08/05/14

Donor Darah... Akhirnya Bisa

Aksi donor darah seakan menjadi agenda rutin untuk menyambut acara perusaan dimana aku bernaung sekarang yang saat ini sudah berusia 14th.
"Mbak ikut donor gak...." Ebru yang bertindak sebagai penyelenggara menawarkan programitu padaku, karena aku masuk sore jadinya tertinggal ketika pendataan.
"Kapan...."
"Tanggal 8 nanti "
"Ikut...."
langsung saja aku putuskan ikut karena di tanggal-tanggal itu menurutku aman, tamu bulanan sudah pergi.

Di hari H menggunakan seragam hijau yang baru pertama kali aku pakai setelah acara wisata ke Lamongan itu juga aku pakai ketika sesi foto bersama doank, gara-gara kainnya panas lebih panas dari yang seragam putih yang kaku, acara di mulai dari jam 9 pagi, banyak juga teman-teman kantor dan orang luar yang ikut berpartisipasi. Setelah pendaftaran dan pengecekan HBku aman, karena memang HB ku selalu bagus, lebih dari 13, kali ini 13,6 walaupun sudah mengetahui jenis golongan darah namun petugasnya tetap mengambil sample darah untuk memastikan kembali, sesuai prosedur bagi yang perempuan mesti dilakukan tes golongan darah sedangkan untuk laki-laki tidak wajib. Ini bukan tanpa tujuan karena masih berhubungan dengan siklus menstruasi yang biasanya datang pada para perempuan.

Dari pengecekan golongan darah, geser ke tempat duduk sebelah untuk mengukur tensi, dengan penuh harap semoga lolos tekanan darah 120/100. Kuncinya hanya menenangkan diri mengontrol kecemasan, 2 tahun yang lalu aku gagal gara-gara tensiku yang tidak memenuhi syarat (darah rendah), tapi kali ini lolos. Horeee horeee horeeeee.......
Walaupun sebelumnya ketika mentensi si embak-embak yang bertugas sempat ngobrol eh bisik-bisik ya pokoknya itu lah bicara tapi aku gak mendengar ketika mau menulis hasil tensiku, sudah ketar-ketir kalau enggak lolos tapi ternyata lolos juga. Sampai-sampai aku sempat mengulang pertanyaan kepada si embaknya untuk memastikan kalau aku lolos. Asiiik asiiiik asiiiiik.... aku bisa donor.

Di dalam masih ada beberapa orang yang masih antri (budayakan antri). Ternyata yang namanya narsis dan mengabadikan momen itu cuma beda tipis ya. Pas enggak bawa HP dan juga gak ada niat juga untuk narsis tapi sempat kepikiran untuk mengabadikan formulir donor juga seh, berhubung enggak bawa aku minta tolong teman teman untuk memfoto-in tapi sepertinya ia lagi sibuk foto-foto teman seperjuangannya jadinya malah formulirku hanya di geletakin begitu saja di kursi tunggu. Iiiih ini orang memang gak dong-dong ya, sabar... sabar.... sabar...... karena aku yang minta tolong jadi mesti rela mau ditiling ataupun enggak, huuuft...

Dan giliranku tiba..., persiapan dari mencari denyut nadi, mengoleskan alkohol dan memasukkan jarum untuk donor, ooh no...saat melihat jarum yang ukurannya lebih besar dari jarum suntik tiba-tiba sedikit deg-degan, lalu untuk menghalau agar tak timbul rasa takut aku memilih untuk memalingkan muka untuk tak melihat proses jarum berkenalan dengan kulit lenganku ini. Sedikit sakit seh tapi untung saja si embaknya pintar, sekali tusuk langsung dapat hingga tidak merasakan tusukan bertubi seperti waktu pertama kali donor.

Sepertinyadarahku tergolong kental, untuk mensiasati si embaknya mengananjurkan untuk menggerakkan telapak jari menutup membuka (mengepal) ini untuk memacu darah mengalir lebih cepat. Benar saja dalam waktu tak begitu lama darah di tubuh sudah berpindah ke kantong, walaupun masih kalah cepat dengan esti yang ada di sampingku dan mulainya juga bareng denganku. Sudah sekantung proses belum selesai, bekasnya mesti di tembel dulu ya agar lukanya menutup dan enggak terkena debu atau kotoran. Embaknya berpesan agar duduk dulu sekitar 10 menit dan tangan yang habis donor jangan digunakan untuk membawa barang yang agak berat (maksudnya di sini bungkusan yang dikasih dari PMI) dan jangan banyak digerakkan. Merasa tak terjadi apa-apa waktu di suruh duduk masih membandel berdiri dan memilih kembali ke ruangan untuk bergantian jaga dengan teman satu ruangan yang ingin donor juga.

Namun aku sempat pendarahan, plester yang menempel di bekas coblosan jarum menjadi basah dan ada darah yang mengintip dari celah-celah plester, ketika aku buka plesternya di sekitar luka keluar gelembung-gelembung berwarna merah, hanya sedikit ya jadi jangan di dramatisir dan lebay gitu deh  :D
"Mas minta kapas sama petugasnya boleh ga ya...?" Tanyaku kepada mas Agung yang saat donor bareng denganku (jadi aku, esti dan mas Agung berjejer bersebelah-sebelahan) dan mulai sibuk kembali dengan lepinya.
"Boleh to, memangnya buat apa"
"Berdarah" Sambil memperlihatkan luka bekas donor yang plesternya sudah agak basah.
"Bentar mas, nitip dagangan ya" Sambil ngeloyor keluar ruangan menuju petugas yang ada di luar.
"Mas kalau minta kapasnya boleh" Kebetulan meja yang ada kapasnya yang berjaga cowok jadinya memanggil mas bukan mbak :D (mulai garing deh)
"Silahkan mbak..." Si mas yang jaga mempersilahkan sambil mempersilahkan untuk mengambil
Belum sempat aku mengambil masnya memperhatikan tangan kiriku yang membuka plester
"Kenapa mba, berdarah ya. Mba massuk saja ke dalam biar petugas mengganti plasternya "
Belum sempat melangkah masuk ada petugas yang keluar dan si mas yang jaga di tempat pendaftaran pun memberi tahu untuk memberikan plester baru untukku.

Sebelum mengganti plaster sekali lagi petugas itu mengusapkan alkohol dan menyuruhku untuk menekan kapas yang sudah ada alkoholnya
"Ini belum menutup sehingga darahnya masih keluar" Masnya menjelaskan sambil menempelkan plester yang baru pada lenganku.

Biasanya kalau donor mendapat bungkusan susu dan telur ini mendapat bungkusan yang isinya pocari, biskuit, dan susu kotak coklat dari PMI dan snack plus minuman kotak sari kacang hijau dari panitia, buanyak dan beraneka ragam walau hanya beberapa yang aku makan dan lainnya di minta teman dan memang kebetulan juga enggak begitu suka.

Bila yang lain habis donor ada yang mengeluh eh merasakan ngantuk (kalau ini mah penyakit di siang hari), lemas, dan pusing tapi kok aku enggak merasakan apa-apa ya. Dari setelah pengambilan darah oleh petugas PMI menyuruhku duduk dulu sebentar agar tidak pusing tapi aku tetap berbincang dengan teman sambil berdiri. Sepertinya donor malah membuatku hiperaktif dan sedikit dehidrasi karena selama seharian itu yang biasanya aku betah duduk berlama-lama di depan monitor ini malah sebentar-sebentar meninggalkan ruangan, kalau enggak menjahili mas Agung, ya ke ruangan lain ataupun sekedar mondar-mandir di ruangan. Tak hanya itu aku juga lebih banyak minum dari pagi sampai siang saja sempat bolak-balik mengisi botol minumku yang tiap hari aku tenteng (kaya anak TK, tiap berangkat sekolah membawa botol minum).

Jadi ingat awal kali klik disini

0 komentar:

Posting Komentar