tiwul dan ketan serondeng dagangannya. Dan saatnya sarapaaan....

Tiwul termasuk makanan tradisional yang menjadi makanan pokok penduduk indonesia sejak jaman perjuangan dulu selain nasi, dan kini keberadaan makanan ini sudah tergusur oleh makanan-makanan siap saji bahkan mungkiin sudah dilupakan. Ga percaya coba saja tanya anak-anak jaman sekarang apa mereka masih mengenal tiwul maupun makanan sejenisnya, pastinya banyak yang tidak tahu dan kalaupun disodori belum tentu juga mereka tergoda untuk memakannya. Ini karena mereka sudah terbiasa dengan nasi dan makanan-makanan siap saji yang mudah mereka temukan dan di pinggil jalan maupun di tempat-tempat tertentu.

Walaupun dianggap makanan desa namun tiwul bisa menjadi makanan pengganti beras saat stabilitas dan ketahanan pangan mulai berkurang sehingga nantinya kita dapat mengurangi ketergantungan terhadap padi sebagai bahan pokok utama. Tiwul juga memiliki kandungan kalori meskipun masih di bawah beras namun memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi seperti mengandung lemak, kalsium, zat besi, serta vitamin A dan C. Selain itu, tiwul juga dipercaya dapat mencegah penyakit maag karena tiwul lebih mengenyangkan dan lebih tahan lama bila dibanding dengan nasi yang biasa kita makan.

Makanan yang berasal dari jawa ini terbuat dari gaplek yang merupakan hasil olahan singkong yang telah dikupas dan dikeringkan dengan cara di jemur di bawah terik matahari. Setelah benar-benar kering lalu singkong ditumbuk menggunakan "lumpang" (wadah berbentuk bejana yang terbuat dari kayu atau batu dengan alat penumbuknya terbuat dari kayu panjang dengan bagian tengahnya mengecil untuk pegangan, semacam lesung) dan akan menghasilkan tepung singkong. Dari tepung inilah kemudian dicampur dengan sedikit air dan dibuat menjadi adonan berbutir seperti pasir, setelah itu dikukus selama kurang lebih satu jam, kemudian diritiskan. Untuk memakannya disajikan dengan taburan parutan kelapa diatasnya.

Karena tidak banyak lagi masyarakat yang mengkonsumsi tiwul sebagai makanan pokok sehingga jarang kita jumpai orang-orang pembuat tiwul di jaman sekarang. Untuk mengikuti di era yang sudah modern dan serba praktis ini kita bisa membuat tiwul sendiri di rumah tanpa harus bersusah payah, karena sekarang tiwul sudah dikemas instan dan di pasarkan di supermarket. Walaupun rasanya agak berbeda bila dibanding dengan membuat dan langsung di makan dengan alat-alat yang masih tradisional. Namun bagi yang tinggal di kota besar dan ingin bernostagia dengan tiwul lumayanlah bisa mengobati dan merasakan kenikmatan makanan tradisional yang berasal dari jawa ini. (L)


0 komentar:

Posting Komentar