28/05/14

Dieng Plateau Theater

Setelah menunggu matahari muncul di puncak Sikunir dan berkeliling di Danau Cebong menggunakan perahu, selanjutnya bus pun membawa rombongan ke DPL (Dieng Plateau Theater). Hari sudah terang, di sepanjang jalan terlihat lereng-lereng perbukitan yang digunakan sebagai pertanian penduduk. Carica atau sering disebutnya pepaya gunung yang menjadi buah khas di kota Dieng tumbuh subur di sepanjang jalan yang kita lewati. Pohonnya seperti pepaya dengan ukuran yang lebih kecil, daging buahnya biasanya diolah menjadi manisan ataupun cemilan selain daging buahnya bijinya pun bisa dijadikan sirup namun bisa juga di makan langsung tapi untuk daging buahnya mesti di olah terlebih dahulu untuk menghilangkan getah agar tidak membuat gatal  bila dimakan.

Dieng Plateau terletak di lereng bukit Sikendil, kira-kira 1.5km dari pertigaan masuk Dieng, berada pada ketinggian 2.100m di atas permukaan laut. Dengan di kelilingi taman serta tempat bersantai menikmati pemandangan pegunungan yang mengelilinginya antara lain Gunung Prahu, Gunung Juranggrawah, Gunung Pangonan, Gunung Sipandu, Gunung Nagasari, Gunung Pangamun-amun. dan Gunung Gajah Mungkur. Dieng Plateau Theater sekilas bangunannya mirip Tongkonan rumah adat dari Tanah Toraja ya. Di sekitar bangunan Dieng Plateau Theater terdapat lapak pedagang yang menjual jamur krispi dan juga kentang goreng. Sayangnya saat itu belum minat sama kentang gorengnya mungkin kalau kentang atau ubi rebus mau, kalau jamur...., sementara jangan dulu takut kalau tiba-tiba alergi gak lucu juga kan kalau jalan tapi mata bengkak atau muka bentol-bentol.

DPT (Dieng Plateau Theater) berupa tempat semacam bioskop mini yang menyajikan film dokumtasi yang menjelaskan sejarah dan kehidupan di dataran tinggi Dieng. Film yang diputar berjudul "Dieng Negeri Khayalan" atau God Adabe, memiliki subtitle dalam bahasa Inggris sehingga turis mancanegara juga bisa mengerti sejarah Dieng tanpa menggunakan guide sebagai penerjemah. Film dokumenter yang berdurasi kurang lebih 23 menit ini menceritakan tentang asal mula terjadinya Daratan Tinggi Dieng yang berasal dari amblesnya gunung api tua, kejadian geologi,kehidupan masyarakat Dieng, kejadian kawah Sinila pada tahun 1979 yang menewaskan149 warga di sekitarnya, seni dan budaya, sejarah rambut gimbal anak-anak Dieng, tradisi ruwatan anak gimbal, hingga fenomena terjadinya embun es atau sering disebutnya embun upas yang ada di bulan juni-agustus. 

Sepanjang jalan menuju DPT Anda akan sering menjumpai pipa-pipa nerwarna putih yang bergantungan di jalan-jalan, agak aneh juga seh ya melihatnya bila biasanya pipa-pipa di kubur dalam tanah ini malah bergantungan di sepanjang jalan. Selain pipa yang bergelantungan Anda juga akan melihat pipa PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) yang ukurannya besar mirip ular (kaya anaconda bila pernah melihat filmnya). PLTP adalah salah satu kekayaan alam Dieng. Uap panas yang berasal dari dalam bumi dimanfaatkan di permukaan melalui sumur-sumur pengeboran. Dari tempat pengeboran, melalui pipa-pipa panjang yang membentang di kawasan Dieng, uap panas (steam) ini disalurkan ke pipa-pipa besar menuju Power Plane. Di dalam Power Plane inilah uap panas dipakai untuk menggerakkan turbin atau generator yang mengubah tenaga uap menjadi tenaga listrik.  Selanjutnya listrik di distribusikan untuk kepentingan masyarakat.
Karena ketika sampai disana masih ada pemutaran film dokumenter maka mesti menunggu giliran hingga pemutaran selesai, dan untuk menghemat waktu mending sarapan dulu ya. Jarang-jarang kan sarapan nasi goreng yang sudah dingin sambil melihat perbukitan dengan udara yang masih dingin seperti saat ini. Kalau di Dieng siang pun udara terasa dingin jadi jangan heran kalau masih pada pake jaket ya mengingat udara di kota Semarang yang panas.

Cari tempat senyaman mungkin, nikmati makanan yang sudah tersedia dan duduk tenang. Tapi boleh riques, ada roti gak yaa...., sepotong juga gapapa deh. Nasinya dingin dan keras tersiksaku bila harus begini susah nelannya, memilih hanya memakan lauk (telur dadar, naget dan mie goreng) naget saja lah secuil nanti di gelonggong air biar awet kenyangnya. Oh ya di sini Mas Mumo laku keras lho banyak dicari gara-gara obat pegal yang ia bawa. Nah kan kelupaan foto di batu besar yang ada di samping, padahal keren tu tempat.

Sarapan sudah dan waktunya masuk nonton bioskop di Dieng Planteau Theater, tempatnya enggak begitu besar dengan kapasitas tempat duduk 100 kursi, sok tau memangnya sudah menghitung bisa menyimpulkan begitu. Hehehehehe...., aku kan punya indra ke 10 jadi gak perlu menghitung juga tau, cliiing....
Di dalam malah jadi ngantuk, penyakit habis makan. Tenang mata masih terjaga walau nyawa tinggal separo enggak konsen dengerin kisahnya tapi sedikit banyak nyantel lah apa yang menjadi bahasan buktinya tu udah aku tulis (efek rekaman, hahahahaa....).
Sarapan sudah, mendengar cerita tentang Dataran Tinggi Dieng juga sudah, kini saatnya meluncur ke Telaga Warna. Wuuuuuus.....

0 komentar:

Posting Komentar