28/05/14

Candi Arjuna


Setelah dari Telaga Warna lanjut ke komplek candi Dieng. Begitu memasuki area candi ada pohon-pohon yang cukup melindungi pengunjung dari sengatan matahari yang tidak begitu terik ketika meyusuri jalan setapak yang sengaja di buat untuk memberi kenyamanan pengunjung. Dari pintu masuk terlihat di sebelah kanan-kiri barisan batu yang berbentuk kotak yang dulunya menjadi halaman atau pendopo dari candi. Ciri candi Hindu yang tidak hanya memiliki satu bangunan dan memiliki tempat untuk berkumpul. Di beberapa sudut juga terlihat tumpukan batu yang tersusun rapi, mungkin tidak memiliki gambaran ataupun batunya kurang, tidak ketemu atau hilang untuk disatukan menjadi sebuah bangunan ataupun candi.

Tidak seperti candi-candi lain yang penemuannya tertimbun tanah namun komplek candi Dieng ini pertama kali ditemukan terendam dalam rawa-rawa. Ditemukannya kompolek candi Dieng terjadi pada sekitar tahun 1814, ketika seorang tentara Inggris yang pada waktu itu bermaksud berwisata di kawasan dataran tinggi Dieng secara tidak sengaja melihat beberapa bagian atas candi yang terendam di dalam kubangan air. Baru pada tahun 1856 dimulailah upaya pengeringan dan pengerukan area sekitar kompleks candi. Sejarah candi Dieng sampai saat ini memang tidak begitu jelas, karena tidak ada satupun ditemukan bukti tertulis yang menyebutkan mengenai kapan tepatnya candi Dieng ini dibangun. 

Berdasarkan catatan sejarah, Dieng diyakini sebagai awal peradapan Hindu di pulau Jawa yang berkembang pada masa kejayaan dinasti Sanjaya pada abad ke-8 ditandai dengan berdirinya Dieng ini. Candi-candi yang dahulu di bangun sebagai pemuliaan dewa Syiwa ini kemudian oleh masyarakat setempat diberi nama tokoh-tokoh dalam kisah Mahabarata, seperti Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Bima, Candi Gatut kaca. Bangunan candi-candi Dieng disusun dari batu-batu junis andesit, batu-batu ini berasal dari gunung Pakuwaja yang berada di sebelah selatan komplek candi Dieng. Inilah batuan khas pegunungan Dieng batuan gunung asli jenis andesit.

Bila melihat ke sebelah kanan tepatnya pas di tikungan  ada bangunan yang kita jumpai pertama kali adalah rekontruksi Dharmasala yaitu tempat peristirahatan para peziarah ketika ada perayaan keagamaan Hindu. Diduga candi yang berada di kawasan Dieng ini menjadi candi tertua di pulau Jawa. Tidak seperti kebanyakan candi yang ada di Jawa Tengah lainnya, kawasan candi Arjuna ini tergolong candi kecil. Selain candi Arjuna ada empat candi lain yang masih dalam satu lingkup yaitu candi Semar, candi Srikandi, candi Puntadewa, dan candi Sembadra. 

  • Candi Arjuna
Candi Arjuna merupakan candi utama dalam kompleks candi Dieng ini. Candi Arjuna berbentuk persegi, berada di ujung paling selatan dan menghadap ke arah barat yang ditandai dengan adanya tangga pada sisi barat candi.

  • Candi Semar
Letak candi  ini berada di depan candi Arjuna dan posisinya saling berhadapan. Candi Semar berbentuk persegi panjang dan mempunyai ukuran yang lebih kecil dari candi Arjuna. Di dalam candi Semar terdapat dolmen yang digunakan untuk tempat sesaji (kalau enggak salah ya habisnya mas Obet bilangnya gitu)
  • Candi Srikandi
Candi Srikandi terletak persis di sebelah utara candi Arjuna. Candi Srikandi berbentuk kubus dengan dinding luar dihiasi relief Dewa Wisnu di bagian utara, Dewa Brahma di dinding selatan dan Dewa Syiwa di dinding timur.
  • Candi Sembadra
Candi Sembadra berada di sebelah utara candi Srikandi, atau letaknya paling ujung. Bentuknya seperti kubus di bagian atap dan seperti poligon di bagian tubuhnya.
  • Candi Puntadewa 
Candi Puntadewa letaknya berada di ujung paling utara dari candi. Candi Puntadewa memiliki sebuah ruangan kosong yang sempit di dalamnya. 
Karena asiknya foto-foto dan mengagumi pemandangan beserta awan sehingga jadi lupa untuk mengabadikan tiap candi yang ada di kompleks ini, lagian waktunya juga sebentar kira-kira hanya 1.5 jam doank. Tempat yang tertata rapi dan bersih dengan pemandangan berupa bukit-bikit hijau yang bersembunyi diantara awan putih dengan udara yang sejuk menjadikan betah untuk berlama-lama di tempat ini. 

Bila di Prambanan ada sendratari Ramayana, di Dieng ada atraksi serupa yang dinamakan Tarian Rampak Yarso Pringgodani. Yaitu sebuah tarian yang mengisahkan seorang satria pringgodani menumpas kejahatan yang disimbuilkan sebagai raksasa atau buto. Tarian ini memiliki makna khusus bagi masyarakat Dieng, sebagai perlambang rasa kebersamaan, kesetiakawanan yang didasari rasa peduli, saling tolong menolong demi terciptanya kehidupan yang damai, selamat dan penuh berkah.

Di kompleks ini juga ada segerombolan seniman yang mendandani dirinya seperti raksasa dan hanoman. Pengunjung bisa foto-foto dengan para penari namun dengan menggunakan kamera sendiri, jangan lupa bayar lho ya.

Tinki Winky, Dipsi, Laa laa dan Po. Masihkan Anda mengenal dengan tokoh-tokoh boneka film anak yang tayang di TV di tahun 2000an, masih ingat donk dengan boneka gempal menggemaskan yang suka mengatakan "berpelukan....". Mereka sekarang pindah tayang di komplek Candi Dieng, enggak percaya.... Silahkan main ke kompleks candi Dieng dan buktikan, Empat bersodara ini akan menghibur hingga Anda rela menghabiskan waktu berlama-lama berada di tempat ini.
Narsis dulu ya mumpung suasana mendukung, langit cerah pemandangan seger dan yang terpenting ada yang dengan suka rela menjadi fotografer dadakan. Ingat ya ini sudah perjanjian waktu berada di Telaga Warna jadi tidak ada unsur pemaksaan (lirik mas Mumo). Tapi gara-gara narsis tidak sempat berkeliling candi yang lain dan membuat dokumentasi satu-satu dari candi yang ada di candi Dieng ini. Kalau kalian penasaran silahkan tanya eyang Google saja ya untuk sementara waktu, habisnya waktunya juga cuma sebentar jadi harap maklum.

Waktu kunjungan selesai, melihat Pak Deni lagi gabung dengan pengamen yang saat itu menyanyikan lagunya Slank yang judulnya kamu harus pulang (tuh kan sudah di usir) asik juga suaranya, mendengarkan dan mulai deh beraksi ikut-ikutan mintain sumbangan sama yang lewat yah mumpung EO-nya pada sibuk ngumpulin peserta yang tercecer, tapi pada pelit kagak ada yang ngasih. Tapi nooo musuh bebuyutan ngasih walau dengan embel-embel numpang narsis juga, hahahahha.....

Mas Mogel dan Mas Mumo masih ngitungin yang belum balik, dua orang ini kompak bener yah satu jaga di depan satu di belakang biar kagak ada yang kececer. Yang di belakang masih banyak, mengingat udara sudah mulai panas dan sedikit gerah di sepanjang jalan sedikit bereksperimen berpose semanis mungkin. Apa seh enggak nyambung ya, ya intinya begitu lah foto dengan gaya aneh-aneh tadinya Otong yang memfoto tapi Mas Mumo ikut-ikutan mendukung dengan sekali lagi menjadi pembidik walaupun tanpa henti mentertawai kekonyolanku.

Nah kalau yang satu ini lagi nego sama Pak Budi biar mendapat perpanjangan liburan walaupun sudah tau jawabannya kagak dikasih tapi usaha boleh donk. Boro-boro, bilang senin diliburin saja Pak Budi pura-pura gak bisa mikir alasan otaknya lagi beku (nego pas sarapan tadi). Oh ya ini juga dalam rangka mengadu, gara-gara sepanjang jalan tadi di dongengi sama Mas Mumo tentang beberapa petualangannya juga tentang keindahan gunung Prau udah gitu di pameri foto-fotonya pula. Hikh hikh hikh...., kejam sungguh kejam awas aja kalau sampai membuatku kepikiran dan itu tidak sampai disini masih ada sesi pamer selanjutnya, huuuuuh.... Tahan dulu ya sekarang lanjut ke obyek wisata Kawah sikidang ya. Ayo ikuti...

0 komentar:

Posting Komentar