08/03/13

Bagai Tembok Pembatas

Yongsa sejak pertangkaran pertama dikala itu ada yang berubah.... Walau kita sudah baikan lagi namun semakin lama aku merasa ada kehambaran disana, tak aku temukan dirimu yang dulu dan pembicaraanpun hanya itu dan itu saja semakin membuat suasana hampa semakin terasa untung kita cepat menyadarinya dan memperbaiki semua yang salah bersama-sama, menambal yang lubang dan kembali kejalan semula. Walau tak sama persis namun mendingan daripada yang sudah-sudah. Berharap dengan saling menyadari akan bisa menemukan suasana yang sama seperti sediakala.

Dan kita berhasil....., namun itu hanya sementara sebelum pertengkaran kedua karena ke salah pahaman itu aku merasa ada yang berubah. Kita seakan semakin menjauh dan membuat pembatas, yang kita inginkan tak sama dengan ucapan dan yang dipikirkan oleh yang lainnya itu membuat aku kesal namun aku tak mau memaksakan karena tak akan ada guna, kau tak mengerti apa yang aku inginkan walau aku sudah mengatakannya. Kau anggap perkataanku hanya sebagai penghiburan saja, asal kamu tau aku masih ingin ngobrol hingga ngantuk ini mendera. Yaaah..., mungkin kamu gi sibuk aku tak memaksa karena memang tak seharusnya aku menyita seluruh waktumu. Aku sadar....

Entahlah aku tak mengerti dan benar-benar tak mengerti dan tak tau harus berbuat apa karena aku tak suka untuk memaksa. Mungkin ini yang gak disukai terlalu nerimo seakan pasrah dengan apa yang terjadi dan gak ada niat untuk memperbaikinya, kalau itu yang anda pikirkan aku tegas katakan SALAH BESAR.... Aku hanya tak mau ribut-ribut dan terlalu ngotot karena itu akan sama saja dan aku benar-benar gak mau memaksa biar aku saja yang sakit tak masalah asal kau bisa tersentum. Aku ingin sekali memperbaiki semuanya agar lebih baik bahkan lebih dari saat awal-awal tapi...., aku benar-benar gak bisa karena sudah ada tembok yang memisahkan kita. Kau semakin misterius, ingin rasanaya bisa menguak isi otakmu agar sedikit mengerti dan memahami alur dari arah yang kau jalani sekarang namun benar-benar susah.

Dan sekarang kebisuan itu muncul kembali, aku sudah membuat jalur namun saat aku berdiam ingin kamu umpan balik dari kamu namun hanya sekilas pandang. Gak tau lah pusing...pusing....pusiiiiiiiiiiiiing........ Walau aku coba untuk cuek dan gak mikirin ternyata gak bisa. Setiap ada yang terjadi saat itulah otak ini juga ikut berputar dan bagai mengintal benang kusut tak beraturan, tak berbentuk dan aaaaaaaaaaaa.... pusiiiing !!!!!!!

Bila gak diperbaiki dan  tembok yang mulai terbangun tidak segera dirobohkan tak yakin akan mendapati keadaan yang seperti keinginan kita yang ada tembok akan semakin kokoh berdiri diantara kita untuk sedikit-sedikit memisahkan kita hingga menjadi orang asing seperti sebelum kita kenal dulu, kalaupun menyapa hanya sepintas pandang saja gak lebih namun bisa kurang. Kontak hanya menjadi penunggu list saja , dan aku tak ingin itu terjadi...

Dalam hal ini aku ngikut aja, terserahlah kamu mau bilang aku gak berpendirian, gak niat memperbaiki, egois...blaa blaa blaaaa terserah. Suka-suka kamu mikirnya gimana yang pasti aku gak sanggup untuk menghancurkan tembok itu selama gak bisa saling terbuka. Sepenuhnya aku SADAR bahwa keterbukaan akan membuat kita sama seperti monster menyeramkan, tak berkembang, dan semacamnya lah yang akan sangat menyakitkan. Namun pada dasarnya  yang aku ingin simple kok  hanya menghilangkan pembatas dan walau waktu berubah namun tak mengubah yang sudah ada, kalau bisa mempertahankan dan membuatnya lebih kokoh lagi agar tak gampang retak saat disentuh. Semoga.  




0 komentar:

Posting Komentar