08/11/14

Perkenalan yang Tak Sengaja

Sabtu (08/11) akhirnya aku menyerah untuk memberikan nomor teleponku pada mas Manu. Aku mengenalnya dari sebuah jejaring sosial yang akhir-akhir ini aku aktifkan lagi untuk menggali korelari, pengalaman dan mengaktifkan kembali otakku yang sudah lama membeku dan sedikit berkarat dengan hal-hal yang tak penting. Aku ingin bangkit dari kesakitan mencoba mengembalikan kepercayaan dan logikaku yang beberapa saat yang lalu seperti mati suri.

Mas Manu adalah orang India yang baru 11 bulan tinggal di Indonesia untuk mengurusi usahanya di bidang mabel ukiran. Jika yang lain panggil Mr aku panggil mas, seperti sudah menjadi kebiasaan hampir semua pria yang aku kenal memanggilnya mas, sebenarnya ia sudah lama meminta nomor teleponku namun tak pernah aku kasih, selalu mengelak dengan alasan-alasan yang kadang tak masuk akal bahkan tak jarang memilih menghindar dengan end chat menganggap semuanya selesai. Lama-lama kasihan juga, apa lagi mas Manu bercerita jika dia di negara ini hanya sendirian dan ingin mencari teman, memfasihkan bahasa Indonesia yang belum begitu bagus. Benar saja ketika chat aku terkadang kesulitan dengan kata yang di ketik karena salah penulisan, kadang juga aku yang bingung mencari padanan kata yang mudah untuk ia mengerti artinya. Memang harusnya lebih mudah berkomunikasi dengan bahasa Inggris karena awal pertemanan mas Manu juga menanyakan apakah aku bisa bahasa Inggris..., dengan lantang aku jawab enggak. Karena aku susah melafalkan, bahasa inggrisku pasif.

Mungkin mas Manu beranggapan untuk mendapatkan nomorku tidaklah mudah karena dia sudah beberapa kali memberikan nomor teleponnya dan berharap untuk aku menghubunginya atau sebaliknya aku akan memberikan nomor teleponku namun itu tak pernah satupun aku lakukan, bahkan menyimpan nomornya saja tidak. Tapi berbeda dengan sabtu ini, ketika dia mengirim pesan padaku dan berkata mengapa tidak ada pesan masuk, berkali-kali melihat layar hpnya hanya untuk melihat apakah ada pesan dariku dan kebetulan tak ada pesan satupun datang dariku. Kelihatan lebay ya...

Karena tak ada pesan itulah siang hari ia berinisiatif mengirimkan pesan yang menanyakan ga ada pesan yang masuk dariku juga berbicara jika ia lagi kesal dengan salah satu pegawai yang berbicara bohong, lalu beberapa saat sesudahnya ia memberi nomor telepon sebelum minta ijin untuk melanjutkan pekerjaannya, nah dari sanalah aku merasakan sedikit iba, aku berpikir saat ini mas Manu membutuhkan teman untuk berbagi cerita, tanpa ragu aku berikan nomorku (tapi bukan nomor asliku, nomor cadangan) namun aku mengatakan untuk tidak meneleponku sekarang melainkan nanti sore saja karena aku masih sibuk dengan coretan-coretanku yang masih tak beraturan dan dia pun mengucapkan terima kasih untuk nomornya yang akhirnya dikasih juga, lalu perbincangan pun berakhir.

Sore hari hp ku berbunyi, aku lihat ada panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal, ternyata itu telepon dari mas Manu. Sedikit susah juga mencari kata yang pas untuk ia mengerti namun untuk orang asing yang masih belajar, bahasa Indonesia-nya sudah cukup bagus. Dalam perbincangan ia bercerita tentang susahnya mendapatkan nomorku, ia beranggapan bahawa sekarang aku sudah percaya setelah mencari tau tentangnya dari berbagai sumber hingga mau memberikan nomor teleponku, bukan... Bukan itu alasannya karena jika aku memberikan nomor takutnya ketika perbincangan aku ga mengerti apa yang dikatakannya hingga takut jika salah pengartian tapi dia bisa mengerti alasanku, orang yang baik. Selain itu ia bercerita tentang kepusingannya hari itu yang dibuat karyawannya karena perkataan yang sering berubah-ubah. Kemaren bilang A sekarang bilang B, dari nada bicaranya ada penekanan dan kekecewaan yang aku tangkap. Waaah bingung juga kan kalau di curhati seperti itu apa lagi dengan orang luar yang belum aku pahami kebiasaan di negaranya sana, namun sebisa mungkin dengan kata-kata yang mudah dipahami aku coba memberikan tanggapan yang bisa ia pahami. Huuuuft... Susah juga perlu berpikir lebih keras untuk mengerti dan agar dimengerti.

Dalam perbincangan itu mas Manu sering memuji, hingga aku, menjadi sedikit besar kepala, tidak menyangka ia begitu tinggi memujiku. Mas Manu bercerita tentang keheranannya karena masyarakat di negara ini (khususnya yang dia temui) setiap menyapanya selalu tak jauh dari uang, entah itu penawaran, masalah pekerjaan atau yang lainnya namun selalu tak jauh dari uang, tapi katanya aku berbeda selama obrolan ga pernah ada modus atau menyinggung tentang uang dan perhatian dari setiap chat selama ini tulus tidak ada modus apa pun, bahkan ia sempat berujar kalau aku sepertinya bukan berasal dari negeri ini. Yaaaah kalau yang ini aku langsung bantah dengan tegas, aku warga negara Indonesia dan berasal dari Jawa. Namun tetap saja penilaiannya kepadaku lain bahwa aku tak sama dengan yang lain, aku beda semua yang aku lakukan padanya benar-benar dari hati, dia menyukainya. Bahkan mas Manu sempat berujar untuk tetap menjadi teman terbaikku sampai kapanpun dan menjadi orang yang paling baik dengannya selama ia tinggal di negeri ini. Aaah terlalu berlebihan seh sebenarnya namun kalau di bantah malah lebih banyak lagi kalimat merdu yang aku kenal.

Lumayan lama juga ia meneleponku, aku lebih banyak mendengar sambil sedikit menjelaskan beberapa hal bahkan dia semat bertanya bagaimana mengeja namaku dan sebagai balasan ia juga menanyakan bagaimana mengejaa namanya dan aku benar, ketika aku tanya arti dari namanya ia bercerita jika Manu adalah orang pertama yangada di muka bumi ini, jadi dia adalah orang pertama dengan kata lain ia manusia purba, hahahha... Guyonan itu juga aku utarakan padanya namun mas Manu menanggapinya dengan santai tanpa marah. Karena terbentur acara minum teh yang setiap sore ia lakukan inilah perbincangan pun berakhir namun sebelumnya ia berpesan agar aku selalu mengirim pesan padanya, karena pesanku lah yang dia tunggu meskipun sesibuk apa pun ia saat itu. Aiiiiih tersanjung sekali mendengarnya...

Oh ya hidupnya sangat terkontrol dan terjadwal secara rapi. Pernah aku bertanya tentang kebiasaannya minum teh.
"Minum teh sendiri apa ada teman..."
"Staip hari sandiri dear" ia memanggilku dear untuk memudahkan saja tanpa ada maksud lain.
"Ga ada teman yang mas percaya"
"Ada teman Aku pasti percaya nama elly. Tapi temany tidak percaya sama saya"
"Aku percaya sama mas. Maksudnya teman disana. Minum teh sambil ngobrol sama teman enak"
"Ada teman tapi tipu sakali"
"Cari yang ga tipu"
"Staip hari becara lagi unag"
"Mas hati-hati jangan mudah percaya. Biar tidak kena bohong"
"Saya Sudah cari tapi jaw sakli nama elly:)
"Kalau begitu aku temani dari sini ya :)

Berkali-kali mas Manu mengajak ketemu namun selalu aku tolak bahkan kapanpun aku mau ia bersedia meluncur menempuh jarak 5 jam perjalanan hanya untuk ketemu tapi belum pernah satu kali pun aku setuju, aku menghindar dengan mengatakan nanti saja jika ia ada acara ke Semarang dan aku ada waktu akan menemuinya. Bahkan ia sama sekali tidak pernah memaksaku untuk bertemu, hanya kalau mau dan ga repot katanya begitu. Mungkin suatu saat nanti aku akan menemuinya, anggaplah menambah teman tambah pengalaman dan tambah wawasan.Ia ga pernah pakai sopir kalau kemana-mana kecuali jika urusan kerjaan. Sudah tidak mau lagi dekat-dekat dengan karyawannya karena menurutnya jika di baiki maka akan ngelunjak ini juga pernah ia ceritakan ketika mengikuti acara wisata bersama karyawannya.

Tinggal di negara orang sendiri tanpa ada sanak sodara juga tak ada teman yang bisa ia percaya maupun ia kenal. Andai itu aku bisa nangis meraung-raung deh tiap hari. Huuuuu... Emang dasarnya aku cengeng aja kaliii... :D

0 komentar:

Posting Komentar